Yamaha Mio S

Fix! Rute Penerbangan Husein Sastranegara Dilimpahkan ke Kertajati Maksimal 1 Juli 2019

  Selasa, 18 Juni 2019   Erika Lia
Menhub RI, Budi Karya Sumadi (tengah, bertopi) saat meninjau BIJB, Selasa (18/6/2019), terkait rencana pengalihan rute penerbangan dari Bandara Husein Sastranegara, Bandung, paling lambat 1 Juli 2019. (Erika Lia/ayocirebon)

MAJALENGKA,AYOCIREBON.COM--Paling lambat 1 Juli 2019, penerbangan komersil untuk pesawat jenis jet dari Bandara Husein Sastranegara (Kode BDO), Bandung, dilimpahkan ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati (Kode KJT).

Ketetapan itu dikeluarkan pemerintah pusat, salah satunya ditandai kunjungan kerja Menteri Perhubungan RI, Budi Karya Sumadi ke BIJB, Selasa (18/6/2019). Pengalihan itu berlaku bagi seluruh maskapai yang masih beroperasi di Bandara Husein Sastranegara.

Bandara Husein Sastranegara sendiri tetap akan melayani penerbangan yang menggunakan pesawat jenis baling-baling (propeller).

Ketetapan pemerintah ihwal pengalihan rute penerbangan itu dituangkan dalam surat bernomor AV.004/0274/KUM/DRJU/VI/2019 pada 13 Juni 2019 yang ditandatangani Direktur Jendreal (Dirjen) Perhubungan Udara Kemenhub, Polana B Pramesti.

Surat itu menegaskan layanan penerbangan angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri untuk pesawat jenis jet, angkutan udara niaga tidak berjadwal dalam negeri dan luar negeri, dan angkutan udara bukan niaga dalam negeri dan luar negeri, dilakukan di Kertajati.

Sementara, Bandara Husein Sastranegara hanya melayani penerbangan angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri untuk pesawat jenis propeller, seluruh angkutan udara niaga berjadwal luar negeri.

"Paling lambat 1 Juli 2019 direncanakan pemindahan penerbangan," ungkap Menhub, Budi Karya Sumadi seusai memimpin rapat koordinasi penataan rute penerbangan Bandara Husein Sastranegara dan Bandara Kertajati, di area kedatangan domestik Bandara Internasional Kertajati, Selasa (18/6/2019).

Rapat koordinasi dihadiri Wakil Gubernur Jabar, Uu Ruzhanul Ulum, Wakil Bupati Majalengka, Tarsono D Mardiana, Wali Kota Cirebon, Nashrudin Azis, Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub, Polana B Pramesti, Direktur Angkutan Udara Ditjen Perhubungan Udara, Maria Kristi Endah Murni, Direktur PT BIJB, Muhamad Singgih, Direktur AP II, Awaludin, AirNav, dan Direksi seluruh maskapai.

Menurut Budi, BIJB diharap menjadi hub pergerakan orang dan barang di timur Jabar ini. Pemerintah sendiri tengah merancang kawasan ekonomi baru bernama segitiga rebana yang terintegrasi antara Majalengka dengan Pelabuhan Patimban dan Cirebon.

"Kami merancang ini sebagai daerah masa depan yang strategis, lebih maju, karena di sini akan ada pelabuhan, industri, tourism, dan bandara," katanya.

Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub, Polana B Pramesti menjelaskan, setiap harinya ada 56 penerbangan pesawat jenis jet untuk domestik yang eksisting di Bandara Husein Sastranegara. Tujuan penerbangannya sendiri yakni Denpasar, Pekanbaru, Banjarmasin, Kualanamu, Ujung Pandang, Palembang, Padang, Balikpapan, Lombok, Pontianak, dan Batam.

Maksimal 1 Juli nanti, seluruh tujuan penerbangan yang semula dari Bandung itu akan beralih ke BIJB. Selaras dengan itu, BIJB pun terbuka untuk semua rute domestik dan internasional karena ketersediaan slot.

"Sudah disepakati, penerbangan dengan jet 28 pergerakan (takeoff dan landing 28) akan pindah ke Bandara Kertajati," terangnya.

Maskapai yang melayani di antaranya Garuda Indonesia, Lion Air, Air Asia, dan Citilink. Dia menyebut kemungkinan penambahan rute baru di BIJB mengingat masih banyak slot yang membuat BIJB cukup baik dari segi keselamatan penerbangan dibanding Husein.

Pasca pengalihan nantinya, Husein sendiri akan tetap melayani penerbangan tujuan Semarang, Tanjung Karang, Solo, Malang, dan Jakarta Halim Perdana Kusuma. Pergerakan pesawat mencapai 20 penerbangan per harinya.

"Untuk rute internasional Kuala Lumpur dan Singapura pergerakan pesawat mencapai 12 per hari," tambahnya.

Sementara, Direktur PT Angkasa Pura (AP) II  Muhammad Awaludin menyatakan, selaku operator pihaknya tengah melakukan penataan berbasis integrasi. Penataan dimaksud berupa pembagian peran antara Husein dan Kertajati, sekaligus Halim Perdana Kusuma dan Soekarno Hatta, agar terjadi keseimbangan lalu lintas udara.

"Ini berkaitan dengan balancing traffic. Kami sudah berkordinasi dengan semua pihak agar seluruh perpindahan berjalan lancar," cetusnya.

Dalam kesempatan itu, Wakil Gubernur Jabar, Uu Ruzhanul Ulum menyambut baik komitmen pemerintah pusat karena telah memberi kepastian bagi BIJB. Pihaknya berharap, bandara yang sudah dibangun dengan mewah ini bisa optimal melayani penerbangan dan pada gilirannya menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) Jabar.

"Sebagai komitmen untuk optimalisasi Bandara Kertajati, Pemprov Jabar akan menggelontorkan anggaran Rp20 miliar," katanya.

Anggaran itu dialokasikan untuk menunjang sarana prasarana yang berkaitan dengan infrastruktur, seperti penerangan jalan, rambu, dan lain-lain. Dengan begitu, tercipta pengkondisian informasi keberadaan BIJB dari segala sudut.

PT BIJB sendiri telah menyiapkan akses transportasi berupa trayek bus Damri dan bus shuttle guna memudahkan mobilitas penumpang. Rute Bus Damri akan dibuka dari dan menuju Bandung, Kuningan, Cikarang, dan Cirebon.

Sementara, shuttle untuk menjangkau Tasikmalaya, Cirebon, Kuningan, Indramayu, Purwakarta, Majalengka, dan Sumedang. Pengaktifan moda transportasi mengikuti jadwal penerbangan pesawat.

BIJB disebut bandara terbesar di Jabar. Ke depan, bandara ini diproyeksikan sebagai bandara terbesar kedua di Indonesia setelah Soekarno-Hatta. 

Pada tahap awal, BIJB memiliki luas terminal 96.000 meter persegi berkapasitas 5 juta penumpang. Pada pengembangan akhir atau tahap ultimate, BIJB akan diperkuat terminal berkapasitas 29,3 juta/tahun pada 2032.


  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar