Yamaha Mio S

Gaet Wisatawan Muslim dengan Tren Wisata Halal

  Senin, 04 Maret 2019   Fira Nursyabani
Gedung Balai Kota Cirebon sebagai lambang Pemerintahan Kota Cirebon. Untuk mengundang wisatawan, Pemkot Cirebon membuat tagline city branding bertajuk 'The Gate of Secret'. (Erika Lia/ayocirebon.com)

HARJAMUKTI, AYOCIREBON.COM -- Wisata halal bukan wacana baru dalam industri pariwisata. Sejumlah negara di Asia seperti, Jepang, Thailand, Korea Selatan, dan Malaysia, serta negara-negara di Eropa terutama Rusia, sudah mulai mengimplementasikannya.

Tren wisata ini mendapat sambutan baik dari wisatawan Muslim dari seluruh dunia. Bahkan, saat ini, kota-kota di Jepang seperti Tokyo, Osaka, Hokkaido, dan Himeji, sedang menargetkan wisatawan Muslim asal Indonesia dengan serius menggarap wisata halal.

AYO BACA : The Gate of Secret, Undangan Kota Cirebon untuk Wisatawan

Anggota DPD RI Fahira Idris mengungkapkan, saat ini banyak negara yang sedang berlomba menarik wisatawan Muslim dunia. Mereka menyediakan berbagai fasilitas pendukung seperti hotel, café, spa, tempat makan, fasilitas ibadah, dan toilet yang bisa memenuhi kebutuhan dan kenyamanan wisatawan Muslim selama berlibur di sebuah destinasi wisata.

Potensi wisata halal ini menggeliat seiring terus tumbuhnya nilai transaksi pasar wisata Muslim. Berdasarkan perkiraan Global Muslim Travel Index (GMTI), nilai transaksi wisata Muslim bisa mencapai 220 miliar dolar AS pada 2020.

AYO BACA : Tak Hanya Sarana, Pariwisata di Cirebon dan Jabar Butuh Pula Ini

“Jadi (wisata halal) lebih ke pengembangan fasilitas dan peningkatan layanan di berbagai destinasi wisata bagi wisatawan muslim agar lebih nyaman saat berlibur," ujar Fahira dalam pernyataan resminya.

"Jangan karena ada kata ‘halal’, persepsinya menjadi bahwa sebuah daerah wisata akan dirubah budayanya. Padahal ini kan lebih ke soal fasilitas dan pelayanan, bukan atraksi budayanya dibatasi apalagi diganti sebab itulah daya tarik wisata daerah tersebut,” tambah dia.

Walau mengembangkan wisata halal, sambung Fahira, Tokyo akan tetap jadi Tokyo dengan keunikan budayanya. Bali tetap akan menjadi Bali dengan berbagai kekayaan dan keindahan atraksi budaya serta kearifan lokalnya yang sudah sangat terkenal di dunia.

Menurut dia, wacana wisata halal sebaiknya dilihat dari ikhtiar dan upaya untuk menjadikan pariwisata benar-benar menjadi andalan dan tulang punggung perekonomian bangsa. Karena memang, industri pariwisata adalah industri yang paling tahan terhadap ancaman gelombang krisis.

“Jadi jangan dipersepsikan atau dibenturkan dengan budaya setempat. Karena wisata halal ini adalah salah satu cara pengembangan wisata untuk menangkap peluang dan memajukan industri pariwisata,” jelasnya.

AYO BACA : Siap-siap Naik Citros Maret Nanti, Ini Tarif dan Rutenya


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar