Yamaha NMax

Tradisi Dlugdag, Sambut Ramadan dengan Tabuh Beduk

  Minggu, 05 Mei 2019   Erika Lia
Sultan Keraton Kasepuhan Cirebon Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat menabuh bedug di Langgar Agung di komplek Keraton Kasepuhan Cirebon, Minggu (5/5/2019). Tradisi ini disebut Dlugdag yang dilaksanakan setelah salat Asar sebagai penanda akan datangnya Ramadan. (Erika Lia/Ayocirebon.com)

LEMAHWUNGKUK, AYOCIREBON.COM—Pukulan beduk bertalu-talu terdengar di sekitar area Keraton Kasepuhan Cirebon di Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Minggu (5/5/2019), sebagai tanda menyambut datangnya Ramadan.

Sultan Keraton Kasepuhan Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat menjadi orang yang pertama kali memukul beduk di Langgar Agung, komplek Keraton Kasepuhan. Setelahnya, menyusul sejumlah penghulu masjid yang melakukan hal serupa.

Pemukulan beduk menjelang Ramadan di Keraton Kasepuhan itu dikenal sebagai tradisi Dlugdag. Tradisi ini dilaksanakan sebagai pemberitahuan kepada khalayak bahwa Ramadan akan tiba keesokan harinya.

"Dlugdag menandai akhir bulan Syaban. Maknanya memberi tahu besok mulai puasa dan malam ini Tarawih," terangnya seusai memukul beduk.

Suasana pemukulan beduk pun dilakukan dengan gembira sebagai pertanda penyambutan terhadap datangnya Ramadan pun harus dengan kegembiran, sebagaimana amanah Rasulullah Muhammad SAW. Kegembiraan itu didoakan akan memperoleh balasan pahala dan surga bagi umat muslim yang menjalankannya.

Dia memastikan, tradisi memukul beduk hanya dilakukan di Jawa. Hal itu tak lepas dari sejarah beduk yang pada zaman dahulu dimanfaatkan Walisongo untuk melaksanakan kegiatan ritual Islam.

"Zaman dulu Walisongo mengakomodir semua bentuk seni dan adat yang ada di masyarakat Indonesia. Kemudian, dimanfaatkan sebagai bagian ritual Islam, salah satunya penggunaan beduk ini," paparnya.

Beduk biasanya ditabuh pada momen tertentu, salah satunya sebagai penanda waktu masuk salat lima waktu, sebelum kemudian dikumandangkan azan. Selain itu, beduk juga ditabuh pada Idulfitri dan Iduladha mengiringi takbiran.

Secara umum, beduk sendiri sudah ada sejak sebelum Islam eksis di Indonesia. Karena itu, dlugdag diprediksi telah berusia ratusan tahun.

Tradisi dlugdag juga bermakna silaturahmi bagi para abdi dalem maupun wargi Keraton Kasepuhan Cirebon. Dia berharap, melalui silaturahmi itu, keberkahan melimpahi mereka semua maupun umat muslim pada umumnya.

Selain dlugdag, tradisi lain selama Ramadan yang dilaksanakan di Keraton Kasepuhan di antaranya Tarawih bersama di Masjid Agung Sang Cipta Rasa dan Langgar Agung. Selain itu, digelar pula tadarusan di Langgar Alit setiap malam setelah Tarawih.

"Para abdi dalem dan wargi mengaji Alquran setiap malam," cetusnya.

Lebih jauh, dia berharap Ramadan kali ini membawa keberkahan bagi semua umat muslim sedunia maupun umat manusia pada umumnya. Dia pun mengharapkan kedamaian bagi setiap umat beragama dalam menjalankan ibadahnya masing-masing.


  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar