Yamaha

Ini Peninggalan Gubernur Jendral Raffles di Keraton Kanoman

  Rabu, 19 September 2018   Faqih Rohman Syafei
Lonceng Gajah Mungkur merupakan salah satu peninggalan Gubernur Jenderal Inggris Thomas Stamford Raffles di Keraton Kanoman Cirebon. (Faqih/ayobandung)
LEMAHWUNGKUK, AYOCIREBON.COM -- Gubernur Jenderal Inggris Thomas Stamford Raffles memiliki benda peninggalan di Keraton Kanoman Cirebon. Satu dari tiga benda tersebut pernah digunakan sebagai penanda waktu salat.
 
Juru Bicara Kesultanan Kanoman, Ratu Raja Arimbi Nurtina menerangkan ketika Raffles berkuasa di Hindia Belanda pada tahun 1811-1816 masehi, ia pernah berkunjung ke Keraton Kanoman Cirebon. Selain berkunjung, Raffles pun memberikan cinderamata ke Sultan Komarudin II atau Sultan Kanoman VI. 
 
"Ketiga benda tersebut yaitu, sebuah lonceng, kacip atau alat pemotong tembakau, dan mesin jahit buatan Inggris," katanya kepada ayocirebon.com, Rabu (19/8/2018).
 
Dia menerangkan ketiga hadiah tersebut merupakan bukti adanya pengakuan dan penghormatan Pemerintah Kolonial Inggris kepada Kesultanan Kanoman Cirebon sebagai salah satu kesultanan yang mempunyai pengaruh di Nusantara.
 
"Dalam kurun lima tahun masa pemerintahan Raffles, Keraton Kanoman mendapat kunjungan kehormatan," katanya.
 
Sambungnya, ketika itu, Jawa dan Sumatera pada tahun 1811-1816 masehi berada di bawah kekuasaan Kerajaan Inggris. Sesuai dengan kesepakatan konvensi London yang secara rahasia ditandatangani bersama dengan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda.
 
Arimbi menjelaskan lonceng buatan Inggris itu kemudian dikenal dengan nama Lonceng Gajah Mungkur yang bermakna seperti hewan gajah yang sedang membelakangi. 
 
"Lonceng Gajah Mungkur berada di sebelah selatan Langgar Keraton. Bangunan tempat lonceng terpengaruhi gaya Eropa, bagian bawahnya pernah dijadikan garasi mobil Sultan dan atasnya tempat lonceng," jelasnya. 
 
Karena keberadaannya dekat dengan Langgar Kraton, Lonceng Gajah Mungkur pernah difungsikan sebagai pertanda waktu salat, menggantikan peran bedug. Rutin sehari lima kali dibunyikan, namun saat ini sudah tidak difungsikan lagi. 
 
"Terakhir digunakan sebagai pertanda waktu shalat tahun 1970-80an. Tetapi sesekali digunakan ketika upacara panjang jimat saat Muludan," pungkasnya.

AYO BACA : Melongok Potensi Wisata Keraton Kasepuhan Cirebon

AYO BACA : Ngeri, Sumur Upas di Keraton Cirebon Mengandung Racun


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar