Geliat Laju Kebangkitan dan Optimisme Pertumbuhan Ekonomi via Jalur Cepat Tol Cipali

- Senin, 28 Februari 2022 | 11:40 WIB
Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) yang dikelola ASTRA Tol Cipali (Ayocirebon/Faqih Rohman)
Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) yang dikelola ASTRA Tol Cipali (Ayocirebon/Faqih Rohman)

AYOCIREBON.COM - Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) diresmikan Jokowi pada 2015. Pada saat peresmiannya, presiden menitip harapan kepada tol sepanjang 116 kilometer (km) ini agar ia mampu menjadi gelanggang yang meningkatkan ekonomi, tak cuma tempat lalu lalang bagi roda-roda berkerangka besi.

Harapan itu pada mulanya berjalan mulus, laiknya tekstur aspal di Tol Cipali. Jalan tol ini langsung digunakan jutaan pemudik yang melintas dari barat ke timur, pun sebaliknya. Pemudik yang biasanya lebih banyak menghabiskan waktu bermacet-macetan di jalanan, menjadi punya waktu lebih senggang.

Implikasinya, mereka jadi punya lebih banyak waktu bersama keluarga, saling beranjangsana dengan tetangga dan kerabat, hingga bertamasya keliling atau lintas kota tujuan mudik.

Perputaran uang yang mengendap saat bermacet-macetan, kemudian menjadi lebih lancar tersirkulasi. Belanja kue-kue lebaran tambahan bagi keluarga, saling membagi bingkisan saat beranjangsana, dan agenda tamasya keluarga membuat perpindahan dan perubahan bentuk uang jadi semakin cepat.

Itulah gambaran mikro pengaruh kehadiran Tol Cipali bagi perputaran roda ekonomi di musim lebaran, terutama pada tahun 2015 sampai 2019. Menjelang musim lebaran keenam semenjak dibuka, Tol Cipali seolah mati suri. Biangnya, lantaran pagebluk datang mengamuk.

Banyak lini perekonomian dipaksa tiarap, tak terkecuali sektor transportasi yang ikut terimbas. Tapi, bukan berarti ruang untuk berikhtiar tak ada sama sekali. Faktanya, selama pandemi COVID-19 melanda, Tol Cipali tetap beroperasi dan menjadi arteri bagi denyut nadi aliran logistik pokok dari Jawa Barat (Jabar) dan Jakarta ke timur, juga sebaliknya.

Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menyebut Tol Cipali bisa meningkatkan efisiensi pengangkutan barang, terutama berkaitan dengan perubahan waktu tempuh, biaya BBM, biaya repair/maintenance, dan keamanan.

Waktu tempuh armada logistik berkurang sekitar 3-5 jam. Biaya BBM berkurang karena kendaraan di tol akan mencapai kecepatan yang optimal (RPM rendah, kecepatan lebih tinggi). Pengurangan biaya juga akan diperoleh untuk repair dan maintenance karena optimalisasi mesin.

Dampak efisiensi Tol Cipali ini makin terasa penting tatkala ada gangguan. Saat ruas KM 122 Tol Cipali arah Jakarta amblas Februari 2021 lalu, Ketua Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Zaldy Ilham Masita menyebut kerugian lantaran tersendatnya arus logistik diperkirakan mencapai puluhan miliar setiap harinya.

Di luar lebaran dan hantaran logistik harian, Tol Cipali juga diproyeksi menjadi katalis pembangunan ekonomi, terutama di kawasan Segitiga Rebana yang menjadi zona ekonomi anyar di Jabar.

Halaman:

Editor: Hengky Sulaksono

Tags

Artikel Terkait

Terkini