Yamaha Mio S

Eksistensi Penghayat Akur Sunda Wiwitan (1): Bentuk Refleksi Pangeran Madrais

  Rabu, 27 Februari 2019   Erika Lia
Pangeran Madrais dalam potret yang dipajang di Paseban Tri Panca Tunggal, sebuah lokasi aktualisasi diri para penghayat Akur Sunda Wiwitan di Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan. (Erika Lia/Ayocirebon.com)

KUNINGAN, AYOCIREBON.COM--Eksistensi masyarakat Adat Karuhun Urang (Akur) Sunda Wiwitan tak lepas dari sosok seorang pria bernama Pangeran Sadewa Madrais Alibassa Kusuma Wijaya Ningrat atau lebih dikenal Pangeran Madrais.

Seorang pejuang gerakan kebudayaan yang disebut-sebut pernah terlibat pula dalam pemberontakan di Tambun, Bekasi, pada masa kolonialisme Belanda.

Berdasarkan catatan pemaparan sejarah dan spiritual Akur Sunda Wiwitan, Pangeran Madrais konon merupakan keturunan Sunan Gunung Jati asal Gebang, sebuah daerah di Kabupaten Cirebon.

Garis keturunannya berasal dari Pangeran Alibassa yang diturunkan dari Pangeran Suta Wijaya, Pangeran Gebang pertama yang diangkat oleh Sunan Gunung Jati. Pangeran Suta Wijaya sendiri merupakan keturunan keenam.

Mengacu pada catatan yang sama, Girang Pangaping Adat atau Pendamping Komunitas masyarakat Akur Sunda Wiwitan, Dewi Kanti menyebutkan, Pangeran Madrais dilahirkan pada 1832, sebagai hasil pernikahan Pangeran Alibass dengan R. Kastewi, keturunan kelima Tumenggung Jayadipura Susukan. Namun, tempat kelahirannya bukanlah di Gebang, melainkan di daerah Ciawigebang, masih di Kabupaten Cirebon.

AYO BACA : Penghayat Akur Sunda Wiwitan Bersikeras Tolak Kolom Agama dan Kepercayaan

“Pada 1835, Pangeran Madrais dititipkan kepada Ki Sastrawardana di Cigugur, Kabupaten Kuningan,” kata Dewi.

Lahir di zaman kolonialisme, Pangeran Madrais beroleh pesan dari kedua orang tuanya agar kelak meneruskan perjuangan leluhur menentang Belanda. Beranjak dewasa, Madrais mengembara untuk belajar ilmu keagamaan dan spiritualitas.

Selanjutnya, Pangeran Madrais diyakini terlibat dalam pemberontakan di Tambun, Bekasi, pada 1869. Nama Rama Pangeran Alibassa dari Cirebon yang disebut-sebut terlibat dalam pemberontakan itu, menurut Dewi, merujuk pada sosok Pangeran Madrais.

Kala itu, para petani di Tambun melarat sebab kerap diperas tuan tanah. Perjuangan Pangeran Madrais, singkat cerita, didukung rakyat setelah dirinya menyatakan tanah-tanah itu merupakan warisan leluhur. Sayang, pemberontakan itu gagal.

“Kegagalan merebut tanah amparan itu menjadi bahan refleksi Pangeran Madrais. Perjuangan ternyata tak harus dengan fisik dan kekerasan, tapi bisa dilakukan melalui gerakan budaya dengan tanah kelahiran sebagai spiritnya,” papar Dewi.

AYO BACA : Penghayat Sunda Wiwitan Apresiasi Keputusan Kolom Agama di KTP

Meski berasal dari tanah Sunda, Dewi mengingatkan, konteks gerakan budaya yang diperjuangkan Pangeran Madrais bersifat universal. Dengan kata lain, Pangeran Madrais membakar semangat setiap orang dari berbagai bangsa untuk memperjuangkan keluhurannya masing-masing.

“Esensi persoalannya ketika itu, penjajahan telah membuat masyarakat kehilangan cara ciri bangsanya. Dalam pandangan Pangeran Madrais, setiap bangsa harus mengingat dan mempertahankan cara cirinya sehingga digalilah kembali ajaran leluhur,” tuturnya.

Belanda sendiri menyadari, gerakan kebudayaan lebih berbahaya ketimbang gerakan fisik. Pasca pemberontakan yang gagal, Pangeran Madrais sendiri sempat mengembara seraya menyembunyikan identitas dan mengganti-ganti namanya.

Di Jawa Timur, sebagaimana catatan sejarah yang disampaikan Dewi, Pangeran Madrais sempat memakai nama Gusti Ahmad. Dia mengakhiri pengembaraannya dengan pulang dan menikah, sebelum kemudian menetap di Cigugur.

Di Cigugur, Pangeran Madrais konon tinggal di rumah yang kini menjadi gedung Paseban Tri Panca Tunggal. Dewi menyebutkan, dalam arsip surat laporan dari R Kern, seorang penasihat urusan bumiputera kepada Gubernur Jenderal, D. Fock, pada 6 Oktober 1925, disebutkan pengikut Pangeran Madrais sudah ada di Cigugur sejak 40 tahun silam atau sekitar 1885.

“Sejak itu, sedikit demi sedikit bermunculan orang-orang yang memercayai dan menjadi pengikutnya,” ujar Dewi.

Selama menetap di Cigugur, Pangeran Madrais mendirikan padepokan dan menyebarkan pandangan-pandangannya, terutama penguatan kesadaran kebangsaan dan kesadaran kemanusiaan. Pandangan-pandangannya mulai berwujud sebagai suatu tuntunan spiritual yang digali dari kearifan leluhur Sunda.

AYO BACA : Negara Dinilai Inkonstitusi, Penghayat Akur Sunda Wiwitan Cemaskan Diskriminasi


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar