Yamaha Aerox

Taman Batu Hanjuang, Entitas Permintaan Maaf pada Alam

  Selasa, 22 Januari 2019   Erika Lia
Salah satu sudut Taman Batu Hanjuang berlatar belakang gunung batu eks galian di Desa Setianegara, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan. (Erika Lia/Ayocirebon.com)

KUNINGAN, AYOCIREBON.COM--Berawal dari rasa bersalah, seorang pria di Kabupaten Kuningan mengeksplorasi dirinya sendiri dan mengubah gunung batu yang dulu dieksploitasinya menjadi sebuah taman.

Rusman (48) tak pernah berniat membuat taman yang akan dikunjungi banyak orang. Dia semula hanya ingin meminta maaf pada alam.

Selama sekitar lebih dari sepuluh tahun, Rusman ‘mengupas’ salah satu bagian dari gunung batu di Desa Setianegara, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan. Dia mengaku, kala itu nafsu mengeruk keuntungan pribadi menguasai dirinya.

Keterlibatan Rusman sebagai salah satu pengusaha galian ketika itu dimotivasi kekesalan karena usaha budidaya pepaya yang dia lakoni merugi. Selama dua tahun, dia mengontrak tanah seluas lime haktare dan menjual hasil budidayanya ke Cirebon.

“Awalnya saya usaha budidaya pepaya dengan mengontrak tanah 5 hektare selama dua tahun. Tapi setelah kontrak habis, saya malah rugi dan akhirnya berpikir usaha lain,” katanya kala ditemui ayocirebon.com.

Usaha lain yang dimaksud berupa penggalian gunung batu di lokasi yang kini menjadi Taman Batu Hanjuang. Dia pun tak peduli dengan keharusan perizinan yang harus dia ditempuh untuk usaha galian tersebut.

AYO BACA : Objek Wisata Kura-Kura Belawa di Cirebon Semakin Menarik

Sejak sekitar kurun waktu 2003-2015, batu-batu yang digali Rusman oleh pekerja-pekerjanya dikirim ke Cirebon. Dengan status usaha ilegal, Rusman mengeruk keuntungan Rp500 juta/tahun.

Keuntungan yang tak bisa dibilang sedikit, sampai suatu ketika sebuah kesadaran menyelusup di hatinya. Sebuah kesadaran yang menurutnya lebih mengarah pada perasaan bersalah tiba-tiba datang menghinggapi.

“Saya seperti dapat hidayah. Saya merasa bumi sudah tua dan kalau terus saya ganggu, dia (bumi) akan murka dan saya harus minta maaf,” ungkapnya seraya mengutip ringkas terjemahan salah satu ayat Alquran.

Seketika itu, Rusman merasa harus mengalihkan orientasinya. Didorong pula rasa rindunya pada alam, dia mulai menanami area gunung yang dulu dieksploitasinya dengan sejumlah tanaman yang sebagian diambil dari perkebunan liar, bahkan komplek kuburan.

“Saya sempat dibilang gila karena ngambil tanaman dari kuburan dan kebun liar,” cetusnya setengah mengenang.

Namun, dia tak peduli dan terus menanam. Sayangnya, sebagian tetumbuhan yang dia tanam di eks lokasi galian seluas 1,5 hektare itu enggan tumbuh. Tanah tempat tetumbuhan itu ditanam berupa pasir sehingga menyulitkan Rusman merealisasikan niatnya.

AYO BACA : Ade Irma Suryani Cirebon Waterland Jadi Destinasi Wisata Favorit Muda-Mudi

Suatu hari dia menemukan tanaman berdaun merah yang dikenalnya dengan nama Hanjuang. Ketika mencoba menanam dan menumbuhkannya, Hanjuang membuktikan diri berhasil tumbuh di area tersebut.

“Setelah 15 hari saya amati pertumbuhannya, tanaman hanjuang itu malah tumbuh akar dan tak mati seperti tanaman lain. Hanjuang termasuk tanaman tahan air,” bebernya.

Setelah hanjuang sukses tumbuh, tanaman lain yang coba ditanam Rusman pun turut tumbuh hingga kemudian terbentuk sebuah taman. Suami dari Maemunah yang telah dikaruniai empat orang anak ini mengaku, secara alamiah, dia kemudian menambahkan sejumlah pelengkap lain seperti gazebo kecil.

Semula, gazebo di taman itu hanya dimanfaatkan dirinya untuk menyepi. Perlahan, taman itu justru menarik perhatian pelintas yang lama-kelamaan mencoba menjajakinya.

Pesona utama Taman Batu Hanjuang tentu saja berupa gunung batu yang menjadi latar belakang taman. Rusman pun selanjutnya melengkapi taman dengan kolam renang, spot-spot berornamen unik, kantin, musala, termasuk toilet umum, manakala lebih banyak orang dari berbagai kota tertarik untuk datang. Terlebih, Rusman mengutamakan kebersihan untuk tamannya.

“Mereka rata-rata ingin berfoto atau bersantai di sekitar taman,” ujarnya seraya menyebutkan taman dibuka untuk umum pada pukul 07.00-17.00 WIB.

Rusman memberlakukan tiket masuk untuk setiap kendaraan. Bagi pengendara roda dua cukup membayar Rp10 ribu, sedangkan kendaraan roda empat Rp30 ribu.

“Tiket hanya diberlakukan bagi kendaraannya saja, bukan per orang. Saya cuma ingin pengunjung yang datang senang menikmati alam dan akhirnya ikut menjaga. Ini bentuk permintaan maaf saya pada alam,” tegasnya.

Di akhir pembicaraan, dia menyisipkan sebuah pesan untuk lebih memanfaatkan alam sesuai kebutuhan. Dia meyakinkan, eksploitasi bermotivasi keuntungan pribadi hanya akan membuat manusia kehilangan ‘rumah’.

AYO BACA : Ayo Berwisata ke Bumi Pelangi di Kuningan


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar