Yamaha Aerox

Ada "Jeh", Ada Cirebon

  Minggu, 07 April 2019   Erika Lia
Kirab Nadran masyarakat Cirebon. (Faqih Rohman Syafei/Ayocirebon.com)

HARJAMUKTI, AYOCIREBON.COM--Masyarakat Cirebon sehari-hari lekat dengan kata "Jeh", salah satu kata yang menandai ciri khas kedaerahannya.

Masyarakat Cirebon yang berada di pesisir pantai utara Jawa ini sehari-hari menggunakan bahasa Jawa Cirebon yang diyakini merupakan bahasa mandiri. Bahasa Jawa Cirebon atau Bahasa Cirebon rerata digunakan masyarakat Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, dan Kabupaten Indramayu.

Meski, ada pula kawasan-kawasan tertentu di Kabupaten Cirebon yang menggunakan bahasa Sunda. Bahasa Sunda terutama digunakan masyarakat di Kabupaten Kuningan maupun Kabupaten Majalengka yang menjadi daerah tetangga Cirebon dan satu wilayah pula dengan Indramayu yang disebut Wilayah Ciayumajakuning.

Kata "Jeh" seringkali hinggap pada kalimat-kalimat yang dipercakapkan masyarakat Cirebon dalam kesehariannya. Kata ini, dengan bunyi vokal 'e' seperti mengucapkan kata "enak", biasanya terdengar di akhir kalimat.

AYO BACA : Kirab Budaya Cap Go Meh, Ruang Ekspresi Seni Budaya dan Ritual Keagamaan

"Kata 'Jeh' lebih mengarah sebagai penekanan atau penegasan dari pernyataan orang yang mengucapkannya," terang Ketua Lembaga Basa Lan Sastra Cerbon, Nurdin M. Noer kepada Ayocirebon.com, Minggu (7/4/2019).

Secara etimologi, imbuhnya, kata Jeh berarti "katanya". Kata ini diyakini berasal dari bahasa Sanskerta yang lumrah digunakan masyarakat Cirebon dan sekitarnya, seperti Indramayu.

Menurut Nurdin yang juga dikenal sebagai budayawan Cirebon ini, Bahasa Cirebon sejatinya adalah bahasa sanskerta kontemporer.

"Sekitar 80% kosakata Sanskerta diserap ke dalam bahasa Cirebon," ujarnya.

AYO BACA : Sultan Cirebon: Ayo Jalan-jalan di Lembur Sorangan

Selain kata Jeh, kosakata lain dalam bahasa Cirebon yang merupakan serapan bahasa Sanskerta di antaranya "sira" (kamu), "isun" (saya), "endas" (kepala), dan beberapa penyebutan untuk nama-nama anak binatang, seperti cemera (anak anjing), gogor (anak macan), bledug (anak gajah), belo (anak kuda), dan lainnya.

Bahasa Cirebon disebutnya sudah ada sejak bahasa Sanskerta itu dibawa orang-orang Jawa yang datang ke tanah Cirebon sekitar 1526. Sebelumnya, masyarakat Cirebon menggunakan bahasa Jawa kuno dalam kesehariannya.

Kemudian, dalam perjalanannya, keberadaan orang-orang asing dari India, Cina, maupun Arab, menambah ragam bahasa Jawa yang sudah ada. Nurdin mengatakan, situasi itu membuat Cirebon memiliki bahasa tersendiri yang disebut Caruban atau berarti campuran.

Mengutip hasil penelitian Balai Bahasa Jawa Barat, ungkap Nurdin, 76% bahasa Cirebon berbeda dengan bahasa Jawa lain seperti yang berlaku di Kesultanan Yogyakarta, Solo, maupun Jawa Timur. Dengan kata lain, bahasa Cirebon merupakan bahasa baru yang mandiri.

"Bila mengutip teori pakar linguistik dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. Multamia Lauder, suatu bahasa dikatakan mandiri bila 70% bahasanya berbeda dengan bahasa lain. Dalam hal ini, bahasa Cirebon memiliki perbedaan 76% dengan bahasa Jawa sehingga bisa disebut bahasa yang mandiri," paparnya.

Saat ini, Nurdin menilai, bahasa Cirebon menghadapi ancaman kehilangan kosakatanya. Sifat masyarakat Cirebon yang tergolong terbuka menjadi salah faktor yang menyebabkan kondisi ini.

"Bahasa Cirebon sedang kejang-kejang, rentan kehilangan kosakata bahasa Cirebon kuno. Ini mengingat masyarakat Cirebon mudah terpengaruh karena sifatnya yang terbuka," tandasnya.

AYO BACA : Kirab Budaya Cirebon Menggantikan Gelaran The Caruban Festival


  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar