Yamaha NMax

Kemarau Ancam Budidaya Udang dan Ikan Bandeng di Indramayu

  Kamis, 11 Juli 2019   Erika Lia
Sejumlah pekerja menyortir udang vaname (Litopenaeus Vannamei) saat panen di Desa Suak Geudubang, Samatiga, Aceh Barat, Aceh, Sabtu (6/7/2019). (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/ama).
INDRAMAYU, AYOCIREBON.COM -- Budidaya tambak udang dan bandeng di Kabupaten Indramayu terganggu tingginya tingkat salinitas atau kadar garam terlarut dalam air akibat suhu udara panas pada musim kemarau ini.
 
Para petambak udang terpaksa memanen dini ketimbang membiarkannya mati. Situasi itu setidaknya dialami para petambak udang vanamei di Blok Waledan, Desa Lamarantarung, Kecamatan Cantigi.
 
"Sudah banyak udang yang mati. Saya panen yang masih hidup, padahal usianya masih kurang dari dua bulan," ungkap seorang petambak yang akrab disapa Kaleng, Kamis (11/7/2019).
 
Menurutnya, udang tak bisa bertahan lama dalam kondisi seperti sekarang. Musim kemarau telah membuat tingkat salinitas bertambah tinggi, seiring berkurangnya pasokan air tawar di dalam tambak.
 
Dia pun tak bisa memperoleh untung setelah memutuskan panen dini. Dari 50 ribu benih udang vanamei yang dibudidayakannya, Kaleng hanya memanen sekitar 20 kilogram. Itu pun dengan ukuran udang yang kecil.
 
"Padahal, kalau panen dalam kondisi normal berumur tiga bulan, hasilnya bisa sampai lima kuintal," cetusnya.
 
Petambak udang di Blok Pulomas, Desa Panyingkiran Lor, Kecamatan Cantigi, pun tak kalah serupa. Kadim dan Tariwang, misalnya, mengaku memanen udang sebelum waktunya karena udang tak tahan hidup saat cuaca seperti ini.
 
"Belum waktunya sih, tapi daripada mati semua, lebih baik dipanen dini," ungkap keduanya.
 
Tak hanya udang, cuaca saat ini juga rupanya membuat pertumbuhan ikan bandeng yang dibudidayakan di tambak menjadi sangat lambat.
 
"Kalau bandeng tidak sampai mati, tapi nggak besar-besar badannya," keluh seorang petambak bandeng di Blok Waledan, Desa Lamarantarung, Tano.
 
Saat normal, ikan bandeng baru dipanen setelah berumur enam bulan dengan bobot mencapai size 3 (satu kilogram isi tiga ekor bandeng). Sedangkan saat ini, bobot bandeng diperkirakan hanya mencapai size 7-8 (satu kilogram isi tujuh sampai delapan ekor bandeng).
 
Tano sendiri sampai kini enggan memanen bandengnya. Dia memilih bertaruh mempertahankan ikan-ikannya, meski ancaman kematian pun membayangi hewan-hewan budidayanya itu.

"Memang bulan depan puncak kemarau, ikan bandeng bisa mati juga. Tapi sekarang saya biarkan dulu," tuturnya.


  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar