Yamaha Aerox

Ayo Kenali Limbik dan PFC Dalam Otak Sebelum Ambil Keputusan

  Kamis, 11 Juli 2019   Erika Lia
Penulis/pengarang, pembicara, dan neuroleadership Indonesia, Roy T. Amboro saat memberi motivasi dalam Temu Responden 2019 bertajuk Penerapan Spiritual Leadership dalam Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Daerah untuk Menghadapi Tantangan Ekonomi Global yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Cirebon, Rabu (10/7/2019). (Erika Lia/Ayocirebon.com)


LEMAHWUNGKUK, AYOCIREBON.COM -- Suatu hari kita merasa sedih karena kehilangan hewan peliharaan yang kita sayangi. Suatu hari kita mungkin merasa takut menghadapi sidang skripsi. Atau, suatu hari amarah kita menggelegak manakala mendapati helm kita hilang di parkiran sebuah mal.

Sedih, takut, dan marah, menurut Roy T. Amboro, merupakan tiga emosi destruktif. Roy merupakan penulis/pengarang, pembicara, dan neuroleadership di Indonesia. NeuroLeadership mengacu pada penerapan temuan dari neuroscience ke bidang kepemimpinan. Ini merupakan perpaduan interdisiplin bidang ilmu sifat-sifat neuron otak, berkaitan dengan praktek-praktek pada kepemimpinan dan manajemen.

"Ketika sedang sedih, marah, takut, sebenarnya limbik kita sedang mengambil alih," kata Roy dalam Temu Responden 2019 bertajuk Penerapan Spiritual Leadership dalam Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Daerah untuk Menghadapi Tantangan Ekonomi Global yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Cirebon, Rabu (10/7/2019).

Sistem limbik sendiri berupa himpunan struktur otak di kedua sisi talamus, tepat di bawah serebrum. Pada manusia, sistem limbik mendukung berbagai fungsi seperti emosi, perilaku, motivasi, memori jangka panjang, dan penciuman.

Mengingat sifatnya yang destruktif, kata Roy, ketiga emosi ini harus ditransformasi. Upaya transformasi dapat diperoleh bila kita rileks, tenang, namun tetap meluruskan niat.

"Kalau mau dapat solusi dari masalah, harus dalam kondisi nggak masalah, rileks, tenang, tapi tetap luruskan niat," cetusnya.

Dalam upaya itu, sedih misalnya, dalam sudut pandang lain, mengandung nilai positif sebagai strum aki. Roy mengingatkan, kala sedih melanda, ubahlah pikiran kita dengan menghadirkan keikhlasan dan sifat menerima. Penerimaan pada emosi ini diyakini akan membuat kita melihat sudut pandang berbeda dari masalah.

Takut, menurut Roy, dalam upaya transformasi harus dijadikan sebagai latihan. Ketakutan bisa kita lihat sebagai sebuah tantangan. "Ingat, no pain no gain. Jadikan takut sebagai tantangan, bukan masalah. Ingatkan diri, transformasi butuh pengorbanan," ujarnya.

Kemarahan pun bisa diubah sebagai sumber energi. Kita diingatkan marah merupakan latihan untuk membuat kita lebih kuat.

Upaya mentransformasikan emosi destruktif menjadi konstruktif bukanlah hal yang mustahil. Roy menjelaskan, selain limbik yang memproduksi respon bawah sadar, dalam otak kita terdapat pula Pre-Frontal Cortex (PFC).

Dalam otak, prefrontal area merupakan bagian terdepan dari lobus frontal, lobus korteks terbesar yang berisi lima bidang utama untuk fungsi neuropsikiatri berupa perencanaan, mengorganisasi, pengambilan keputusan, kepribadian, maupun seleksi perhatian, dan fungsi motorik. PFC juga memediasi fungsi intelektual yang lebih tinggi, termasuk emosi dan perilaku.

"PFC seperti kontrol. Dia (PFC) adalah otak pemimpin yang 'mendidik' limbik," jelasnya.

Roy menggambarkan limbik dan PFC layaknya jungkat jungkit. Dalam pengambilan keputusan, dia menyarankan antara limbik dan PFC harus seimbang. Mengambil keputusan dengan dominasi limbik pada otak, akan membuat hasilnya beresiko tinggi.

"Ketika kita sedang mengalami emosi destruktif, langsung saja ucapkan 'itu limbik saya'. Nah, kesadaran ini adalah PFC dan sedang kita seimbangkan antara limbik dan PFC," tuturnya.

Pada bagian ini, Roy menekankan nilai-nilai spiritual untuk 'dimasukkan' dalam otak sebelum kemudian melakukan pengambilan keputusan. Untuk mengambil keputusan benar dan bijak, dia pun mengajak responden menghikmahi ulang setiap masalah.

"Katakan pada diri kita, masalah adalah tantangan. Fornat ulang otak kita dengan kembali ke fitrah," ungkapnya.

Di bagian penutup, Roy memberi tips agar bagian PFC lebih besar daripada limbik, salah satunya dengan memperbanyak syukur dan rasa berbagi. Tak kalah penting, dia menyarankan untuk menjalani hidup lebih rileks seraya mengingatkan diri, sudah ada Tuhan yang mengatur.


  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar