Yamaha Aerox

Digitalisasi Pasar Tradisional dan Ramalan Beli Tomat Lewat Gawai

  Senin, 29 Juli 2019   Erika Lia
Para peserta trainer Grebeg Pasar UMKM Go Online mengikuti pelatihan di Ruang Adipura Balai Kota Cirebon, Senin (29/7/2019).

KEJAKSAN, AYOCIREBON.COM -- Digitalisasi merambah pasar rakyat (pasar tradisional). Bisa jadi kelak, ketika masakan Anda butuh tomat atau menginginkan apel untuk jus, Anda cukup memesannya lewat gawai.

Pemerintah punya program bagi para pedagang atau pelaku UMKM di pasar tradisional untuk mengikuti zaman kekinian: Digitalisasi. Dalam program ini, para pedagang pasar diajak menawarkan komoditas yang dijualnya secara online (daring), melalui marketplace-marketplace yang ada di Indonesia, seperti Shoppee, BukaLapak, Tokopedia, dan lainnya.

Namun, keterampilan digital para pelaku UMKM menjadi tantangan utama dalam penerapan digitalisasi pasar tradisional. Eeitts, tapi ada keuntungan bagi para pedagang ketika mereka bisa beradaptasi dengan era ini lho!

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Cirebon, Sumanto mengungkapkan, tak sedikit pelaku UMKM di Kota Cirebon khususnya, kesulitan memanfaatkan teknologi dalam usaha mereka. Meski terbilang melek digital, keterampilan mereka justru terbatas.

"Para pelaku pelaku UMKM sebenarnya melek digital, sms atau WA (Whatsapp) mereka bisa kok. Tapi mengakses marketplace untuk menjual produknya, hampir semua tidak bisa. Padahal, mereka ingin maju," katanya ditemui Ayocirebon.com seusai membuka Training Of Trainer Grebeg Pasar UMKM Go Online Dalam Rangka Pengembangan Ekonomi Digital di Indonesia, di Ruang Adipura Balai Kota Cirebon, Senin (29/7/2019).

Kondisi itu diakui Kasubdit Pengembangan Ekonomi Digital Pariwisata Transformasi dan Perdagangan Dirjen Aplikasi Infromatika Kemenkominfo, Sumarno dalam kesempatan yang sama. Namun, dia menilai, belum terlambat bagi para pelaku UMKM mengasah keterampilan digitalnya.

"(Pelaku UMKM) Tahu (online) sudah, terampil belum. Teman-teman di pasar (pelaku UMKM) memang lebih banyak yang tidak pahan jualan online. Tapi, belum terlambat untuk belajar," tegasnya.

AYO BACA : bank bjb Sokong Pengembangan Produk Digital Ayo Media Network

Inilah, imbuhnya, yang menjadi tujuan training of trainer di Kota Cirebon kali ini, untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman teknologi digital dalam transaksi online. Mereka yang dilibatkan dalam pelatihan ini terdiri dari 25 pandu digital/canvasser, yang meliputi relawan teknologi informasi (RTIK) pada Dinas Komunikasi Informasi dan Statistik (DKIS) Kota Cirebon serta relawan lain.

Pada praktiknya, para canvasser ini akan melakukan kegiatan yang disebut Grebeg Pasar UMKM Go Online selama 14 hari ke depan. Diagendakan mulai Selasa (30/7/2019) esok, mereka akan turun ke pasar-pasar tradisional di Kota Cirebon, untuk melatih dan mendampingi para pelaku UMKM berjualan online.

"Selain pedagang pasar, pandu digital juga akan diberikan kepada pedagang di toko-toko dan pelaku industri yang ada di sekitar pasar tersebut," jelasnya.

Dia menambahkan, jualan online akan memperluas jangkauan konsumen para pelaku UMKM bersangkutan. Kota Cirebon sendiri menjadi salah satu dari 20 kota se-Indonesia yang menjadi sasaran program ini.

Sementara, Kepala Bidang Statistik Sektoral Persandian Dinas Komunikasi Informasi dan Statistik (DKIS) Kota Cirebon, T.M Maulana menyebutkan, digitalisasi pasar tradisional di Kota Cirebon menarget 2.000 pelaku UMKM yang tersebar di enam pasar tradisional. Keenam pasar itu masing-masing Pasar Kanoman, Pasar Pagi, Pasar Jagasatru, Pasar Perumnas, Pasar Drajat, dan Pasar Harjamukti.

"Tahun ini ditarget 2.000 pelaku UMKM (pedagang pasar) di Kota Cirebon yang Go Online. Total target sih 9.000 pelaku UMKM di sembilan pasar," bebernya.

Pada program UMKM Go Online ini, para pelaku UMKM itu didorong memasarkan produknya masing-masing secara online. Mereka pun dibebaskan memilih marketplace yang disukainya.

AYO BACA : Jangan Termakan Hoaks, Ini Aplikasi Citra Buatan Pemkot Cirebon Untuk Menghalaunya

Hanya, produk yang dipasarkan online sejauh ini disyaratkan hanya berupa komoditas kering berdaya tahan lama, semisal pakaian, suvenir, aksesoris, peralatan rumah tangga, dan lainnya. Pelaku UMKM makanan pun bisa menawarkan produknya secara online, dengan catatan berupa makanan dalam kemasan.

"Nanti pengiriman produk melalui jasa titipan (jastip) yang dikerjasamakan marketplace-marketplace bersangkutan," tambahnya.

Meski sasarannya sejauh ini baru berupa komoditas kering, Maulana tak menampik ramalan bila kelak komoditas basah/segar seperti sayuran dan buah-buahan akan tersedia pula secara online. Namun, masih diperlukan platform tertentu yang mendukung teknis penjualan semacam itu.

"Bisa saja, nanti kita lihat bisa pake platform yang mana untuk bisa jualan seperti itu. Mungkin harus belajar juga packing (kemasan) yang bisa mempertahankan kesegaran dari komoditas basah itu," tuturnya.

Terkait kemasan, dia mengatakan, hal itu telah menjadi salah satu isu utama pada sektor UMKM. Rata-rata pelaku UMKM belum menaruh perhatian besar terhadap kualitas kemasan, khususnya dari segi keamanan (savety).

"Tapi nanti akan diberi pemahaman dan pembinaan soal ini," janjinya.

Selain cakupan pasar yang akan meluas serta kepraktisannya, dia pun menambahkan keuntungan lain berjualan online. Menurutnya, pedagang tak perlu meninggalkan barang dan aktivitasnya di pasar.

"Potensi keuntungannya pun dua kali lipat," pungkasnya.

AYO BACA : Berkenalan dengan Mobile Maslahah, Aplikasi bank bjb syariah


  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar