Serba Serbi Imlek: Dari Cuci Rupang, Esensi Imlek, Sampai Genosida 3 Generasi

- Rabu, 22 Januari 2020 | 17:20 WIB
Indrawati/Gouw Yang Giok menunjukkan foto sang ibu yang mengenakan setelan kebaya berkain batik Cempaka Mulyo dalam frame foto keluarga. (Ayocirebon/Erika Lia)
Indrawati/Gouw Yang Giok menunjukkan foto sang ibu yang mengenakan setelan kebaya berkain batik Cempaka Mulyo dalam frame foto keluarga. (Ayocirebon/Erika Lia)

AYO BACA : Ketika Lilin Imlek Menari di Cirebon

Cempaka Mulyo diketahui sebagai motif batik yang populer di kawasan pantai Utara (Pantura) Jawa, termasuk Cirebon.

Hanya, motif kain batik ini umumnya dipakai wanita peranakan Tionghoa yang berada. 

Selain mengenakan setelan kebaya, tak sedikit pula wanita Tionghoa yang melengkapi penampilannya dengan konde.

Namun, tradisi ini surut kala Presiden Soeharto berkuasa. Pemerintahan Orde Baru melarang Imlek dirayakan dan segala hal yang berbau Tionghoa diredam atau ditiadakan.

"Zaman Soeharto (Orde Baru) setelan kebaya nggak boleh dipakai warga Tionghoa. Imlek saja nggak boleh," ujarnya.

Belakangan muncullah congsam, yakni salah satu jenis kostum tradisional perempuan Cina. Menurut Giok, congsam menjadi pakaian modern yang kemudian banyak digunakan wanita Tionghoa pasca Presiden Gus Dur berkuasa.

"Kita (warga Tionghoa) itu berutang besar sama Presiden Gus Dur. Beliaulah yang menghidupkan kembali Imlek dan segala bentuk seni budaya Tionghoa di Indonesia," tegasnya.

Dari kebaya hingga congsam, warga Tionghoa kini rata-rata merayakan Imlek dengan pakaian lain dan kekinian yang lebih praktis.

Meski begitu, saran Giok, pakaian yang dikenakan saat Imlek sebaiknya baru. Pakaian lama disimpan karena Imlek layak disambut dan dirayakan dengan hal-hal baru sebagai pengharapan lebih baik di tahun baru.

Halaman:

Editor: Dadi Haryadi

Tags

Terkini

Apakah Semua Orang akan Terkena Fitnah Dajjal?

Jumat, 12 Agustus 2022 | 20:55 WIB

Benarkah Dajjal Keluar dari Khurasan Iran?

Jumat, 12 Agustus 2022 | 19:00 WIB