Perang Rusia Ukraina, Kiev Ogah Ngaku Kalah di Mariupol

- Senin, 21 Maret 2022 | 17:20 WIB
Ilustrasi Perang Rusia Ukraina (serhii nuzhnenko/Wikimedia)
Ilustrasi Perang Rusia Ukraina (serhii nuzhnenko/Wikimedia)

AYOCIREBON.COM - Saga perang Rusia Ukraina terus berlanjut. Pemerintah di Kiev ogah ngaku kalah dari Rusia di Mariupol, salah satu kote sentral peperangan.

Pejabat Ukraina dengan tegas menolak permintaan Rusia agar pasukan mereka di Mariupol meletakkan senjata dan mengibarkan bendera putih pada hari Senin, 21 Maret 2022 waktu setempat.

Pertempuran Mariupol terus terjadi secara intens, bahkan ketika serangan Rusia di daerah lain telah dipandang mandek hingga membikin pemerintah dan analis Barat melihat konflik yang lebih luas menggiling menjadi gesekan.

Baca Juga: Tiongkok Ogah Sebut Perang Rusia-Ukraina sebagai Invasi, Sentil NATO dan AS

Rusia telah menyerang kota selatan yang terkepung di Laut Azov, menghantam sebuah sekolah seni yang menampung sekitar 400 orang hanya beberapa jam sebelum menawarkan untuk membuka dua koridor di luar kota, menurut pejabat Ukraina.

Pejabat Ukraina menolak proposal Rusia untuk menyerah demi jalan keluar yang aman dari Mariupol.

“Tidak ada pembicaraan tentang penyerahan, peletakan senjata,” kata Wakil Perdana Menteri Ukraina Irina Vereshchuk kepada outlet berita Pravda Ukraina. “Kami telah memberi tahu pihak Rusia tentang ini.”

Walikota Mariupol Piotr Andryushchenko juga menolak tawaran menyerah. Menurut kantor berita Interfax Ukraina, ia mengatakan dalam sebuah posting Facebook bahwa dirinya tidak perlu menunggu sampai deadline yang ditentukan Moskow untuk menanggapi dan mengutuk Rusia.

Kolonel Jenderal Rusia Mikhail Mizintsev telah menawarkan dua koridor — satu ke timur menuju Rusia dan yang lainnya ke bagian barat dari Ukraina. Dia tidak mengatakan apa yang direncanakan Rusia jika tawaran itu ditolak.

Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan pihak berwenang di Mariupol dapat menghadapi pengadilan militer jika mereka berpihak pada apa yang digambarkan sebagai "bandit", berdasarkan laporan kantor berita negara Rusia RIA Novosti.

Halaman:

Editor: Hengky Sulaksono

Sumber: Associated Press

Tags

Artikel Terkait

Terkini