Yamaha Aerox

Libur Lebaran Berlalu, Jasa Setrika di Cirebon Kebanjiran Baju

  Selasa, 11 Juni 2019   Erika Lia
Ilustrasi pakaian yang telah disetrika. Pasca libur lebaran, jasa usaha setrika di Cirebon alami peningkatan jumlah pakaian yang harus dirapikan. (Erika Lia/ayocirebon).

KEDAWUNG,AYOCIREBON.COM--Pasca libur Lebaran, penyedia jasa setrika di Kabupaten Cirebon menerima tumpukan baju melebihi biasanya. Jumlah pakaian para pelanggan yang biasa memanfaatkan jasa setrika ini naik sekitar 50%.

Jasa setrika tergolong suatu usaha baru di Cirebon. Tak seperti jasa laundry baju yang kini makin menjamur, penyedia jasa setrika belumlah banyak.

Sesuai namanya, jasa setrika hanya menerima pakaian kering yang telah dicuci untuk disetrika. Secara umum, tarif setrika baju di Cirebon lebih murah dibanding laundry.

Pasca libur lebaran, jasa setrika menerima pakaian pasca cuci lebih banyak dibanding hari normal. Rata-rata pakaian yang disetrika berupa pakaian yang telah dikenakan selama pelanggan menghabiskan masa libur lebaran. Terlebih, mulai H-2 hingga H+3, jasa setrika biasanya tutup sementara.

"Mulai H+3 kami sudah buka kembali. Sejak buka, jumlah pakaian yang harus disetrika menumpuk dan bertambah lebih banyak sekitar 50% dibanding normal," ungkap salah satu pemilik penyedia jasa setrika uap Gokil di Perumahan Griya Caraka Blok G2 Nomor 23, Kalikoa, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, Endang Kusuma Dewi kepada Ayocirebon.com, Selasa (11/6/2019).

Pelanggan Gokil sendiri mencapai puluhan. Maka, bisa dibayangkan kuantitas pakaian yang harus disetrika para karyawannya.

Wanita yang akrab disapa Dewi ini sendiri mempekerjakan enam orang karyawan, ditambah seorang kurir. Kurir ini bertugas menjemput dan mengantar baju yang akan dan usai disetrika ke tangan setiap pelanggan. Sebagai pelengkap layanannya, Dewi memang menerima antar jemput pakaian kepada pelanggannya.

Meski menerima jumlah pakaian lebih banyak daripada biasanya, metode pelayanan yang diterapkan Dewi tak berubah. Pakaian yang lebih dulu datang, yang ditandai dengan nota, menjadi prioritas untuk disetrika para karyawannya.

"Biasa saja, mengerjakannya (menyetrika) sesuai urutan nota," ujarnya.

Hanya, dengan tumpukan baju melebihi hari normal, para karyawannya terpaksa dikenakan waktu lembur. Biasanya, dalam sehari pembagian kerja diberlakukan dua shift, masing-masing shift pagi dan siang.

Dengan peningkatan jumlah pakaian yang harus dirapikan, diberlakukan waktu lembur dengan penambahan waktu rerata tiga jam dari waktu normal.

Dewi tak menampik, situasi semacam itu tak jarang membuatnya kelimpungan. Terlebih kala menghadapi pelanggan dengan karakter yang agak 'keras'.

"Karakter pelanggan kan berbeda-beda. Ada saja yang marah-marah karena dianggap terlalu lama, padahal kami mengerjakannya sesuai urutan nota," bebernya.

Dia menjelaskan, rata-rata maksimal tiga hari pasca diserahkan pakaian rampung disetrika. Untuk satu kilogram baju, Dewi mengenakan tarif Rp4.000. Untuk tarif antar-jemput pakaian, pelanggan cukup menambah biaya Rp5.000 untuk jemput pakaian dan Rp5.000 untuk antar pakaian.

Tak sedikit pula di antara pelanggan yang mengeluhkan tumpukan baju yang menipis pasca disetrika. Untuk ini, dia memiliki penjelaskan.

"Setrika yang kami gunakan setrika uap yang memanfaatkan gas dan keuntungannya tidak merusak kain. Hanya, berbeda dengan setrika listrik yang bisa merusak kain, hasil setrikaan setrika uap membuat baju kelihatan tipis," terangnya.

Dengan tumpukan baju pasca disetrika yang lebih tipis dibanding sebelum disetrika, imbuhnya, tak jarang pakaian pelanggan menyelip hingga tak kelihatan. Dewi pun kerap menerima komplain pelanggan yang merasa kehilangan baju. Padahal, baju yang dicarinya hanyalah menyelip di antara baju lain.

Atau ada pula pelanggan yang komplain ketika menemukan bajunya berlubang. Dia meyakinkan, setrika uap tak membuat kain rusak. Belakangan diketahui, lubang pada baju itu sudah lebih dulu ada sebelum diserahkan kepadanya.

"Untuk menghindari hal-hal semacam itu, biasanya saya potret dulu pakaian-pakaian yang diserahkan pelanggan sebelum disetrika. Termasuk saya potret juga hasil timbangan baju sebelum disetrika supaya pelanggan mengetahui berat pakaian dan biaya yang harus dibayar," paparnya.

Dewi sendiri telah menggeluti jasa setrika ini selama dua tahun terakhir. Ide membuka usaha itu diperolehnya ketika dia menemukan tak sedikit teman-temannya yang mengeluh kelelahan dan sulitnya menemukan orang yang bersedia untuk menyetrika pakaian.

Ada pula yang mengeluhkan hasil setrika listrik. Dia pun membula usaja jasa setrika yang menggunakan setrika uap. Meski harus menghadapi dinamika usaha jasa pelayanan seperti itu, Dewi mengaku tetap mencoba konsisten mengingat usaha tersebut tergolong prospektif.

"Harus kuat mental menghadapi pelanggan dengan karakter beragam, apalagi ini bisnis fast moving. Tapi, saya amati usaha ini prospektif dan belum banyak yang memggeluti, makanya saya mencoba tetap melayani sebaiknya," ungkap ibu tiga anak ini.


  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar