Teks Ceramah dan Khutbah Idul Fitri 1443 Hijriah Singkat Tentang Bentuk Syukur Sambut Hari Kemenangan

- Jumat, 22 April 2022 | 11:12 WIB
Teks Ceramah dan Khutbah Idul Fitri 1443 Hijriah Singkat Tentang Bentuk Syukur Sambut Hari Kemenangan (freepik)
Teks Ceramah dan Khutbah Idul Fitri 1443 Hijriah Singkat Tentang Bentuk Syukur Sambut Hari Kemenangan (freepik)

1. Syukur bil janan, syukur dengan hati. Merasa berterima kasih atas beragam nikmat besar yang telah kita terima dari Allah ta’ala.

2. Syukur bil lisan, syukur dengan lisan, kita ungkapan kegemberiaan kita dengan mengucap hamdalah, takbir, tahmid dan perkataan-perkataan baik yang lain.

3. Syukur bil arkan, syukur dengan anggota badan, kita tunaikan shalat Idul Fitri, kita buat ibadah badaniyah yang lain, silaturahim, bersedekah dan lain sebagainya.

Baca Juga: Materi Kultum Subuh Ramadhan Singkat Padat: Pahala Menjaga Konsisten Sholat Tarawih

Jangan kita artikan, untuk mengungkapkan rasa syukur di hari raya harus dengan bentuk menyajikan makanan yang serbalezat, pakaian dan kendaraan yang mewah.

Ada sebuah kisah. Di hari raya seperti ini, dahulu kala, ada masyarakat yang datang sowan ke kediaman amirul mukminin semasa kekhalifahan umawiyah, mereka ingin menyampaikan tahni’ah, ucapan selamat hari raya kepada Umar bin Abdul Aziz.

Setelah orang-orang tua pulang, giliran anak-anak remaja masuk ke rumah sang khalifah, di antara mereka yang duduk, justru terdapat putra khalifah yang memakai pakaian yang lama, lusuh, sedangkan tampak kontras tampak pada anak-anak rakyat jelata justru memakai pakaian yang serbabaru.

Tiba-tiba Umar bin Abdul Aziz menangis tersedu-sedu, lalu anaknya datang mendekat. “Ayah, apa gerangan yang membuat engkau menunduk dan menangis begini?”

Umar menyahut, “Tak ada masalah, ananda. Aku hanya kawatir hatimu runtuh karena pakaianmu lusuh, pakaian lama, sedangkan pakaian anak rakyat jelata saja berpakaian yang serbabaru.”

Kemudian dengan sigap, putra Umar menjawab, “Ayah, hati runtuh hanya layak kepada orang yang kenal kepada Allah namun ia mendurhakainya, bermaksiat kepadanya, ia menyakiti hati ibundanya, ia menyakiti hati ayahnya. Adapun bagiku, demi Allah bahwa id hanya dimiliki bagi orang yang taat, patuh atas segala perintah Allah ta’ala”.

Halaman:

Editor: Gita Esa Hafitri

Tags

Artikel Terkait

Terkini