Yamaha Aerox

Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Harmonisasi Religi dan Karya Seni

  Senin, 13 Mei 2019   Erika Lia
Bagian dalam Masjid Agung Sang Cipta Rasa di area Keraton Kasepuhan Cirebon, Kota Cirebon. Masjid bergaya arsitektur Majapahit ini memiliki tiang-tiang dari kayu dengan ornamen ragam budaya. (Erika Lia/Ayobcirebon.com)

LEMAHWUNGKUK, AYOCIREBON.COM--Sebagai pusat syiar Islam di tanah Jawa bagian barat, tampilan Masjid Agung Sang Cipta Rasa di Kota Cirebon tak mengesankan pada bangunan masjid bergaya Arab, tanah di mana Islam lahir. Arsitekturnya lebih pada harmonisasi budaya yang ada pada masyarakat Indonesia kala itu.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa di area Keraton Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, dibangun sekitar 1500. Dengan arsitek Raden Sepat dari Kerajaan Majapahit, pembangunan masjid ini dipimpin Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hidayatullah, salah satu dari Sembilan Wali (Wali Songo).

"Para wali dari Wali Songo, seperti Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, dan lainnya, turut membantu Sunan Gunung Jati membantu pembangunan masjid," tutur Sultan Keraton Kasepuhan Cirebon, Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat.

Masjid ini merupakan tempat ibadah kedua yang dibangun di Cirebon, setelah Masjid Pejlagrahan, tak jauh dari Sang Cipta Rasa. Ukuran masjid pertama yang dibangun Pangeran Cakrabuana (Mbah Kuwu Cirebon) yang lebih kecil, menjadi salah satu dasar pembangunan Sang Cipta Rasa.

Menurut Arief, Sang Cipta Rasa dibangun dalam rangka syiar Islam sebagai 'tugas' yang diemban Sunan Gunung Jati. Ketika itu, Sunan Gunung Jati beroleh 'tugas' menyiarkan Islam di Jawa bagian barat yang saat ini meliputi Provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten, dengan pusatnya di Cirebon.

"Di Masjid Sang Cipta Rasa ini bukan hanya sebagai tempat untuk salat, melainkan pula ibadah muamalah dan ibadah lain seperti zakat fitrah, pengadilan agama Islam, kemasyarakatan, sosial, dan lainnya," beber Arief.

Masjid Sang Cipta Rasa yang tampak kini telah melalui proses pengembangan yang dimulai ketika Sultan Keraton Kasepuhan atay Sultan Sepuh I berkuasa. Bangunan asli sendiri berupa bagian tengah masjid yang masih kokoh berdiri hingga kini.

Masjid Sang Cipta Rasa memiliki gaya arsitektur majapahit. Tiang-tiang kayu menopang bangunan dengan dinding batu bata.

Menurut Arief, setiap satu tiang masjid hanya berasal dari satu pohon, tanpa sambungan kayu lain. Kayu yang digunakan berupa kayu jati di mana pohonnya dulu banyak tumbuh di tanah Cirebon.

Namun, di antara tiang-tiang kayu itu, terdapat satu tiang yang dibuat dari sebagian-sebagian kayu yang disatukan. Tiang istimewa ini dikenal dengan istilah sokotatal yang, kata Arief, dibuat Sunan Kalijaga.

"Pohon jati dulu banyak tumbuh di Cirebon, tapi tetap terbatas untuk tiang yang sangat tinggi. Kebutuhan untuk tiang pun tak bisa dipenuhi semua, sehingga Sunan Kalijaga dengan kecerdasannya menyatukan bagian-bagian batang pohon sebagai satu tiang besar yang disebut sokotatal," jelasnya.

Sokotatal sendiri memiliki makna filosofis. Bagian-bagian kayu yang disatukan itu bermakna sifat gotong royong dan persatuan akan mampu menopang bangsa dan negara.

Secara keseluruhan, bangunan Masjid Sang Cipta Rasa dikerjakan bertahap. Di era selanjutnya, imbuh dia, sejumlah ornamen ditambahkan pada bangunan hingga menampakkan karakterisasi khusus pada masjid ini.

"Ada piring-piring dari Cina yang ditempel pada dinding masjid. Piring-piring itu dari Putri Ong Tien asal Cina, yang kemudian menjadi istri Sunan Gunung Jati," tuturnya.

Selain piring dari Cina, ada pula hiasan kaligrafi pada dinding. Sementara, pada mimbar masjid terdapat ukiran teratai yang diadopsi dari budaya Hindu yang ketika itu lekat di masyarakat.

Dengan arsitektur Majapahit, sebagai sebuah kerajaan Hindu-Budha terbesar yang menguasai Nusantara pada 1293-1500, ornamen piring dari Cina, kaligrafi Arab, dan ukiran teratainya, Masjid Agung Sang Cipta Rasa dibangun dengan mengolaborasikan unsur-unsur seni dan religi yang ada di Indonesia.

Arief menyebut, meski digawangi Wali Songo yang notabene memiliki tugas menyiarkan ajaran Islam, Masjid Agung Sang Cipta Rasa tak serta merta menampakkan fanatisme arsitektur masjid di tanah Arab maupun Timur Tengah sebagai tanah asal Islam.

"Termasuk nama masjid, tidak menggunakan nama Arab, melainkan 'Sang Cipta Rasa'," katanya.

Namun begitu, ada pula tradisi keislaman yang terus dipertahankan sampai kini, yang bersumber dari Arab. Setiap Jumat, para jamaah Salat Jumat di masjid ini akan mendengarkan khutbah berbahasa Arab.

Arief menerangkan, khutbah menggunakan bahasa Arab telah dilakukan sejak dulu dan dipertahankan hingga sekarang sebagai sebuah tradisi Kesultanan Cirebon. Khutbah ini diharapkan mendorong umat muslim terus membaca Alquran dan mempelajari maknanya melalui penguasaan bahasa Arab.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar