Hebat! Polisi di Cirebon ini Dirikan Sekolah Paket Gratis untuk Penuhi Pendidikan Warga Kurang Mampu

- Kamis, 31 Maret 2022 | 18:36 WIB
Suasana belajar mengajar di PKBM Indra Abdi Utama, di Desa Mertapada Kulon, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon. (Dok. Bripka Dedi Rustandi)
Suasana belajar mengajar di PKBM Indra Abdi Utama, di Desa Mertapada Kulon, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon. (Dok. Bripka Dedi Rustandi)

ASTANAJAPURA, AYOCIREBON.COM- Mendirikan sebuah sekolah bukan mimpi Bripka Dedi Rustandi. Hanya, empatinya terhadap anak - anak yang terpaksa putus sekolah karena faktor ekonomi membuat dia bertekad membangun pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) atau Sekolah paket Indra Abdi Utama di Desa Mertapada, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon.

Bripka Dedi Rustandi adalah seorang anggota polisi Polresta Cirebon yang bertugas sebagai babinkamtibmas Polsek Mundu di Desa Penpen, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon.

Pada 2019, Bripka Dedi perlahan membulatkan tekadnya.

Dia mendapat rekomendasi dari Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon dan didukung perangkat desa setempat untuk mendirikan sekolah paket untuk masyarakat tidak mampu.

Sekolah tersebut mulai beroperasi sejak 2020, setelah seluruh persyaratan mendirikan sekolah terpenuhi dan disetujui.

Tak hanya itu, para siswanya pun tercatat secara resmi dalam data pokok pendidikan (dapodik) oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon.

Bermodalkan sebuah rumah milik kerabatnya yang dia sewa di Desa Mertapada Kulon, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Dedi mengubah fungsi rumah tersebut menjadi sekolah.

Layaknya sebuah sekolah, PKBM atau sekolah paket yang dikembangkan Dedi memiliki struktur kepemimpinan, lengkap dengan 9 guru atau yang biasa disebut tutor.

Bripka Dedi Rustandi menjabat sebagai kepala sekolah, merangkap sebagai guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Begitupun 9 orang lain, setiap bidang juga merangkap sebagai tenaga pengajar.

Pelajaran yang didapat siswanya meliputi Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, PKN, IPA, dan IPS.

"Seharusnya 18 tenaga pengajar, tapi baru ada 9 tenaga pengajar dan itu sudah termasuk staf, bagian administrasi, sekretaris, humas, dan wali kelas," katanya, Kamis, 31 Maret 2022.

Seluruh orang yang terlibat di dalamnya bekerja secara sukarela untuk memenuhi pendidikan anak - anak kurang mampu yang putus sekolah.

"Ada dari anggota polisi juga yang mengajar, ada juga dari tetangga saya seorang guru yang mau mengajar. Berjalan sukarela saja," ungkapnya.

Halaman:

Editor: Erika Lia

Tags

Artikel Terkait

Terkini