Yamaha

Laksamana Cheng Hwa Berandil Besar di Awal Penyebaran Agama Islam di Jabar

  Selasa, 27 November 2018   Faqih Rohman Syafei
Laksamana Cheng Hwa atau dikenal juga Cheng Ho di klenteng Sam Po Kong, Semarang. (historia)

KEDAWUNG, AYOCIREBON.COM--Berlabuhnya Laksamana Cheng Hwa atau dikenal juga Cheng Ho di Cirebon berjasa dalam penyebaran agama Islam di Jawa Barat. Cheng Hwa pun meninggalkan banyak peninggalan bersejarah di Cirebon. 

Sejarawan Universitas Padjadjaran, Nina Herlina Lubis, menerangkan Cheng Hwa melakukan ekspedisi pelayaran pada tahun 1405 - 1433. Sebelum sampai di Cirebon sejumlah tempat di Nusantara telah disinggahinya.

"Laksamana Cheng Hwa melakukan ekpedisi atas perintah Kaisar Yongle. Dia melakukan ekspedisi dari ujung timur hingga barat. Perjalanan ekspedisinya dilakukan sebanyak enam kali," ujarnya kepada ayocirebon.com, Senin (26/11/2018).

Di Cirebon, Cheng Hwa berlabuh di Muara Jati pada tahun 1406. Ketika itu, wilayah Cirebon masuk ke dalam penguasaan Keratuan Singhapura yang merupakan kerajaan vasal atau kecil menginduk ke Kerajaan Galuh dibawah kepemimpinan Prabu Wastu Kencana. 

"Sebagai seorang Muslim, Ekspedisi Cheng Hwa dilakukan dengan misi damai, perdagangan dan juga menyebarkan ajaran agama Islam," katanya.

Dia mengatakan ketika itu Cheng Hwa memimpin ratusan kapal. Setipa kapalnya memiliki panjang 120 meter dan lebar 50 meter, sedangkan kapal yang berlabuh di Muara Jati jumlahnya sekitar 73 kapal.

"Ukuran kapalnya tiga kali lebih besar dari kapal Santa Fe Nina milik Colombus. Rombongan Cheng Hwa merupakan rombongannya gede dan mereka memerlukam air," ucapnya. 

Nina mengatakan di Cirebon, rombongan Cheng Hwa menetap dalam waktu yang cukup lama. Selama itu, pula penduduk Muara Jati diajarkan tentang ilmu navigasi dan beragam ilmu lainnya. Karya monumental peninggalan Cheng Hwa yakni menara mercusuar, namun kini banguanan tersebut sudah tidak ada. 

"Secara tidak langsung mereka menyebarkan Islam. Karena membawa dua ulam besar dari negeri Campa yaitu Syekh Quro dan Syekh Nur Jati," sebutnya. 

Dijelaskannya, Syekh Quro kemudian menetap di Karawang dan mendirikan pesantren. Salah satu muridnya Nyi Subang Larang yang masih keturunan Keratuan Singhapura belajar agama Islam di pesantren Syekh Quro. 

Singkat cerita, Nyi Subang Larang dipersunting oleh Raja Sunda Sri Baduga Maharaja. Sebelumnya ditentang oleh Syekh Quro karena tidak diperbolehkan pernikahan beda agama, akhirnya Sri Baduga Maharaja terlebih dahulu masuk Islam.

"Pernikahan tersebut, Nyi Subang Larang memiliki tiga anaka yaitu Nyi Rara Santang, Raden Walangsungsang, dan Raden Sangara. Nyi Rara Santang bersama kakaknya lalu belajar ilmu agama ke Mesir," jelas Nina. 

Ketika berada di Mesir Nyi Rara Santang dilamar oleh Sultan Mesir. Salah satu anaknya, Raden Syarif Hidayatullah yang kemudian dikenal dengan nama Sunan Sunung Jati. Syarif diminta ibunya kembali ke tanah Jawa untuk menyebarkan agama Islam. 

"Bisa dikatakan Cheng Hwa berjasa dalam penyebaran agama Islam awal di Jawa Barat," pungkasnya.
 


  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar