Yamaha NMax

Memperjuangkan Bagus Rangin (2): Inspirasi Heroisme

  Senin, 25 Maret 2019   Erika Lia
Budayawan dan sejarawan Rahmat Iskandar memaparkan pandangannya saat menjadi pembicara pada Seminar Nasional Pengusulan Ulang Bagus Rangin Sebagai Pahlawan Nasional, di Aula Barat Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Kamis (21/03/2019). Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat sangat mendukung upaya pengusulan Ulang Bagus Rangin, atau Ki Bagus Rangin sebagai Pahlawan Nasional, beliau merupakan seorang pahlawan yang berjuang, sekitar tahun 1802-1818, melawan Belanda di wilayah Ciayumajakuning, hingga Su

KEJAKSAN, AYOCIREBON.COM--Sumber seputar profil Bagus Rangin sampai sekarang terhitung tak banyak. Sumber yang ada pun memiliki versi yang tak sedikit.

Dari hasil penelusuran sumber-sumber tertulis yang dilakukan salah satu anggota tim penulis riwayat Bagus Rangin dari sisi historiografi tradisional pada Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Jawa Barat, Eva Nur Arovah, Bagus Rangin berasal dari daerah di Kabupaten Majalengka. Menurut sumber yang didasarkan dari isi Babad Dermayu itu, Bagus Rangin disebut anak dari Sentayem yang dilahirkan pada 1761.

“Ayahnya seorang kyai besar dan memiliki banyak santri kala itu,” tutur Eva kepada Ayocirebon.com, Senin (25/3/2019).

Dia menyebut, sumber lain menyebutkan, Bagus Rangin adalah cucu Pangeran Suryakusuma, cucu dari Pangeran Jayanegara, dan anak dari Pangeran Suryadiningrat atau Ki Bagus Arsitem yang tinggal di Kertajati, Kabupaten Majalengka.

Ada pula yang menyatakan, Bagus Rangin yang ketika muda bernama Pangeran Atas Angin atau Pangeran Bagus Rarangin, merupakan anak dari Ki Bagus Sentayem atau Ki Bagus Tenom yang sebenarnya Pangeran Suryadiningrat, keturunan Syekh Idrus atau Pangeran Jayanegara, putra Sultan Zena Zainuddin (hidup pada abad ke-17) dari Keraton Kasepuhan Cirebon.

AYO BACA : Memperjuangkan Bagus Rangin (1), Melawan Skeptisisme

“Pendapat ini agak mirip dengan catatan yang terdapat dalam naskah Sejarah Wiralodra yang ditulis sekitar 1818-1913,” tambahnya.

Dalam deskripsi sejarah ini, Bagus Rangin memiliki leluhur Sultan Kasepuhan, Sultan Sena Zainuddin. Ayahnya, Ki Bagus Arsitem atau Buyut Arsitem dikenal sebagai ulama besar yang menikah dengan putri Rajagaluh di Majalengka.

Di masa dewasanya, Bagus Rangin dicap pemerintah kolonial sebagai sebagai pemberontak karena menolak perundingan. Bagus Rangin juga, kata Eva, membantu penduduk lokal melawan Belanda sebagai protes kebijakan wajib kerja untuk pemerintah Hindia Belanda di Bantarjati.

“Periode semasa Bagus Rangin hidup merupakan fase yang ditandai adanya keresahan dan pergolakan. Pergolakan itu timbul setiap kali seorang raja meninggal, seringkali disertai pertikaian dan perebutan kekuasaan hingga perpecahan,” paparnya.

Perpecahan itu, lanjutnya, tambah parah akibat campur tangan pemerintah kolonial yang mengadu domba dan mengambil keuntungan dari situasi itu. Di sisi lain, dari segi ekonomi, kekuasaan terhadap sumber ekonomi Cirebon dimonopoli penjajah.

AYO BACA : Seminar Nasional Pengusulan Ulang Bagus Rangin Sebagai Pahlawan Nasional

Dia menambahkan, di pesisir, VOC dan pemerintah Hindia Belanda mengambilalih perdagangan, tempat-tempat strategis, rute-rute pelayaran, sekaligus memperoleh kontrol atas harga-harga komoditi dari para petani. Bagus Rangin diketahui memimpin salah satu perang terkenal di Cirebon yakni Perang Santri atau Perang Kedongdong, di mana perlawanannya melibatkan pula kalangan santri dan para kyai.

Perlawanan Bagus Rangin terhadap Belanda secara keseluruhan diketahui terjadi di Cirebon, Indramayu, maupun Majalengka, serta dalam waktu lama. Eva membeberkan, secara singkat, perlawanan itu setidaknya dapat dibagi dalam dua tahap, masing-masing pada 1802-1812 dan 1816-1818.

Pada periode pertama, memimpin para pengikutnya, Bagus Rangin melakukan perlawanan di dalam dan luar wilayah Karesidenan Cirebon. Di periode ini diketahui, Bagus Rangin gagal ketika hendak membangun negara Panca Tengah.

“Upaya itu gagal setelah Bagus Rangin dan beberapa pengikutnya ditangkap pemerintah Hindia Belanda pada 1802,” cetusnya.

Perlawanan pada periode kedua dipimpin Bagus Jabin dan Bagus Nairem. Pusat persembunyian dan perlawanannya meliputi daerah Jatitujuh, Waringin, Baruang Kulon, Bantarjati, Pamayahan, Depok, Ciminding, Sumber, Gegunung, Watubelah, Nagarawangi, Pagebangan, dan Sindanghaji. Sementara peta pergerakannya meliputi Majalengka, Sungai Cimanuk, Indramayu, Karawang, Subang, Plered, Palimanan, Susukan, dan Kedongdong.

Eva mengatakan, selama masa peperangan itu, Bagus Rangin menggunakan strategi perang gerilya dan perang terbuka dengan menggunakan sejumlah istilah. Istilah itu di antaranya buaya mangap, tutup kembu, dan gelar suluhan.

Perempuan berhijab ini menuturkan, perlawanan Bagus Rangin terhadap Belanda setidaknya memakan waktu hingga 20 tahun lamanya. Tak hanya memakan banyak korban dari pihak Bagus Rangin, perlawanan itu juga membuat Belanda dan sekutunya kerepotan.

“Dalam Babad Dermayu disebutkan, penumpasan gerakan Bagus Rangin Indramayu oleh Belanda nyatanya membuat pemerintah Belanda merugi banyak,” tandasnya.

AYO BACA : Ridwan Kamil Usul Bagus Rangin Jadi Pahlawan Nasional


  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar