Yamaha NMax

Sejarah Batu Gilang, Dulu Berfungsi Petunjuk Arah Kiblat

  Rabu, 10 Oktober 2018   Faqih Rohman Syafei
Batu Gilang yang tersimpan di Museum Pusaka Keraton Kesepuhan, Cirebon. (Faqih R Syafei/ayocirebon).

LEMAHWUNGKUK, AYOCIREBON.COM--Museum Pusaka Keraton Kesepuhan, Cirebon menyimpan beragam macam koleksi peninggalan Kesultanan Cirebon. Di salah satu pojoknya, terdapat sebuah batu berbentuk persegi panjang yang merupakan peninggalan Sunan Gunun Jati. 

Batu persegi panjang tersebut oleh masyarakat dinamakan batu gilang. Konon, bila seseorang berhasil mengukurnya sebanyak sembilan kilan atau jengkal, keinginannya akan terkabul.

\"Karena dulu banyak masyarakat yang datang dan mencoba mengukurnya dengan cara di kilan. Jika jumlahnya pas dipercaya keinginannya akan terkabul,\" kata Wakabag Paket Wisata Museum Pusaka Keraton Kesepuhan, RM Hafid Permadi, Rabu (10/10/2018).

Menurut Hafid, tradisi mengukur batu gilang sudah berlangsung lama bahkan telah turun temurun. Tradisi tersebut mengandung makna filosofis yang mendalam tentang kehidupan.

Setiap Muludan banyak masyarakat datang berbondong-bondong untuk bersilaturahmi dengan Sultan, kemudian mereka datang ke batu gilang dan mengelapnya sambil membaca shalawat disertai dengan memberikan sedekah. 

AYO BACA : Besok Siang, Wilayah Cirebon dan Sekitarnya Tanpa Bayangan

\"Ini bentuk kecintaan terhadap benda peninggalan leluhur jadi sekalian untuk membersihkan. Sebetulnya, makna bila ingin sesuatu harus ikhtiar, pelan-pelan tapi hasilnya pasti sehingga semua keinginan dan cita-cita bisa terkabul,\" terangnya. 

Hafid menjelaskan, batu tersebut sudah ada sejak masa Pangeran Cakrabuana pada abad ke-14 Masehi. Dulu, batu gilang adalah bagian dari bangunan Gedong Si Rara Denok Petilasan Keraton Dalem Agung Pakungwati.

Batu gilang merupakan batu yang dibuat rata yang berfungsi sebagai petunjuk arah kiblat timur ke barat. Jenisnya pun adalah batu pualam yang banyka berasal dari luar Pulau Jawa. 

\"Batu ini berfungsi sebagai petunjuk arah kiblat pada masa Sunan Gunung Jati,\" terangnya.

Dia menambahkan, batu gilang tak pernah berpindah tempat, karena sejak awal sengaja di simpang disitu. 

\"Tidak pernah dipindahkan, bahkan hingga kini setelah adanya gedung baru Museum Pusaka Kasepuhan,\" pungkasnya. 

AYO BACA : Hore, Ada Diskon 50% ke Museum Pusaka Kasepuhan


  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar