Taliban Serukan Perdamaian Perang Rusia-Ukraina, Khawatirkan Keselamatan pada Warga Sipil

- Senin, 28 Februari 2022 | 00:05 WIB
Taliban Serukan Perdamaian Perang Rusia-Ukraina, Khawatirkan Keselamatan pada Warga Sipil (KARIM JAAFAR)
Taliban Serukan Perdamaian Perang Rusia-Ukraina, Khawatirkan Keselamatan pada Warga Sipil (KARIM JAAFAR)

AYOCIREBON.COM - Pemerintah Taliban Afghanistan telah menyerukan perdamaian antara Rusia dan Ukraina dan menyatakan keprihatinan atas korban sipil ketika pasukan Rusia mengancam ibukota Ukraina Kyiv.

Dilansir dari Newsweek, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Afghanistan Abdul Qahar Balkhi mengeluarkan pernyataan dalam bahasa Inggris di Twitter pada 25 November 2022 waktu setempat yang mendesak penyelesaian krisis melalui "dialog dan cara damai."

"Imarah Islam Afghanistan memantau dengan cermat situasi di Ukraina dan menyatakan keprihatinan tentang kemungkinan nyata adanya korban sipil," kata pernyataan itu.

Baca Juga: Perang Rusia-Ukraina, AS Bela Ukraina, Tiongkok Dukung Siapa?

"Imarah Islam menyerukan pengekangan oleh kedua belah pihak. Semua pihak harus berhenti mengambil posisi yang dapat mengintensifkan kekerasan," kata Taliban.

Pernyataan itu melanjutkan: "Imarah Islam Afghanistan, sejalan dengan kebijakan luar negerinya yang netral, menyerukan kedua belah pihak yang berkonflik untuk menyelesaikan krisis melalui dialog dan cara-cara damai.

"Imarah Islam juga meminta pihak-pihak yang berkonflik untuk memperhatikan menjaga kehidupan mahasiswa dan migran Afghanistan di Ukraina."

Baca Juga: Putin Kutip Piagam PBB saat Deklarasi Perang Rusia-Ukraina

Taliban kembali berkuasa di Afghanistan setelah penarikan terakhir pasukan AS dari negara itu pada Agustus 2021. AS telah menginvasi Afghanistan pada 2001 setelah serangan teroris 9/11.

Pada bulan Januari, PBB mengatakan telah menerima "tuduhan yang dapat dipercaya" bahwa lebih dari 100 mantan pejabat pemerintah Afghanistan, anggota pasukan keamanan dan orang-orang yang bekerja dengan AS dan pasukan sekutu telah tewas sejak pengambilalihan Taliban.

Halaman:

Editor: Hengky Sulaksono

Sumber: Newsweek

Tags

Artikel Terkait

Terkini