Yamaha

Menag RI Lukman Hakim Bicara Tentang KUPI 2017

  Jumat, 28 April 2017   
Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin bersama dengan anggota Kongres Perempuan Ulama Indonesia (KUPI) 2017 di Pesantren Kebon Jambu Al Islamy, Kabupaten Cirebon, Kamis (27/4). (AyoCirebon/Faqih Rohmah)

CIREBON, AYOCIREBON.COM -- Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifuddin menutup Kongres Ulama Perempuan Indonesia atawa KUPI yang digelar di Pesantren Kebon Jambu Al Islamy Babakan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon pada hari kemarin, Kamis, 27 April 2017.

"Dengan senantiasa memohon ridho dari Allah SWT, Tuhan yang maha kuasa dan dengan bersama-sama mengucapkan Hamdallah Alhamdulillahirobbilalamin maka kongres Kongres Ulama Perempuan Indonesia pada sore hari ini secara resmi ditutup, semoga Allah SWT memberkahi kita semua," ujar Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin.

Dalam sambutannya, Lukman memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Kongres Ulama Perempuan Indonesia karena dalam kongres ini tidak hanya mengkaji substansi permasalahan tetapi prosesnya pun ikut dikaji. Ini merupakan bentuk inisitaif masyarakat terkhusus kaum perempuan yang berupaya untuk membuat satu kongres (kongres perempuan) pertama di dunia.

"Saya sebagai Menteri Agama, ingin memghaturkan terima kasih yang tidak terhingga dan apresiasi setinggi-tingginya kepada semua pihak, para penggagas, inisiator, pemrakarsa, seluruh panitia dan semua peserta yang telah melahirkan rumusan. Mudah-mudahan akan meningkatkan tidak hanya kaum perenpuan itu sendiri tapi peradaban kita di Indonesia dan di dunia ini," ujarnya. 

Lukman mencatat dalam kongres ini ada tiga hal yang meruoakan makna strategis, pertama kongres ini berhasil memperjuangkan keadilan dalam relasi laki-laki dan perempuan, karena memiliki tingkat urgensi yang cukup tinggi. Seringkali ayat-ayat suci, karena pemahaman yang terbatas, langsung maupun tidak langsung mempengaruhi aspek (keadilan gender) ini.

Kedua, kongres ini mampu melakukan tidak hanya pengakuan tetapi juga revitalisasi peran ulama perempuan sejak zaman Siti Aisyah, istri Rasulullah SAW sampai  di Idonesia. Tidak kalah pentingnya adalah membangun jaringan dari seluruh wilayah Nusantara sehingga jaringan ulama perempuan bisa terbangun dan dikembangkan.

Ketiga, kongres ini berhasil meneguhkan dan menegaskan bahwa moderasi Islam harus senantiasa dikedepankan. Islam yang tidak menyudutkan posisi perempuan. Dan, sekali lagi, isu ini kini semakin relevan, sehingga (KUPI) berdampak pada kemaslahatan bersama untuk peradaban dunia, di mana Islam dapat memberikan kontribusi bagi peradaban dunia.

Hasil Rekomendasi KUPI

Kongres yang berlangsung selama tiga hari dari 25-27 April 2017 ini menghasilkan musyawarah keagamaan yang menyoroti tiga persoalan yakni kekerasan seksual, perkawinan anak, dan perusakan lingkungan yang dibacakan oleh ulama perempuan dari Banjarmasin, Batam dan Makassar. 

Menanggapi rekomendasi KUPI terkait Regulasi UU Perkawinan, Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin mengatakan bahwa judicial review tentang batasan usia menikah dari 16 tahun menjadi 18 tahun ditolak, karena menurut para hakim ini adalah kewenangan legislatif.

"Mereka (para hakim) khawatir ketika ada kebutuhan meningkatkan usia, karena sudah masuk judicial review maka tidak bisa dinaikkan lagi. Karena pemerintah juga punya hak untuk melakukan review, maka saya akan coba bawa rekomendasi kongres ini (kepada pemerintah). Diharapkan kongres ini bisa merumuskan rekomendasinya menjadi lebih teknis," katanya.

Kemudian terkait rekomendasi tentang Ma'had Ali untuk perempuan, Lukman menjelaskan jika pihaknya sudah membuka diri, dengan dibuktikan saat ini sudah ada 13 Ma'had Ali.

"Kami akan mempersiapakan kurikulum dan segala sesuatu yang terkait Ma'had Ali untuk memperbanyak ulama perempuan," jelasnya.

(Faqih Rohman Syafei)

Ayo baca : Rekomendasi KUPI 2017, dari Kekerasan Seksual hingga Perusakan Alam


  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar