Yamaha Aerox

Tak Hanya Padi, Warga Cirebon Mulai Krisis Air Bersih

  Rabu, 10 Juli 2019   Erika Lia
Embung Sarwadadi di Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon, yang mengering saat kemarau ini diperbaiki akibat adanya kebocoran. Embung ini sejatinya mengairi empat desa di Kecamatan Talun. (Erika Lia/Ayocirebon.com)
SUMBER, AYOCIREBON.COM -- Kekeringan juga melanda Kabupaten Cirebon. Kekurangan air pada kemarau ini tak hanya terjadi pada pertanian, melainkan pula rumah tangga.
 
Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon mendata, lebih dari 5.000 hektar sawah terancam kekeringan hingga memasuki pekan kedua Juli 2019. Dari luasan itu, 1.144 hektar di antaranya terkategori telah kekeringan, dengan kondisi kekeringan ringan 726 hektar, kekeringan sedang 196 hektar, dan kekeringan berat 135 hektar.
 
Kekeringan itu pun sejauh ini telah menyebabkan 97,5 hektar padi dinyatakan puso. Kondisi ini salah satunya terjadi di empat desa di Kecamatan Talun, masing-masing Sarwadadi, Wanasaba Kidul, Kubang, dan Sampiran.
 
Para petani harus menelan pil pahit setelah tanaman mereka gagal panen akibat kekurangan air. Keberadaan embung di sana, yakni Embung Sarwadadi yang secara keseluruhan mengairi sawah di empat desa itu, rupanya tak cukup mampu membuat padi petani tetap hidup.
 
"Lahan garapan saya satu hektar, tapi sekarang gagal panen semua karena kekurangan air. Sudah menyedot air dari kali, tapi tetap kurang," ungkap seorang petani asal Desa Wanasaba Kidul, Rana (69).
 
Padi yang ditanamnya sendiri baru berusia tiga minggu. Rana sebenarnya berniat beralih menanam palawija, tapi tak memiliki modal untuk memulai menanamnya.
 
Sementara itu, petugas penjaga Embung Sarwadadi, Malcolm Muhammad Othery menyebutkan, luas embung mencapai 4,5 hektar yang dapat menampung 131.000 meter kubik air. Embung tersebut mengandalkan air hujan dan aliran dari Sungai Cirengas, Kabupaten Kuningan.
 
"Kalau di sana (Kuningan) hujan, di sini (embung) kemungkinan masih ada air. Tapi, sekarang memang sudah kering sama sekali," terangnya.
 
Tak hanya air yang minim, kekeringan di embung juga disebabkan kebocoran di sejumlah titik. Sejauh ini, imbuhnya, petugas dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung tengah memperbaikinya dengan memasang batu di tiap sempadan embung.
 
Sementara, kekeringan juga berpotensi membuat sejumlah kecamatan di Kabupaten Cirebon krisis air bersih. Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon, Eman Sulaeman menyebut, potensi krisis air terjadi di setidaknya 63 desa di 23 kecamatan dari 40 kecamatan se-Kabupaten Cirebon.
 
"Cakupan wilayah potensi krisis air bersih tahun ini lebih besar dibanding tahun sebelumnya," katanya.
 
Tahun lalu, sedikitnya 12 kecamatan dilanda krisis air bersih. Pihaknya menyalurkan 1,7 juta liter air selama kemarau tahun lalu.
 
Tahun ini, cetusnya, sudah ada beberapa desa yang mulai meminta bantuan air bersih. Sejauh ini, beberapa desa yang sudah mengajukan di antaranya Kreyo, Klangenan, Slangit, Gebang Ilir, Greged, dan Waled.
 
"Kami sudah salurkan air bersih kw beberapa desa. Untuk ini, kami kerjasama dengan perusahaan melalui CSR mereka untuk penyaluran air bersih ke desa-desa," paparnya.
 
Solusi lain untuk mengurangi dampak krisis air bersih, di antaranya adalah membuat sumur pantek. Namun, sumur pantek memiliki resiko tinggi terhadap lingkungan sekitar.
 
Menurutnya, krisis air bersih menjadi bencana tahunan di Kabupaten Cirebon. Guna menanggulangi krisis air bersih, salah satu solusi utama berupa perubahan pola hidup, di antaranya tak boros air dan memanen air hujan.
 
"Jangan boros air bersih. Halaman rumah juga harusnya jangan diplester, minimal ada ruang untuk penyerapan air. Tak kalah penting, sistem memanen air hujan atau membuat penampungan," tuturnya

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar