bank bjb
  
Yamaha

Industri Garam Cirebon, Petambak, dan Komitmen Pemenuhan Kualitas

  Kamis, 04 April 2019   Erika Lia
Industri Garam Cirebon, Petambak, dan Komitmen Pemenuhan Kualitas
Pekerja menyelesaikan pembuatan garam tradisional di Kampung Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (12/4/2019). (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)

PANGENAN, AYOCIREBON.COM -- Rendahnya kualitas garam di Kabupaten Cirebon selama ini telah membuat Industri Kecil dan Menengah (IKM) garam konsumsi beryodium membeli garam ke daerah tetangga. Di sisi lain, petambak garam mengeluhkan banyaknya garam di Kabupaten Cirebon yang tak diserap IKM.

Kabupaten Cirebon merupakan salah satu sentra garam terbesar di Indonesia. Sayang, kualitas garam di daerah ini masih rendah.

Selama ini, petambak garam Kabupaten Cirebon menghasilkan garam Natrium Klorida (NaCl) kurang dari 90%. Sementara, pemerintah telah mewajibkan garam konsumsi beryodium harus memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) dengan NaCl minimal 94,7% dan kadar air maksimal 7%, yang harus dibarengi dengan bahan baku garam NaCl minimal 90%.

NaCl yang kurang dari 90% yang dihasilkan petambak garam Kabupaten Cirebon tak bisa dipaksakan menjadi bahan baku IKM. Bila dipaksakan, akan memengaruhi produksi, harga pokok produksi, dan efisiensi.

Kondisi itu membuat IKM kekurangan bahan baku sehingga harus membeli garam dari daerah lain, seperti Kabupaten Indramayu, serta Kabupaten Brebes dan Kota Tegal, Jawa Tengah. Ketua Asosiasi Pengusaha Garam Cirebon (APGC), Agus Susanto mengaku, IKM sebenarnya menghendaki pembelian bahan baku garam dari petambak.

"Pemerintah mewajibkan SNI, tentunya bahan bakunya juga harus bagus. Tapi karena di sini kualitasnya kurang, akhirnya kami membeli ke luar daerah," ungkapnya belum lama ini.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kabupaten Cirebon, Deni Agustin didampingi Kepala Bidang Perindustrian, Endang Pujiastuti mengakui, IKM dituntut memenuhi SNI sehingga membutuhkan bahan baku yang berkualitas. Karena itu, pihaknya berharap petambak menghasilkan garam berkualitas dengan NaCl 90%.

"Kami mewajibkan IKM memiliki SNI. Namun, salah satu permasalahannya berupa ketersediaan bahan baku garam yang berkualitas. Makanya, kami harap petambak dapat menghasilkan garam berkualitas dengan NaCl 90% sehingga IKM dapat membelinya," paparnya.

Sementara, Ketua Asosiasi Petambak Garam Indonesia (APGASI), M. Taufikurahim mengatakan, kualitas menjadi salah satu problem klasik garam nasional. Karena itu, sejauh ini pihaknya telah melakukan pembinaan kepada para petambak agar bersama-sama menghasilkan garam dengan NaCl di atas 90%.

"Kami mengusulkan pola kemitraaan antara IKM dan petambak. IKM dapat memberi peminjaman geomembran dan membeli garam yang dihasilkan," tuturnya.

Teknologi geomembran sendiri merupakan salah satu pengelolaan tambak garam yang dipandang mampu menambah kualitas dan kuantitas produksi. Penggunaan geomembran diyakini membuat kualitas garam lebih putih, padat, dan harga dua kali lipat lebih tinggi dibanding biasanya.

Dalam pengaplikasian teknologi ini, lembaran membran dihamparkan pada lahan garam. Lembaran membran ini bersifat tahan air, korosi, minyak, asam dan panas tinggi.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislakan) Kabupaten Cirebon, Ita Rohpitasari didampingi Kepala Bidang Pemberdayaan, Yanto mengklaim, selain pembinaan terhadap kelompok usaha garam, pihaknya juga telah memfasilitasi geomembran. Dia menjamin, penerapan teknologi tersebut akan menghasilkan garam dengan NaCl mencapai 94%.

"Kami sudah membina kelompok garam dan memfasilitasi bantuan geomembran. Kalau ini diterapkan, dijamin garam yang dihasilkan bisa mencapai NaCl 94% sesuai syarat SNI," bebernya.

Untuk ini, Disperdagin dan Diskalan diketahui telah memprakarsai pertemuan IKM dan petambak garam. Hasilnya, IKM dan petambak garam membuat kesepakatan tertulis.

Dalam kesepakatan itu, IKM berkomitmen akan membeli garam petambak Kabupaten Cirebon. Petambak sendiri berkomitmen menghasilkan garam dengan NaCl minimal 90% dan kadar air maksimal 7%.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar