Yamaha Aerox

Wajib Coba, Ini Dia Kuliner Ikonik Cirebon

  Sabtu, 25 Mei 2019   Erika Lia
-Sajian nasi jamblang di rumah makan Mang Dul di kawasan simpang empat Gunung Sari, Kota Cirebon. Nasi jamblang menjadi salah satu kuliner khas yang ikonik di Cirebon.
Selamat datang di Jawa Barat,

Informasi ini dipersembahkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Diparbud) Provinsi Jawa Barat.

Supported by: Ayo Media Network

KEJAKSAN, AYOCIREBON.COM- Sejumlah kuliner khas Cirebon dikenal sebagai bahan perburuan pelancong saat berkunjung ke kota ini. Sebut saja di antaranya nasi jamblang, empal gentong, nasi lengko, hingga jajanan seperti tahu gejrot.

Di antara sekian banyak kuliner khas Cirebon, nasi jamblang merupakan salah satu kuliner khas yang tampaknya memiliki penggemar tak sedikit. Di Cirebon, penjual nasi jamblang banyak ditemui, baik yang menetap di satu tempat hingga yang berjualan berkeliling.

Belakangan, rata-rata pedagang nasi jamblang lebih memilih menetap. Tak sedikit di antaranya mengambil tempat di emperan toko yang tutup. Meski begitu, ada pula yang memiliki tempat tersendiri, bahkan menjadi ikonik.

Nasi jamblang sendiri berupa nasi putih yang dibungkus daun jati. Konon, nasi berbungkus daun jati ini lahir dari kebiasaan pedagang nasi dari Desa Jamblang di Kabupaten Cirebon yang membungkus nasi dagangannya dengan daun jati.

Nasi berbungkus daun jati ini kemudian menyebar ke Kota Cirebon sekitar 1973. Hingga kini, kulinet ini dikenal sebagai nasi jamblang yang merujuk pada asal pedagangnya.

Nasi jamblang yang disajikan biasanya tidak dalam jumlah banyak. Menyantapnya disertai sejumlah lauk pauk, seperti sambal goreng, sayur tahu kuah kecap, tempe goreng, sate kentang, perkedel kentang, telur dadar, tahu goreng, otak sapi goreng, semur dendeng daging sapi, ikan asin (panjelan), sate kerang, blakutak (olahan sontong berbumbu hitam), dan lainnya.

Pembeli tinggal memilih salah satu di antara lauk pauk tersebut. Di antara lauk yang tersedia, sambal goreng menjadi salah satu penyerta wajib yang mendampingi nasi jamblang, sebelum ditambah lauk lainnya.

"Sambal goreng, sayur tahu, semur dendeng daging sapi, dan blakutak, adalah lauk yang paling banyak dicari pembeli untuk dimakan bersama nadi jamblang," ungkap Fitri, putri Mang Dul (Alm), pemilik rumah makan nasi jamblang Mang Dul yang ikonik di Kota Cirebon.

Selain nasi jamblang, menu nasi lain yang dikenal sebagai kuliber khas Cirebon adalah nasi lengko. Nasi lengko disajikan bersama lauk pauk sederhana, seperti irisan tempe dan tahu, tauge, daun kucai, bumbu pecel, irisan mentimun, dan siraman bumbu kacang serta kecap dan bawang goreng.

Mirip dengan nasi pecel, nasi lengko disebut-sebut merupakan hasil kreativitas masyarakat Cirebon menghadapi kondisi serba kekurangan di masa pasca kemerdekaan. Tak heran bila sajian nasi lengko terbilang sangat sederhana.

Tak kalah ikonik dengan dua kuliner itu, makanan khas Cirebon lainnya adalah empal gentong berupa daging dan jeroan sapi, kerbau, atau kambing. Penyebutan gentong mengacu pada kuah bercampur daging yang dimasak dalam wadah berupa gentong yang terbuat dari gerabah.

Empal gentong disajikan bersama nadi atau lontong. Biasanya, sajian ini akan dilengkapi cabai bubuk sebagai perasa pedas maupun kerupuk rambak yang terbuat dari kulit kerbau.

Saat ini, muncuk varian empal gentong berupa empal asam. Berbeda dengan empal gentong yang kuahnya menggunakan santan, kuah empal asam memanfaatkan belimbing wuluh sebagai perasa asam dan sama sekali tak mengandung santan.

Di antara semua makanan 'berat' itu, terdapat pula makanan ringan khas Cirebon yang dikenal dengan sebutan tahu gejrot. Sesuai namanya, jajanan ini menampilkan tahu sebagai pemain utama.

Dalam penyajiannya, tahu yang sudah dipotong-potong disiram ramuan air gula merah. Tahu gejrot disajikan di atas cobek dari tanah liat seukuran telapak tangan orang dewasa.

Istilah gejrot sendiri berasal dari cara pedagangnya yang mengocok botol berisi air gula merah saat membubuhkannya ke atas potongan tahu. Setelah tahu tersiram air gula merah, pedagang akan menambahkan irisan cabai rawit hijau dan bawang merah ke atas tahu.

Para pedagang tahu gejrot biasanya berjualan berkeliling dengan cara memikul barang dagangannya. Tapi belakangan, para pedagang tahu gejrot lebih memilih mendorong gerobak yang dimodifikasi dengan sepeda di bagian belakangnya.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar