Yamaha Aerox

Kisah Pilu di Balik Tradisi Azan Pitu

  Jumat, 10 Mei 2019   Erika Lia
Tujuh Kaum Masjid Agung Sang Cipta Rasa di Komplek Keraton Kasepuhan Cirebon mengumandangkan azan sebagai pembuka waktu Salat Jumat. Azan yang dikumandangkan tujuh orang itu disebut Azan Pitu yang menjadi salah satu tradisi Cirebon sejak masa Sunan Gunung Jati hingga kini. (Erika Lia/Ayocirebon.com)

LEMAHWUNGKUK, AYOCIREBON.COM—Bermula dari mewabahnya suatu penyakit mematikan, yang di antaranya menewaskan salah satu istri Sunan Gunung Jati, Nyi Mas Pakungwati, azan pitu di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon ditradisikan hingga kini.

Azan pitu menjadi salah satu tradisi di Kesultanan Cirebon, terutama di Keraton Kasepuhan Cirebon. Pitu dalam bahasa Indonesia berarti tujuh. Dengan kata lain, azan pitu adalah azan yang dilakukan tujuh orang.

Dikumandangkan kaum (pengumandang azan) Masjid Agung Sang Cipta Rasa secara turun temurun, azan pitu menuntut latihan dan kemampuan. Suara yang dihasilkan haruslah merupakan harmonisasi ketujuh kaum masjid.

"Azan pitu khusus dikumandangkan sebelum salat Jumat," kata Sultan Keraton Kasepuhan Cirebon Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat kepada Ayocirebon.com, Jumat (10/5/2019).

AYO BACA : Warisan Laksamana Cheng Ho di Cirebon, Mulai Nama Tempat Hingga Produk Budaya

Di balik keindahan azan yang tercipta dari perpaduan suara tujuh orang itu, terselip kisah pilu yang melatari azan pitu. Arief mengungkapkan, azan pitu lahir ketika suatu penyakit mewabah di tanah Caruban (Cirebon).

Di era Sunan Gunung Jati atau setelah Masjid Agung Sang Cipta Rasa dibangun pada 1500, mewabah suatu penyakit yang menewaskan banyak orang. Di antara sekian banyak korban tewas, istri Sunan Gunung Jati yang menguasai Kesultanan Cirebon kala itu, Nyi Mas Pakungwati, menjadi salah satunya.

Menurut Arief, tidak ada penjelasan perihal apa dan bagaimana wabah penyakit itu. Namun biasanya, korban yang terkena wabah ini akan mengalami sakit lebih dulu sebelum kemudian meninggal dunia.

"Tidak ada penjelasan (soal wabah penyakit), tapi banyak yang meninggal. Nyi Mas Pakungwati juga salah satu yang terkena wabah itu hingga menjadi sakit, kemudian meninggal sebagai suhada," terangnya.

AYO BACA : Festival Teater Cirebon 5 dan Usaha Menyerap Daya Hidup Berseni-Budaya Arifin C. Noer

Arief menyebut, penyakit yang mewabah itu diduga sebagai perbuatan pihak tak bertanggung jawab yang tak menyenangi syiar Islam di Cirebon oleh Sunan Gunung Jati. Wabah itu dimaksudkan sebagai semacam teror untuk menghentikan syiar Islam.

Azan pitu sendiri merupakan petunjuk yang diperoleh Sunan Gunung Jati untuk menghentikan wabah tersebut. Upaya itu rupanya berhasil, penyakit misterius tak lagi mewabah di Cirebon.

Namun, azan pitu tak berhenti sampai di situ. Kebiasaan tersebut dilestarikan sampai sekarang sebagai tradisi yang hanya dilakukan setiap Jumat.

"Dalam Islam, Jumat adalah hari utama dibanding hari-hari lainnya. Jumat dipandang penuh berkah dan sebagai hari berkumpulnya umat muslim," papar mantan anggota DPD RI ini.

Azan yang dikumandangkan tujuh orang ini bukanlah tanpa makna filosofis. Tujuh merujuk pada jumlah hari dalam sepekan.

"Diharapkan, setiap hari, mulai Ahad (Minggu) hingga kembali ke Ahad, umat manusia terbebas dari segala musibah dan bencana," jelasnya.

Oleh karena itu, selain menjaga tradisi, azan pitu juga mengandung doa dan pengharapan agar terlindung dari segala bencana dan musibah. Selain itu, azan pitu juga dianggap sebagai suatu seni religi yang adi luhung.

AYO BACA : SMK Pakungwati, Satu-satunya Sekolah Seni di Kota Cirebon


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar