Covid-19 Meniadakan Tradisi Ceng Beng, Warga Tionghoa Cirebon Doakan Leluhur di Rumah

- Rabu, 15 April 2020 | 14:35 WIB
Warga Tionghoa di Kota Cirebon berdoa di depan altar leluhur. (Ayocirebon.com/Erika Lia)
Warga Tionghoa di Kota Cirebon berdoa di depan altar leluhur. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

PEKALIPAN, AYOCIREBON.COM -- Ziarah tahunan bagi warga Tionghoa atau akrab dikenal Ceng Beng ditiadakan selama wabah Covid 19. Gantinya, berdoa di rumah masing - masing.

Sekretaris Yayasan Boen San Tong Winaon, Kota Cirebon, Samsul Liem mengungkapkan, akibat pandemi Covid 19, tradisi Ceng Beng tahun ini tidak digelar. Sedianya, Ceng Beng mereka laksanakan setiap 5 April setiap tahunnya.

"Tahun ini kami tidak mengadakan Ceng Beng. Seharusnya sih tanggal 5 April, tapi kami mengikuti instruksi pemerintah untuk tak berkumpul di tengah pandemi Covid 19," tuturnya kepada Ayocirebon.com, Rabu (15/4/2020).

Dalam Ceng Beng, warga Tionghoa biasanya mendatangi pemakaman (bong) untuk berdoa. Tradisi ini mirip ziarah nyekar atau ziarah kubur bagi umat muslim.

Selain mendoakan orang tua dan leluhur yang telah meninggal, mereka pula membersihkan kuburan. Buah-buahan, kue, hingga karangan bunga biasanya turut dibawa untuk diletakkan di atas makam.

Sebagai ganti ketiadaan Ceng Beng, warga Tionghoa pun mengganti tradisi itu dengan bersembahyang atau berdoa di rumah.

"Setelah ada instruksi pemerintah, doa untuk orang tua dan leluhur dilakukan di rumah masing - masing," ujarnya.

Menurut cerita rakyat Tiongkok, Ceng Beng konon berawal dari zaman kekaisaran Zhu Yuan Zhang, pendiri Dinasti Ming (1368-1644 M).

Zhu Yuan Zhang berasal dari sebuah keluarga miskin. Kemiskinan membuat orang tuanya terpaksa meminta bantuan sebuah kuil untuk mendidiknya.

Halaman:

Editor: Ananda Muhammad Firdaus

Tags

Terkini