Yamaha

Sejarah Palang Pintu Perlintasan KA, Awalnya Dipasang untuk Hewan Ternak

  Jumat, 26 April 2019   Erika Lia
Sejumlah petugas PT KAI tengah memasang patok berupa bantalan beton di area perlintasan KA liar di Daerah Operasi 3 Cirebon. Di luar penutupan dengan cara itu, perlindungan perjalanan KA juga dilakukan dengan memasang palang pintu perlintasan yang awalnya untuk mencegah hewan ternak masuk ke jalur KA. (Erika Lia/Ayocirebon.com)

KEJAKSAN, AYOCIREBON.COM—Sedikitnya 21 perlintasan kereta api (KA) liar di Daerah Operasi (Daop) 3 Cirebon ditarget ditutup tahun ini. Sementara itu, tahukah Anda, dalam sejarahnya palang pintu perlintasan semula dipasang untuk menghindarkan hewan ternak masuk ke jalur KA, lho.

Manajer Humas PT KAI Daop 3 Cirebon Kuswardoyo menyebutkan, ke-21 perlintasan liar yang akan ditutup itu tersebar di setidaknya tiga daerah. Ke-21 perlintasan liar itu masing-masing lima di Kabupaten Cirebon, 15 di Kabupaten Indramayu, dan satu perlintasan liar di Kabupaten Subang.

"Total ada 192 perlintasan sebidang di Daop 3 Cirebon. Dari jumlah itu, 171 perlintasan resmi atau teregistrasi dan 21 perlintasan liar," katanya.

Dia melanjutkan, dari 171 perlintasan resmi, 81 perlintasan di antaranya dijaga dan 90 perlintasan lainnya tak dijaga. Selain itu, terdapat pula 25 perlintasan tidak sebidang, delapan fly over, dan 17 underpass.

Perlintasan liar yang akan ditutup sendiri rata-rata selebar kurang dari dua meter. Penutupan dilakukan dengan memasang patok besi bekas rel atau bantalan beton di sekitar perlintasan KA.

"Benar-benar ditutup dan tak boleh ada satu pun warga yang melintasinya," cetusnya.

Sebelum penutupan, pihaknya akan menyosialisasikan hal itu kepada warga sekitar. Mekanisme penutupan perlintasan liar dan resmi sendiri memiliki perbedaan.

Kuswardoyo menjelaskan, sesuai undang undang yang berlaku, penutupan perlintasan liar menjadi kewenangan pemerintah daerah atau pemerintah pusat, bekerja sama dengan pihak terkait. Lain halnya dengan perlintasan sebidang resmi atau teregistrasi di pemerintah, secara bertahap akan disiapkan rambu-rambu peringatan di lokasi bersangkutan.

Sementara itu, terkait perlintasan yang tidak dijaga, dia mengingatkan, palang pintu perlintasan sebenarnya dibuat untuk melindungi perjalanan KA. Dengan kata lain, bukan melindungi pengguna jalan raya di perlintasan sebidang seperti yang selama ini dipahami kebanyakan orang.

"Jadi, ketika terjadi kecelakaan di perlintasan sebidang, di mana kendaraan atau pengguna jalan menemper KA, kecelakaan itu adalah kecelakaan lalu lintas, bukan kecelakaan KA," tegasnya.

Dalam sejarahnya, sambung dia, fungsi palang pintu perlintasan dimaksudkan guna menghindari hewan ternak masuk ke jalur KA dan bukan menghindarkan manusia. Untuk keselamatan manusia sendiri, dipasanglah rambu peringatan yang bisa dilihat dan dibaca sebelum melintasi jalur KA.

Sayang, Kuswardoyo mengaku tidak mengetahui pasti awal dipasangnya pintu perlintasan. Pintu perlintasan sudah dipasang pula di negara lain yang lebih dulu mengoperasikan KA.

"Cuma yang pasti, pembuatan pintu perlintasan dibuat setinggi leher ternak. Pada masa lalu, hewan ternak lebih banyak melintas ketimbang manusia di masa kini, sehingga untuk mengantisipasi tertempernya ternak dibuatlah pintu perlintasan," paparnya.

Hanya, imbuh dia, mengingat jalur kereta api pertama di Indonesia dibangun pada 1864 di Semarang, dimungkinkan pembangunannya itu bersamaan dengan pengoperasian pintu perlintasan. Hal itu karena pembuatannya dilakukan pihak penjajah yang telah mengoperasikan kereta sebelumnya.

Pihaknya di sisi lain prihatin mengamati masih banyaknya warga yang belum memahami kegunaan palang pintu perlintasan KA. Tak sedikit di antara pelintas bahkan menerobos palang pintu perlintasan KA.

"Banyak pemangku kepentingan yang belum paham hal tersebut (palang pintu perlintasan dibuat untuk melindungi perjalanan KA, bukan melindungi pengguna jalan raya), sehingga kadang masih salah menyampaikan ke masyarakat," sesalnya.

Sekalipun sesungguhnya palang pintu itu untuk melindungi perjalanan KA, dia mengingatkan, pengguna jalan raya pun harus tetap mengingat keselamatan dirinya. Pemahaman dan kesadaran atas hal itu dipandang akan melebihi soal keberadaan rambu maupun palang pintu itu sendiri.


  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar