Yamaha

Pasang Surut Posisi Perempuan dalam Panggung Sejarah Islam

  Kamis, 27 April 2017   
Ilustrasi. (Al Jazeera/Getty Images/Galo)

CIREBON, AYOCIREBON.COM -- Tiga peradaban besar Islam dunia pernah memperlihatkan peran serta posisi aktivitas kaum perempuan. Namun pada akhirnya, peran dan posisi tersebut harus terpinggirkan dari ruang publik oleh adanya kebijakan negara.

Ketua Yayasan Fahmina Cirebon KH Husein Muhamad menuturkan bahwa pusat-pusat peradaban Islam yang terdapat di Baghdad, Andaluisa, dan Damaskus telah memperlihatkan fakta sejarah bagaimana peranan kaum perempuan pada masa sejarah Islam awal. Banyak di antara mereka (kaum perempuan) yang menjadi ulama, cendekiawan, dan profesional dengan berbagai macam keahlian dengan tingkat intelektualitasnya yang bahkan sebagiannya berada di atas kaum pria.

"Islam itu hadir karena sebuah cita-cita kemanusian, untuk membebaskan penindasan, diskriminasi, kebodohan dengan perwujudan kesetaraan, keadilan dan ilmu pengetahuan untuk semua manusia baik untuk laki-laki ataupun perempuan," ujarnya dalam seminar bertemakan Peran Ulama Perempuan dalam Meneguhkan Nilai Keislaman, Kebangsaan dan Kemanusiaan pada Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) di Pondok Pesantren Kebon Jambu, Babakan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, Rabu (26/4).

Banyak buku-buku yang mencatat atau merekam peran ulama dan cendekiawan perempuan seperti buku Al-Ishbah Fi Tamyiz Al-Shahabah yang ditulis oleh Ibnu Hajar mengenai 500 ahli hadits yang berasal dari kaum perempuan. Para perempuan tersebut banyak menjadi tokoh spritual dengan moralitas yang baik.

Husein menyayangkan jika sejarah Islam selanjutnya menjadikan kaum perempuan kembali kepada aktivitasnya yang seolah-olah “dikerangkeng" dengan pembatasan aktivitas intelektual, sosial, budaya, dan politik.

"Mereka itu seperti dilupakan dan juga dipinggirkan kembali, dengan dalik kasih sayang, perlindungan, dan penghormatan atas nama perempuan," kata Husein. 

Lebih lanjut, Husein berpendapat, terdapat dua kata "sakti" yang membelenggu aktivitas perempuan, yakni "menjaga melindungi" dan "menjaga kesucian moral". Jargon-jargon yang seperti inilah yang membuat dunia sepertinya kehilangan cara bagaimana untuk melindungi tanpa membatasi.

Namun jika dilihat kembali, pada awal abad ke-20 telah ada upaya yang menggugat dan menentang keterpinggiran perempuan yang dimulai dari Rifa'ah Rafi' Al-Thahthawi. Dia (Rifa'ah Rafi' Al-Thahthawi) merupakan orang pertama yang mengkritik pandangan konservatif yang memarjinalkan dan merendahkan kaum perempuan. 

"Ia mengkampanyekan kesetaraan dan keadilan gender serta menyerukan kembali dibukanya akses pendidikan yang sama bagi kaum perempuan," jelas Husein. 

Dari merekalah, kemudian lahir para ulama dan aktivis perempuan di berbagai negara berpenduduk muslim yang tampil dan muncul kembali di panggung sejarah Islam.


  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar