bank bjb
  
Yamaha

Di Ipukan, Hilang Halimun Tersingkaplah Lansekap

  Rabu, 20 Maret 2019   Erika Lia
Di Ipukan, Hilang Halimun Tersingkaplah Lansekap
Salah satu area berkemah di Ipukan, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, yang menawarkan pengunjung menikmati alam pegunungan sekaligus lansekap kota di bawahnya. (Nono Rahmat/google maps)

Selamat datang di Jawa Barat,

Informasi ini dipersembahkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Diparbud) Provinsi Jawa Barat.

Supported by: Ayo Media Network

KUNINGAN, AYOCIREBON.COM -- Di Ipukan, Kabupaten Kuningan, terkadang halimun (kabut) datang melingkupi bukit-bukit yang memagari Gunung Ciremai. Tapi, ketika kabut merambat pergi, tersingkaplah lansekap kota yang ditandai nyalanya lampu-lampu.

Ipukan berada di Kampung Palutungan, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur. Di atas lahan seluas sekitar tiga hektar ini, Ipukan menjadi salah satu destinasi wisata populer di Kuningan.

Menawarkan kekayaan alam khas pegunungan, Anda bisa menikmati segarnya Curug Cisurian dan Curug Cipayung yang ada di lokasi ini. Ipukan juga menjadi salah satu tujuan para pecinta alam yang hendak berkemah.

Anda pun bisa berkemah di sini untuk menikmati suasana alam. Dari atas salah satu bukit, Anda bisa pula mengamati pemandangan kota Kuningan dan Cirebon hingga Laut Jawa.

"Pengunjung yang ingin berkemah tapi tak membawa tenda bisa sewa kepada pengelola," kata pengelola Ipukan, Ajat Sudrajat kepada Ayocirebon.com.

Pengelola menyewakan Rp125 ribu/tenda siap pakai dengan kapasitas empat orang. Pihak pengelola memiliki sedikitnya 50 unit tenda.

Tak usah khawatir bila Anda lapar, cukup hubungi pengelola dan meminta mereka menyiapkannya bagi Anda. Selain tenda yang disewakan pengelola, di sini ada pula area kemping yang dikerjasamakan dengan pihak swasta bernama Star Camp.

Khusus Star Camp, disediakan 15 tenda siap pakai dengan fasilitas lain berupa bantal, selimut, pemanas air, api unggun, dan sarapan berupa roti bakar serta susu segar lokal. Bila pun kurang, mereka akan menyiapkan tenda tambahan. Untuk tenda berkapasitas 2-3 orang dihargai Rp500 ribu/malam, tenda berkapasitas empat orang Rp600 ribu/malam, dan tenda berkapasitas enam orang Rp700 ribu/malam.

"Di sini juga terdapat fasilitas bermain seperti flying fox dan panahan," ujar Ajat.

Ipukan sendiri dalam bahasa Sunda berarti pemupukan. Awalnya, jelas Ajat, Ipukan merupakan kawasan pembibitan tanaman khas pegunungan, salah satunya pinus, tanaman paku-pakuan, dan lainnya.

Sepanjang 2012-2014, lanjutnya, Ipukan dirintis sebagai lokasi wisata. Di bawah naungan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai, Ipukan kini dikelola kelonpok masyarakat Desa Cisantana.

"Untuk masuk kemari, setiap orang dikenakan biaya Rp15 ribu/orang," ujarnya.

Selain sebagai kawasan perlindungan flora, Ipukan juga rupanya dilokalisir sebagai kawasan perlindungan fauna. Setidaknya terdapat tiga hewan dilindungi di sini masing-masing katak merah, surili, dan lutung.

Sejak dijadikan lokasi wisata, Ajat menyebutkan, sedikitnya 50 orang datang berkunjung pada hari biasa. Jumlah itu meningkat menjadi 300-400 orang pada akhir pekan.

"Tapi, pada musim libur istimewa seperti lebaran dan tahun baru, jumlah pengunjung bisa sampai ribuan," tuturnya.

Sejumlah pantangan diberlakukan di Ipukan yang berlaku bagi setiap pengunjung, termasuk pula pihak pengelola. Selain dilarang merusak tanaman dan mengganggu hewan yang hidup di dalamnya, siapapun dilarang membawa minuman beralkohol, melakukan zina dan berkata kotor.

"Tak kalah penting, jangan mengaktifkan telepon seluler saat hujan karena rawan bahaya ketika ada petir," tegasnya.
 


  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar