Yamaha Mio S

Eksistensi Penghayat Akur Sunda Wiwitan (3-Habis): Dewi Sri dan Upaya Meluruskan Disinformasi

  Kamis, 28 Februari 2019   Erika Lia
Dapur Ageung adalah salah satu ruangan dalam gedung Paseban Tri Panca Tunggal yang digunakan para penghayat Akur Sunda Wiwitan melakukan olah rasa (semadi/meditasi). Bagi mereka, ibadah adalah ketika mereka menyelaraskan panca indra. (Erika Lia/Ayocirebon.com)

AYO BACA : Eksistensi Penghayat Akur Sunda Wiwitan (1): Bentuk Refleksi Pangeran Madrais

AYO BACA : Eksistensi Penghayat Akur Sunda Wiwitan (2): Tumbukan Interpretasi Keyakinan dan Kepentingan

KUNINGAN, AYOCIREBON.COM- Dalam pandangan masyarakat Adat Karuhun Urang (Akur) Sunda Wiwitan, Sunda bukanlah merujuk pada etnis, melainkan lebih bermakna filosofis. Karena itu, mereka keberatan terhadap praktik-praktik diskriminasi.

Mencoba meluruskan, Girang Pangaping Adat atau Pendamping Komunitas penghayat Akur Sunda Wiwitan, Dewi Kanti meyakinkan, Pangeran Madrais tidak mengembangkan ajaran Sunda sebagai ajaran etnis, melainkan lebih pada spiritualitas lokal. Pengkategorian Sunda sebagai salah satu etnis, dipandangnya merupakan upaya pemerintah Belanda mencegah perlawanan rakyat Indonesia.
 
Menurut Dewi, penghayat Akur Sunda Wiwitan tak ubahnya dengan pemilik keyakinan lain yang memercayai Tuhan Yang Maha Esa. Dalam tuntunan Paguyuban Adat Cara Karuhun Urang, hakekat Tuhan di atas segalanya dan Maha Tunggal.
 
Dalam pemaparan sejarah dan spiritual Adat Karuhun Urang (Akur) Sunda Wiwitan, Tuhan disebut Gusti Sikang Sawiji-wiji. Di sisi lain, para penghayat Akur Sunda Wiwitan juga menokohkan Dewi Sri yang dalam  kebudayaan Jawa dan Bali dikenal sebagai dewi kesuburan, dewi padi.
 
Namun, Dewi menjelaskan, para penghayat Akur Sunda Wiwitan menghormati Dewi Sri sebatas sebagai ibu bumi. Pemahaman itu tak berarti mereka menganggapnya sebagai Tuhan.
 
“Menurut kosmologi kami, Dewi Sri merupakan ibu bumi, kekuatan yang melahirkan kehidupan. Seren Taun adalah bentuk penghormatan dan ungkapan syukur kami terhadap hasil bumi,” ungkapnya.
 
Penghormatan mereka terhadap Dewi Sri setidaknya tampak pada upacara Seren Taun yang digelar setiap tahun. Kegiatan yang telah menjadi salah satu agenda wisata rutin Kabupaten Kuningan ini merepresentasikan rasa syukur mereka terhadap apa yang diberikan bumi bagi kehidupan.
 
Sementara, bagi mereka, kedudukan Pangeran Madrais adalah guru yang menuntun mereka pada kehidupan. Pikukuh Tilu yang diajarkan Pangeran Madrais dipandang sebagai syarat mutlak menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa.
 
Pikukuh Tilu sendiri berkisar pada penyadaran diri sendiri dan sekelilingnya, termasuk menghargai sesama sebagai ciptaan Tuhan YME. Pikukuh Tilu diekspresikan dalam olah rasa atau samadi/meditasi.
 
“Ini adalah metode olah rasa terhadap panca indra. Keyakinan kami adalah menyelaraskan, kata tak sekedar ucapan melainkan harus sesuai dengan pikiran dan perbuatan,” katanya.
 
Olah rasa ini dilakukan penghayat Akur Sunda Wiwitan setiap menjelang matahari terbit dan tenggelam. Waktu tersebut dipandang sebagai masa transisi yang efektif dalam upaya mereka menyelaraskan diri dengan semesta.
 
Dalam implementasinya, mereka melakukan pengolahan nafas di mana nafas dianggap sebagai inti kehidupan. Aktivitas itu bisa dilakukan secara masal di Dapur Ageung dalam gedung Paseban Tri Panca Tunggal maupun di rumah masing-masing.
 
Selama meditasi, mereka menyalakan api. Bagi mereka yang melakukannya di Dapur Ageung, api dinyalakan dalam sebuah tungku perapian berukuran besar di tengah ruangan, yang berhias empat naga pada keempat sudutnya dan sebuah mahkota. Sementara, bagi yang bermeditasi di rumah, api dinyalakan pada lilin.
 
“Itu sebabnya kami pernah dianggap sebagai penyembah api,” cetus Dewi seraya terkekeh.
 
Padahal, jelasnya, api yang mereka nyalakan merepresentasikan energi sebagai pendukung kehidupan. Api memiliki dua sifat, baik yang mencelakakan maupun yang membawa pengaruh positif. Bagi penghayat Akur Sunda Wiwitan, api harus dikendalikan agar tak membakar dan membawa sifat celaka.
 
Olah rasa yang dipimpin pupuhu adat berlangsung 30 menit hingga satu jam. Syukur kepada Tuhan YME karena telah diberi nikmat pun mereka panjatkan dalam olah rasa itu.
 
Selain olah rasa, para penghayat Akur Sunda Wiwitan juga melakukan penguatan kepercayaan diri dan meneguhkan tradisi untuk jati diri. Menurut Dewi, di tengah stigma negatif yang masih mendera, mereka tetap harus menunjukkan eksistensi melalui karya dan darma.
 
Sebagai salah satu strategi bertahan, mereka pun terbuka terhadap zaman. Hanya, mereka tetap menyeimbangkan diri dengan ajaran spiritual leluhur.
 
“Masyarakat yang mampu survive (bertahan) adalah yang terbuka dengan zaman. Tapi, kami seimbangkan dengan ajaran basic spiritualkami,” tegasnya.
 
Untuk menjaga nilai-nilai karuhun, pihaknya melakukan metode pendekatan, di antaranya melalui taman atikan dan surasa. Taman atikan serupa dengan pendidikan informal bagi anak-anak usia dini yang dibentuk sejak 2012, yang mengajarkan pendidikan karakter melalui sejarah keteladanan.
 
Sementara, surasa lebih menyasar penghayat berusia remaja dengan kegiatan berupa diskusi. Digelar rutin setiap minggu dan bulan saat libur sekolah, diskusi dalam surasa juga memaparkan sejarah maupun kondisi kekinian.
 
Dewi meyakinkan, secara umum, penghayat Akur Sunda Wiwitan juga melibatkan diri dalam kegiatan sosial kemasyarakatan di berbagai bidang, tanpa memandang suku, agama, ras, maupun golongan. Baik kegiatan yang datang dari pemerintah maupun masyarakat itu sendiri.
 
“Ini merupakan upaya kami meluruskan disinformasi soal Akur Sunda Wiwitan. Kami tetap bagian dari sebuah negara, yang punyak hak untuk setara,” tegasnya.

AYO BACA : Negara Dinilai Inkonstitusi, Penghayat Akur Sunda Wiwitan Cemaskan Diskriminasi


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar