Covid-19 Meniadakan Tradisi Ceng Beng, Warga Tionghoa Cirebon Doakan Leluhur di Rumah

- Rabu, 15 April 2020 | 14:35 WIB
Warga Tionghoa di Kota Cirebon berdoa di depan altar leluhur. (Ayocirebon.com/Erika Lia)
Warga Tionghoa di Kota Cirebon berdoa di depan altar leluhur. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

Saat dewasa, dia bergabung dengan kelompok pemberontakan anti Dinasti Yuan (Mongol). Kecakapannya membuat Zhu Yuan Zhang mendapat posisi penting dan akhirnya berhasil menaklukkan Dinasti Yuan (1271-1368 M).

Dia pun suatu hari diangkat menjadi kaisar. Zhu Yuan Zhang kembali ke desa untuk menjumpai orangtuanya ketika menjadi kaisar.

Sayangnya, orang tua Zhu Yuan Zhang sudah meninggal dunia. Pekuburan ya pun tak diketahui keberadaannya.

Demi mengetahui makam orang tuanya, dia memerintahkan seluruh rakyat berziarah dan membersihkan makam leluhur mereka masing-masing pada hari yang telah ditentukan.

Setiap makam yang telah dibersihkan dan menjadi milik keluarga rakyatnya, diberi tanda kertas kuning.

Setelah rakyatnya selesai berziarah, kaisar lalu memeriksa seluruh makam di desa itu. Makam-makam yang belum dibersihkan dan tanpa kertas kuning selanjutnya dia ziarahi dengan asumsi makam itu merupakan makam orang tuanya.

"Tujuan Ceng Beng sebenarnya untuk mempererat jalinan keluarga dan kerabat," tutur Samsul.

Selain meniadakan ziarah langsung ke pekuburan, Covid 19 juga membuat tempat-tempat peribadatan seperti vihara sepi.

"Untuk vihara (peribadatan) ditiadakan. Tapi, kalau klenteng masih karena tak ada waktu khusus sembahyang sehingga umat bisa datang kapan saja," paparnya.

Kecuali, sambungnya, khusus perayaan ditiadakan untuk menghindari umat berkumpul dalam keramaian.

Halaman:

Editor: Ananda Muhammad Firdaus

Tags

Terkini