bank bjb
  
Yamaha

Garam Cirebon Tak Laku, Petani Keluhkan Harga Terus Anjlok

  Rabu, 03 Juli 2019   Erika Lia
Garam Cirebon Tak Laku, Petani Keluhkan Harga Terus Anjlok
Pekerja menyelesaikan pembuatan garam tradisional di Kampung Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (12/4/2019). (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)

PANGENAN, AYOCIREBON.COM -- Para petani garam di Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, kebingungan menjual garam. Hasil panen tahun lalu yang belum laku terjual hingga memasuki panen tahun ini berpotensi menyebabkan timbunan garam di gudang bertambah.

Di Desa Rawaurip, ribuan ton garam tak laku itu tersimpan di gudang penyimpanan milik petambak maupun tengkulak. Petani garam mengeluhkan harga yang terus anjlok sejak tiba musim hujan pada akhir 2018.

"Pas musim hujan terakhir tahun lalu, harga garam di gudang penyimpanan Rp1.000 per kilogram. Harga itu terus turun menjadi Rp800 per kilogram, Rp700 per kilogram, dan sekarang Rp500 per kilogram," beber seorang petani garam, Toto.

Meski harga garam terus murah, tak banyak pembeli yang meminta. Menurutnya, satu orang petani garam saja bisa menyimpan 20-50 ton garam. Belum lagi tengkulak yang seorangnya saja bisa memiliki ratusan ton garam.

Akibatnya, garam-garam milik petani dan tengkulak pun menumpuk di gudang. Toto menyebut, beratnya mencapai ribuan ton.

Situasi itu diperparah dengan dimulainya panen garam pada musim kemarau tahun ini. Hal tersebut memicu kemerosotan harga garam semakin jauh mengingat stok yang bertambah.

"Untuk garam yang baru kami panen sekarang hanya dihargai Rp300 per kilogram. Ini pun tak banyak tengkulak yang mau beli, makanya saya bingung mau dijual kemana," tukasnya.

Toto mencemaskan bila panen raya garam berlangsung karena akan menambah timbunan garam baru. Pada gilirannya, kondisi itu akan membuat harga garam semakin anjlok untuk kesekian kalinya.

Petani garam lainnya, Warpin mengaku menyimpan 30 ton garam hasil panen tahun lalu. Hingga kini, tumpukan garam itu belum berhasil terjual.

"Sekarang saya sudah panen lagi garam yang baru," ujarnya.

Warpin meyakinkan, telah berupaya menawarkan garamnya kepada para penimbang. Namun, usaha itu belum berhasil sehingga dia pun kebingungan.

Dia tak memahami sebab garam lokal tak laku hingga membuat harganya terus anjlok. Namun, dari informasi yang diperolehnya, keadaan itu dipicu masuknya garam impor.

Dia pun berharap pemerintah menangani situasi ini dengan melarang impor garam karena stok garam lokal berlimpah. Meski dihadapkan pada situasi sulit, Warpin maupun Toto mengaku akan tetap mengolah tambak garamnya.

"Mau bagaimana lagi, kami mencari nafkah dengan ini (garam). Inginnya sih ada standardisasi harga garam agar harganya tak murah sekali karena selama ini harganya kan dari tengkulak," tandas Warpin.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar