Yamaha NMax

Tahun Babi, Warga Tionghoa Cirebon Doakan NKRI

  Selasa, 05 Februari 2019   Erika Lia
Salah seorang warga Tionghoa asal Cirebon, Sumantri (77), yang berharap Indonesia makmur sejahtera. (Erika Lia/Ayocirebon.com)

LEMAHWUNGKUK, AYOCIREBON.COM—Sumantri (77), warga Kelurahan Pekiringan, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon, mengamati kertas berisi ramalan yang dipegangnya. Kertas itu dia peroleh sesudah memanjatkan doa di hadapan Dewi Kwan Im atau Dewi Welas Asih di Vihara Dewi Welas Asih, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Selasa (5/2/2019).

Tangannya bergerak ke dalam saku kemeja batik yang dia kenakan ketika Ayocirebon.com menghampiri dan menyapanya. Kertas itu pun sementara waktu tersimpan dalam saku baju Sumantri bersama barang-barang pribadi lainnya.

Dengan ramah dia mempersilakan tamunya duduk. Dia tak keberatan untuk menyampaikan harapannya sebagai warga keturunan Tionghoa pada Imlek ini.

"Saya mencintai Indonesia, makanya saya harap NKRI maju dan rakyatnya makmur sentosa, jauh dari musibah," ungkap pria yang dilahirkan dari orang tua asli Tiongkok ini.

Pria yang pernah mengenyam pendidikan Bahasa Mandarin di Tiongkok selama empat tahun tersebut juga berdoa Indonesia tak jatuh dalam pergolakan politik yang dapat menyengsarakan rakyatnya. Problematika yang tengah terjadi saat ini saja telah mengundang keprihatinannya.

Kondisi sebagian masyarakat Indonesia yang belum sejahtera menyedihkan hatinya. Sementara itu, sebagian warga lain yang hidup lebih berkecukupan, tak lepas dari atensi Sumantri.

"Saya melihat Indonesia belum stabil. Masih banyak rakyat yang susah, sementara para pejabat hidupnya lebih enak tapi kurang memperhatikan rakyatnya," tutur pria yang menguasai lima bahasa ini.

Ragam problematika yang dihadapi Indonesia saat ini, diakui Sumantri, membuatnya merindukan kenyamanan dan keamanan yang pernah tercipta di tanah Nusantara.

Menurutnya, rindu pada kenyamanan dan keamanan layak dimiliki siapa saja yang hidup di Indonesia.

Di sisi lain, dia pun mensyukuri kehidupannya di Cirebon terasa nyaman. Baginya, sebagai tanah kelahiran, Cirebon mampu memberikan suasana harmonis yang dia dambakan.

Namun, terselip kisah getir bagi Sumantri pribadi pada Imlek kali ini. Tahun lalu dia kehilangan rumah yang dijadikannya pula sebagai tempat usaha akibat kebakaran. 

"Setelah kebakaran, saya harus tinggal di rumah kos, sedangkan istri bersama seorang anak kami. Menyedihkan, tapi saya percaya Tuhan tidak akan memberi cobaan di luar kemampuan umat-Nya," ungkap pria beranak empat yang pernah bekerja di Amerika ini.

Dia pun tak lama mengeluarkan kertas berisi ramalan yang tadi sempat dia amati. Diperlihatkan kepada Ayocirebon.com, nyaris seluruh isinya bermateri hal baik yang membuat Sumantri meyakini di balik musibah yang dia alami, hal baik akan selalu ada.

"Saya tetap bersyukur ada keluarga yang masih bersama dan mendampingi saya," tegasnya.

Harapan untuk Indonesia lebih baik juga diungkapkan warga Tionghoa lainnya, Johan Loekito (32), warga Kelurahan/Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, yang memanjatkan doa agar persatuan dan kesatuan semakin erat di tanah Nusantara.

"Imlek kali ini kita jadikan momentum untuk mempererat NKRI. Semoga Indonesia menjadi lebih baik dari sebelumnya, persatuan dan kesatuan pun semakin kuat," paparnya.

Dia tak menghendaki perbedaan dijadikan alasan yang berpotensi merusak persatuan dan kesatuan. Menurutnya, sudah saatnya warga Indonesia secara keseluruhan berpikir dan berbuat demi kemajuan Indonesia.

Tahun Babi ini pun diharapkannya sebagai tahun pembawa keberuntungan dan menjadi penyemangat untuk setahun ke depan.

"Semoga di tahun ini, kita semua lebih baik dari yang sebelumnya," ujarnya.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar