Sembahyang Jelang Imlek, Tradisi Warga Tionghoa yang Memudar

- Jumat, 24 Januari 2020 | 19:37 WIB
Adik Indrawati/Gouw Yang Giok, Nalendrawati melakukan sembahyang menjelang Imlek di kediamannya di Pekalipan, Kota Cirebon. (Ayocirebon.com/Erika Lia)
Adik Indrawati/Gouw Yang Giok, Nalendrawati melakukan sembahyang menjelang Imlek di kediamannya di Pekalipan, Kota Cirebon. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

PEKALIPAN, AYOCIREBON.COM -- Warga Tionghoa menyebutnya sembahyang Imlek. Nyatanya, tak semua orang melakukannya.

Sekitar 18 jam sebelum malam pergantian tahun, hio dinyalakan di rumah-rumah sebagai perlambang doa yang dipanjatkan bagi para leluhur.

Empat pigura menampakkan foto diri sepasang pria dan wanita di atas hiolo (altar). Dari tampilannya, foto itu diambil dari masa lampau.

Mereka adalah orang tua Indrawati atau Gouw Yang Giok, warga Tionghoa yang juga pemerhati budaya Tionghoa Cirebon.

Di kediamannya di Kelurahan/Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, foto-foto diri itu dipajang di antara makanan, nasi, lauk pauk, kue-kue khas Imlek, dan buah-buahan.

AYO BACA : Toleransi dan Kebersatuan di Balik Imlek

Dilatari sebuah lukisan hitam putih negeri tirai bambu bertulisan kanji pada bagian atasnya, foto itu mengapit hio yang ujungnya terdapat bara kecil dan berasap.

Hio itu dinyalakan saat Indrawati atau akrab disapa Ibu Giok untuk melakukan sembahyang Imlek.

"Sembahyang di rumah menjelang Imlek tujuannya untuk mendoakan leluhur. Saya mendoakan orang tua agar selamat dan dalam lindungan Tuhan di alam baka," ungkapnya saat ditemui Ayocirebon.com seusai sembahyang Imlek di kediamannya, Jumat (24/1/2020).

Halaman:

Editor: Dadi Haryadi

Tags

Terkini

Thrifting Baju Bekas Jadi Tren Hits, Ilegal?

Kamis, 30 Juni 2022 | 13:00 WIB