Gelombang Panas Sebabkan Ribuan Burung di India Dehidrasi, Ahli Sebut Dampak Pemanasan Global

- Kamis, 12 Mei 2022 | 15:01 WIB
Warga India berjalan di sekitar Taj Mahal. India saat ini tengah dilanda gelombang panas yang disebut ahli sebagai dampak dari pemanasan global. (Pixabay/nonmisvegliate)
Warga India berjalan di sekitar Taj Mahal. India saat ini tengah dilanda gelombang panas yang disebut ahli sebagai dampak dari pemanasan global. (Pixabay/nonmisvegliate)

Dokter di rumah sakit hewan yang dikelola kelompok nirlaba Jivdaya Charitable Trust di Ahmedabad mengatakan, mereka telah merawat ribuan burung dalam beberapa minggu terakhir.

Setiap hari, tim penyelamat membawa puluhan burung, seperti merpati atau layang - layang yang pingsan karena terkena gelombang panas.

"Tahun ini adalah salah satu yang terburuk dalam beberapa waktu terakhir. Kami telah melihat peningkatan 10% jumlah burung yang perlu diselamatkan," kata Manoj Bhavsar yang telah menyelamatkan burung selama lebih dari satu dekade.

Dokter hewan di rumah sakit hewan memberikan tablet multivitamin dan menyuntikkan air ke mulut para burung yang mengalami dehidrasi.

Baca Juga: Berlangsung sampai Pertengahan Mei 2022, Simak Tips Jaga Kondisi Tubuh saat Suhu Panas

Pejabat kesehatan di Gujarat telah mengeluarkan imbauan kepada rumah sakit untuk mendirikan bangsal khusus bagi serangan panas dan penyakit terkait lain karena kenaikan suhu.

Para ahli terkemuka menyebut gelombang panas yang melanda India dan negara lain merupakan dampak dari pemanasan global.

Pembakaran bahan bakar fosil dan perusakan hutan telah melepaskan cukup banyak gas rumah kaca ke atmosfer sehingga meningkatkan frekuensi dan intensitas banjir, kekeringan, kebakaran hutan, dan badai tropis.

"Tidak ada keraguan bahwa perubahan iklim adalah pengubah permainan besar dalam hal panas yang ekstrem," ujar seorang ilmuwan di Institut Grantham Imperial College London, Friederike Otto dilansir Republika dari Aljazirah, Kamis, 12 Mei 2022.

Dalam penelitiannya, Otto peneliti lain, Ben Clarke dari Universitas Oxford menyebut, setiap gelombang panas di dunia sekarang menjadi lebih kuat dan lebih mungkin terjadi karena perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia.***

Halaman:

Editor: Erika Lia

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sri Lanka Bangkrut, Babak Belur Dihajar Utang

Kamis, 23 Juni 2022 | 11:35 WIB