Yamaha NMax

Masjid Al Barokah Cirebon Layaknya Rumah untuk Musafir

  Jumat, 12 Juli 2019   Erika Lia
Masjid Jami' Al Barokah di Kejaksan Kota Cirebon, menyediakan beragam fasilitas yang menyamankan para musafir yang singgah di sana. (Erika Lia/Ayocirebon.com)

KEJAKSAN, AYOCIREBON.COM -- Bermula sebagai tempat Salat Jumat bagi para pedagang di Pasar Mambo, Masjid Jami' Al Barokah di Sukalila Utara Nomor 01, Kejaksan, Kota Cirebon, bertransformasi layaknya rumah yang nyaman bagi para musafir.

Di masjid yang pada 2006 masih berupa musala ini, tersedia sejumlah fasilitas yang menyamankan para musafir. Sebut saja bantal dan karpet bagi mereka yang ingin beristirahat, ditambah makanan dan minuman hingga kacamata baca, yang bisa digunakan para musafir.

Keberadaan fasilitas itu bukan tanpa maksud. Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Barokah Al Marwi mengungkapkan, apa yang dimiliki masjid tersebut hanyalah meneruskan apa yang telah dilakukan junjungan umat Islam, Nabi Muhammad SAW.

"Sebagaimana yang dilakukan Rasulullah di Masjid Nabawi dulu, masjid jadi sentral kehidupan umat apapun permasalahannya," katanya, Jumat (12/7/2019).

Selain itu, sesuai perkataan Rasulullah pula, kemakmuran masjid menjadi tolak ukur kemajuan umat Islam. Menurutnya, dengan kata lain, segala fasilitas yang menyamankan musafir itu bertujuan pula agar umat Islam pada umumnya menyukai masjid dan mendatanginya.

"Sesuai janji Allah SWT, siapa yang cinta masjid akan mendapat nauangan di Padang Mahsyar. Kalau seseorang cinta masjid, berarti dia cinta Allah," tuturnya.

Pihaknya mengharapkan masjid menjadi tempat yang mengundang bagi para musafir dan umat Islam pada umumnya. Dengan begitu, mereka tak perlu mendatangi penginapan atau hotel.

Dia menyebutkan, pada zaman nabi dahulu, penginapan pun sesungguhnya telah ada. Namun, ketika itu musafir lebih memilih masjid sebagai tempat beristirahat.

"Kalau di hotel, bisa terkontaminasi dengan kemaksiatan. Kalau di masjid, seseorang paling tidak akan melaksanakan salat," bebernya.

Karena itu, dia menyarankan pengurus masjid manapun tak melarang musafir beristirahat di masjid. Bahkan, sebagaimana dicontohkan Rasulullah, musafir diterima dengan baik.

Sejauh ini, di masjid itu baru tersedia karpet sebagai alas tidur dan sejumlah bantal. Makanan dan minuman, perlengkapan mandi berupa sabun dan handuk, hingga kacamata baca pun disediakan pihak DKM.

"Nanti kalau mencukupi, kami kasih kamar," cetusnya.

Segala fasilitas yang disediakan di masjid tersebut, imbuhnya, berasal dari infak masyarakat. Tiada pemasukan bulanan rutin. Namun begitu, pihaknya berupaya terus menyalurkan infak yang diterima agar tak ada uang tersimpan.

Tak hanya menyediakan fasilitas nyaman bagi musafir, pihak DKM Al Barokah juga rupanya mulai rutin memberi makan warga dua kali sebulan, yang dilakukan setiap Jumat.

"Saat ini setiap dua kali Jumat, kami baru mampu membagikan nasi 70 bungkus. Nanti kalau dananya sudah cukup, kami ingin memberi makan (warga) setiap hari," tambahnya.

Masjid Jami' Al Barokah diketahui baru ditetapkan sebagai masjid pada Januari 2017. Semula, masjid itu didirikan untuk mempermudah sekitar 1.700 pedagang di Pasar Mambo melaksanakan Salat Jumat.


  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar