Yamaha NMax

Warisan Laksamana Cheng Ho di Cirebon, Mulai Nama Tempat Hingga Produk Budaya

  Kamis, 18 April 2019   Erika Lia
DR. Rafan Hasyim M.Hum, seorang filolog Cirebon yang menelusuri jejak-jejak Laksamana Cheng Ho di Cirebon. Untuk ini dia telah menulis sebuah buku yang belum diterbitkan. (Erika Lia/Ayocirebon.com)

KEDAWUNG, AYOCIREBON.COM--Cirebon diyakini sebagai salah satu dari sembilan titik persinggahan Laksamana Cheng Ho dari Cina. Peninggalannya bertahan hingga kini, salah satunya berupa produk budaya.

Filolog Cirebon, Rafan Hasyim menyebut, keyakinan Cheng Ho pernah singgah di Cirebon muncul setelah dirinya mengulik naskah Purwaka Caruban Nagari yang ditulis Pangeran Arya Cerbon pada 1720. Cheng Ho dipercaya pernah singgah selama tujuh hari tujuh malam di Pelabuhan Cirebon pada 1415.

"Dari naskah itu diketahui, daerah di Kabupaten Cirebon yang kini dinamakan Celancang adalah lokasi awal berlabuhnya armada Cheng Ho. Celancang dulunya masih berupa lautan dan sebagai tempat kapal ditambatkan. Pelabuhannya ada di sana yang disebut Muarajati," bebernya ditemui Ayocirebon.com di kediamannya di kawasan Kecamatan Kedawung, Kamis (18/4/2019).

Pada masa itu, lanjutnya, Cirebon dalam kekuasaan Keratuan Singapura yang merupakan fasal dari Kerajaan Galuh di Ciamis. Wilayah Keratuan Singapura sendiri, bila mengacu pada hukum kewilayahan administratif saat ini, meliputi Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, termasuk Kabupaten Indramayu.

Keratuan Singapura ketika itu diperintah Ki Gedeng Tapa. Kedatangan Cheng Ho bersama 23.000 armada kapalnya disambut Ki Gedeng Tapa.

"Cheng Ho ketika itu dalam pelayaran niaga. Tujuannya ke Kerajaan Majapahit di Semarang, Jawa Tengah," jelas Rafan yang akrab disapa Ofan ini.

Di tengah pelayarannya saat tiba di perairan Karawang, armada kapal Cheng Ho terkena badai. Dia pun memutuskan singgah di Pelabuhan Muarajati untuk memperbaiki kapalnya yang rusak.

Selama di Cirebon, Cheng Ho diyakini pula berniaga di Cirebon. Dia di antaranya membeli kayu jati, beras tumbuk untuk perbekalannya ke Semarang, hingga membeli rempah-rempah, termasuk terasi dan garam yang banyak dijumpai di Cirebon.

AYO BACA : Laksamana Cheng Hwa Berandil Besar di Awal Penyebaran Agama Islam di Jabar

"Tujuan orang asing ke Nusantara kan untuk memperoleh rempah-rempah, termasuk Cheng Ho," ucap Ofan yang juga dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nur Jati Cirebon.

Rempah-rempah yang dicari Cheng Ho, katanya, diperoleh dari wilayah Kabupaten Kuningan maupun Kabupaten Majalengka. Disalurkan melalui sungai-sungai yang bermuara ke Pelabuhan Muarajati.

Ofan menambahkan, selama di Cirebon, Cheng Ho diminta Ki Gedeng Tapa mendirikan mercusuar di sekitar dataran tinggi di sekitar Pelabuhan Muarajati yang kini dikenal sebagai kawasan Gunungjati di Kabupaten Cirebon. Pendirian mercusuar dimaksudnya agar kapal-kapal dagang lain dari berbagai negara, seperti Arab, Portugis, dan India, mudah berlabuh di Pelabuhan Muarajati.

"Tapi sekarang tidak ada bekas mercusuar itu sama sekali," ujarnya.

Dalam rombongannya, Cheng Ho membawa serta seorang ulama dari Campa (nama pangkalan armada Cina di Vietnam Selatan, selain Malaka) bernama Syekh Hasanudin Bin Syekh Yusuf Sidiq atau Syekh Quro. Syekh Quro turut dalam rombongan Cheng Ho bersama sang istri, yang menurut Ofan namanya tak tercatat dalam naskah, serta sang anak, Tan Go Wat atau Syekh Bentong.

Syekh Quro belakangan menetap di Cirebon bersama istri dan anaknya selama sekitar lima tahun, sebelum kemudian datang Syekh Syarif Hidayatullah atau Syekh Nurjati atau Sunan Gunung Jati pada 1420. Setelah kedatangan Syekh Nurjati yang bermisi penyebaran ajaran Islam, Syekh Quro dan keluarga pindah ke Karawang.

"Syekh Quro berbagi tugas dengan Syekh Nurjati dalam penyebaran ajaran Islam di Jawa," tuturnya.

Keberadaan Syekh Quro inilah yang diyakini bahwa Cheng Ho beragama Islam. Menurut Ofan yang pula dikenal sebagai pelukis kaca khas Cirebon ini, sejatinya Cheng Ho bukanlah orang Cina, melainkan berasal dari Bukhara di Uzbekistan.

AYO BACA : Menyusuri Jejak Laksama Cheng Hwa di Cirebon

Dalam sebuah invasi bangal Mongol ke Cina, Cheng Ho dibawa ke salah satu suku di Cina sebagai anak sebatang kara karena ayah dan ibunya ditangkap. Namun begitu, dalam perjalanannya beranjak dewasa, Cheng Ho pernah menjadi orang kepercayaan salah satu kaisar pada masa Dinasti Ming.

Selain Syekh Quro yang menetap di Cirebon, awak kapal armada Cheng Ho lainnya juga diyakini menetap temporer bahkan di antaranya permanen. Mereka tinggal di daerah yang kini disebut Kapetakan di Kabupaten Cirebon.

Menurut Ofan yang telah menyelesaikan program studi doktoralnya di Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung ini, Kapetakan dalam bahasa Cirebon berarti putih, yang mengacu pada kulit orang asing yang menetap di sana. Sebutan Kapetakan hingga kini itu dipercaya sebagai salah satu peninggalan Cheng Ho.

"Selain naskah Purwaka Caruban Nagari, dikulik pula fakta-fakta linguistik dalam penelusuran jejak-jejak Cheng Ho," terang Ofan lagi.

Selain Kapetakan yang menjadi salah satu fakta linguistik yang dia gunakan, nama tempat lain yang berkaitan dengan jejak Cheng Ho di antaranya Celancang, Pabean, Jalan Budi Raja (yang menghubungkan Celancang dengan Mertasinga), hingga nama-nama makam para tokoh Cirebon seperti Nyai Rinjing, Ki Gede Alap-alap, Ki Pandu, dan lainnya.

Tak hanya itu, sejumlah produk budaya yang hingga kini masih hidup di tengah masyarakat Cirebon juga diyakini sebagai warisan Cheng Ho. Produk budaya itu di antaranya pesta laut Nadran dan Ngunjung atau Nyekar ke makam leluhur.

Bagi Ofan sendiri, mengulik fakta-fakta dan naskah kuno untuk menemukan jejak Cheng Ho berarti pembuktian Cirebon pernah menjadi salah satu dari sembilan titik yang disinggahi Cheng Ho. Ofan bahkan telah menulis sebuah buku tentang jejak Cheng Ho di Cirebon berjudul Jejak-jejak Laksamana Cheng Hwa di Keratwan Singhapura dengan sub judul Sejarah Terlipat Dibuka, Kirana Martabat Binangkit.

"Melalui buku ini saya ingin mengungkapkan sejarah yang tersimpan dalam naskah yang terlipat dan membangkitkan martabat Cirebon yang memiliki pelabuhan besar pada masanya dahulu," tegasnya.

Sayang, sejak penulisannya pada 2014-2015, buku ini belum memperoleh penerbit. Namun begitu, Ofan bersedia bersabar seraya menanti keinginannya menelusuri total sembilan titik jejak persinggahan Cheng Ho se-Nusantara terlakoni kelak.

AYO BACA : Disbudparpora Kabupaten Cirebon Bakal Revitalisasi Sejumlah Situs Sejarah


  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar