Yamaha

Gedong Duwur, Kemegahan Sejarah yang Terpinggirkan di Indramayu

  Kamis, 01 Agustus 2019   Erika Lia
Gedong Duwur, salah satu peninggalan masa kolonialisme Belanda dan menjadi bangunan cagar budaya di Kabupaten Indramayu yang terpinggirkan. (Erika Lia/Ayocirebon.com)

 

INDRAMAYU, AYOCIREBON.COM--Berarsitektur gaya Eropa Gotik yang populer pada sekitar abad ke-17, sebuah bangunan cagar budaya di Jalan Mayor Dasuki, Desa Penganjang, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, dimanfaatkan sebagai lokasi pendidikan anak usia dini (PAUD).

Dikenal dengan nama Gedong Duwur, kemegahannya tampak mencolok di kawasan tempatnya berdiri. Bagaimana tidak, ketinggian bangunan ini melebihi bangunan lain di sekitarnya.

Kata Duwur sendiri berarti tinggi dalam bahasa Cirebon-Indramayu (Jawa). Dibangun pada 1901, bangunan yang bagian depannya menampakkan tiang-tiang besar sebagai penyangga utama itu, pernah digunakan sebagai kantor asisten residen pada era kolonialisme Belanda.

Ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya nasional melalui SK Menteri Nomor PM.58/PW.007/MKP/2010, struktur bangunan itu masih sama dengan aslinya. Tegel pun masih terpasang di lantai, dengan jendela maupun pintu dari kayu jati berukuran besar yang mengesankan superioritas.

Perubahan tampilan pada bangunan yang kini dimanfaatkan sebagai lokasi PAUD Lavender Kencana itu berupa cat bagian depan. Putih sebagai warna aslinya kini digantikan oranye.

AYO BACA : Pengembangan Pariwisata Cirebon Butuh Investor, Katon Tourism Expo 2019 Siap-siap Digelar

Kemegahan bagian depan Gedong Duwur, rupanya tak dijumpai pada bagian belakangnya yang terbuat dari pagar bilik bambu. Lubang dan kerusakan parah lain tampak pada pagar tersebut. Cat putihnya pun telah kusam, dengan kayu-kayu penyangga dan lantai yang telah lapuk.

Tak jauh dari bangunan utama, dijumpai pula sebuah bangunan lain yang merupakan bekas kantor KNIL. Ada pula deretan rumah yang dahulu digunakan sebagai asrama KNIL kala agresi militer Belanda pertama. Di samping kini asrama itu ditempati sejumlah anggota TNI, seluruh bangunan tersebut masih menampakkan keaslian.

Masih di area yang sama, terdapat sebuah makam Belanda (Kerkoff) yang berlokasi tak jauh dari bekas asrama KNIL. Saat ini, dari 50 makam yang ada sebelumnya, hanya tersisa tujuh makam saja dengan kondisi tak terawat.

Di bagian lain, ditemukan pula bekas penjara dari masa penjajahan Belanda. Saat ini, bekas penjara itu terhalang kandang ayam.

Pelaksana Tugas Kepala Seksi Permuseuman dan Kepurbakalaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Indramayu, Suparto Agus Tinus menyebutkan, setidaknya tercatat 218 cagar budaya se-Kabupaten Indramayu. Ke-218 cagar budaya itu telah diinventarisir melalui SK Bupati Indramayu Nomor 432.1/Kep.93.4-Disparbud/2018 tentang Penetapan Inventarisir Benda, Struktur, Bangunan, dan/atau Situs Cagar Budaya.

"Dari ratusan cagar budaya itu, sebagian besar merupakan bangunan cagar budaya dan sisanya benda cagar budaya. Hampir semuanya memprihatinkan," ungkap Tinus di sela mengamati Gedong Duwur, Kamis (1/8/2019).

AYO BACA : Festival Topeng Jawa Barat, Upaya Tahan Laju Industri Hiburan

Selain kondisi bangunan yang tak terawat, imbuhnya, tak sedikit bangunan cagar budaya di Indramayu telah beralih fungsi dan berubah bentuk. Kondisi itu sebab ketidakpahaman pihak yang merenovasi cagar budaya bersangkutan.

Dia menerangkan, cagar budaya di Indramayu meliputi peninggalan pada era Islam, Cina, kolonial Belanda, hingga kemerdekaan. Dia meyakini, bila terpelihara baik, sejarah Indramayu pun dapat terkuak lebih dalam.

Sejauh ini, upaya perlindungan terhadap cagar budaya di Indramayu melalui penerbitan SK bupati yang menginventarisir tiap-tiap keberadaannya. Meski, diakuinya, sampai sekarang rekomendasi Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) belum ada.

Ketiadaan TACB di Indramayu pun tak ditampik Tinus sebagai salah satu kelemahan. Selain itu, problem klasik berupa anggaran yang minim untuk pemeliharaan cagar budaya.

Di Indramayu, anggaran pemeliharaan cagar budaya hanya Rp500 juta/tahun. Dari jumlah itu, sebesar Rp485 juta dialokasikan sebagai honor juru pelihara cagar budaya.

"Itupun belum mencakup semua juru pelihara di 218 cagar budaya, apalagi untuk pemeliharaan cagar budayanya sendiri," beber Tinus.

Sementara, upaya perlindungan lain yang dilakukan pihaknya dengan meregistrasi cagar budaya ke Kemendikbud. Sejauh ini, dari 218 cagar budaya, baru 158 yang terdaftar.

AYO BACA : Sappu Jagad, Kalpataru, dan Serentetan Inspirasi Sutarjo Untuk Bumi


  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar