Yamaha

Lipkhas Kampung Pecinan Cirebon: Pendaratan Cheng Ho dan Warisan Masa Blackout Atas Kecarubanan

  Rabu, 24 Juli 2019   Erika Lia
Jalan Winaon menjadi salah satu area di Kampung Pecinan Cirebon yang berada di Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon. Jalan ini menyambung ke Kanoman, Lemahwungkuk, Talang, dan Pasuketan, yang menjadikannya dikenal sebagai kampung pecinan. (Erika Lia/Ayocirebon.com)

LEMAHWUNGKUK, AYOCIREBON.COM -- Bermula dari ekspedisi Cheng Ho terbentuklah Kampung Pecinan di Kota Cirebon. Meski terimbas pasang surut kebijakan politik pemerintah, warga Tionghoa di Cirebon tetap berusaha menjaga kebudayaan Cirebon.

Area kampung pecinan berada di Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, tepatnya di sekitar Winaon-Kanoman-Lemahwungkuk-Talang-Pasuketan. Kampung ini diyakini mulai terbentuk sekitar tahun 1415 ketika Laksamana Cheng Ho mendarat di Pelabuhan Muara Jati Cirebon.

"Dalam naskah Purwaka Caruban Nagari, warga Tionghoa yang pertama datang ke Cirebon adalah Cheng Ho bersama para pengikutnya. Mereka kemari untuk berdagang," kata Filolog Cirebon, Rafan Hasyim atau akrab disapa Ofan kepada ayocirebon.com, tidak lama ini.

Armada Cheng Ho ketika itu terhitung besar, dengan jumlah orang yang sedemikian banyaknya. Selama menjalankan misi niaganya, mereka diyakini menetap di sejumlah lokasi, masing-masing Toa Lang atau kini menjadi Talang (Jalan Talang di Kecamatan Lemahwungkuk), Sembung (Gunung Sembung di komplek makam Astana Gunung Jati, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon), dan Surandil yang dimungkinkan berlokasi tak jauh dari Sembung.

AYO BACA : Jangan Diucap Sembarangan, Ini Kisah Kelam di Balik Panggilan Populer Khas Cirebon

Ofan menyebutkan, Toa Lang atau kini Talang menjadi sentral tempat berkumpulnya para warga Tionghoa saat itu. Toa Lang sendiri berarti orang besar.

Sementara, Sembung diyakini dibentuk Cheng Ho sebagai kawasan pemukiman bagi para pengikutnya yang bertugas memelihara mercusuar. Sayang, mercusuar yang dibuat Cheng Ho itu saat ini sudah tiada berbentuk.

"Kampung Pecinan satu lagi di Surandil ditinggali para pengikut Laksamana Cheng Ho yang memelihara galangan kapal-kapal rombongan itu selama berlabuh di Pelabuhan Muara Jati Cirebon. Saat ini tidak ada nama Surandil, tapi kemungkinan lokasinya dekat Sembung karena ada ciri-ciri bekas galangan kapal," paparnya.

Keberadaan warga Tionghoa yang tinggal di Sembung dan Surandil yang kini secara administratif termasuk Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon, sendiri tak lepas dari sejarah Pelabuhan Muara Jati Cirebon yang ketika itu berada di sana. Saat ini, Gunungjati sudah merupakan daratan, yang menurut Ofan, terjadi ketika perlahan-lahan dan terus menerus pelabuhan bergeser ke arah selatan Cirebon.

AYO BACA : Sejarah Palang Pintu Perlintasan KA, Awalnya Dipasang untuk Hewan Ternak

Lama kelamaan, penduduk Sembung dan Surandil pun berbaur di Toa Lang hingga membuat kawasan ini sebagai sentral kampung pecinan. Meski dikenal kampung pecinan, Ofan menyebut, tak hanya warga Tionghoa yang menetap di sini.

Tak sedikit pula di antaranya merupakan warga Arab maupun India. Sebagian di antara mereka merupakan pengikut Cheng Ho yang turut serta sepanjang ekspedisinya.

Kemudian, pada sekitar 1440, kampung pecinan ini bisa dikatakan berjaya manakala Putri Ong Tien menjejakkan kakinya ke tanah Cirebon. Jumlah pengikutnya yang sangat besar juga membuat penyebaran warga Tionghoa semakin meluas.

"Tak hanya membuat kampung pecinan di Cirebon semakin ramai, warga Tionghoa juga semakin tersebar, di antaranya ke wilayah pegunungan di Kabupaten Kuningan, seperti di Nusaherang dan Buniseuri di Ciamis," ungkapnya.

Jejak-jejak warga Tionghoa itu ditandai dengan keberadaan Bongpai atau makam-makam warga Tionghoa.

Kemudian, sekitar 1445 ketika Pangeran Cakrabuana mendirikan pedukuhan Caruban sebagai awal mula Cirebon, warga yang tinggal di sini sudahlah terdiri dari beragam etnis, termasuk Tionghoa. Kondisi sosial saat itulah yang kemudian menjadi dasar nama kampung yang dibuka Pangeran Cakrabuana disebut caruban yang artinya campuran.

"Ketika itu, sudah ada empat pasang etnis Tionghoa yang menetap di Cirebon. Selain mereka dan pribumi, ada juga etnis lain seperti Arab. Makanya disebut caruban yang berarti campuran," terang Ofan.

AYO BACA : Si Rara Denok, Situs Kesultanan Cirebon Berusia 600 Tahun


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar