Yamaha NMax

Lipkhas Batik Peranakan Cirebon: Entitas Segala Rasa (Bag. 1)

  Jumat, 02 Agustus 2019   Erika Lia
Indrawati atau Gouw Yang Giok (75) menunjukkan salah satu contoh batik peranakan Cirebon yang diproduksinya di kawasan Jalan Kanoman, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon. (Erika Lia/Ayocirebon.com)

LEMAHWUNGKUK, AYOCIREBON.COM -- Batik Trusmi di Cirebon yang dikolaborasikan dengan kisah kehidupan warga Tionghoa melahirkan karya yang dikenal sebagai batik peranakan. Sebuah produk akal dan budi yang mengafirmasikan kesejatian budaya.

Belum ada fakta autentik ihwal kelahiran batik peranakan. Namun, eksistensinya disebut-sebut dimulai sejak masa kolonialisme Belanda.

Salah satu pelaku bisnis batik peranakan Cirebon yang juga sesepuh warga Tionghoa di Kota Cirebon, Indrawati atau Gouw Yang Giok (75) menuturkan, batik peranakan merupakan konsekuensi dari aktivitas niaga yang terjadi pada masa lampau.

Perkembangan batik sendiri diyakini bermula dari Pekalongan di Jawa Tengah, sebelum kemudian menyebar ke kawasan pantai utara yang menjadi jalur perdagangan di era penjajahan Belanda.

"Di zaman Belanda, batik sudah ada. Dimulai dari Pekalongan dan menyebar ke kawasan pantai utara Jawa, seperti Lasem, Cirebon, Indramayu," katanya kepada Ayocirebon.com.

Batik tetap berkembang pada masa pendudukan Jepang. Di masa ini, imbuhnya, lahir kain batik yang dikenal dengan sebutan batik pagi sore.

Wanita yang akrab disapa Ibu Giok atau Ci Giok ini menerangkan, kain batik pagi sore adalah satu kain batik yang dibuat dengan dua sisi berbeda. Sesuai namanya, kain batik pagi sore dikenakan si pemakainya untuk pagi dan sore hari.

"Waktu itu tekstil sedang susah. Nah, untuk menyiasati keterbatasan pakaian, dibuatlah batik pagi sore. Satu kain batik bisa dikenakan pada pagi hari pada satu sisi, dan sisi lainnya untuk sore hari," paparnya.

Seusai perang dengan Jepang atau persis setelah merdeka sekitar 1946, diketahui banyak warga Tionghoa di Indonesia yang pula membatik. Inilah yang kemudian diyakini mendasari munculnya istilah batik peranakan.

Di lingkungan keluarga Indrawati sendiri, aktivitas membatik telah dikenal jauh sebelum istilah batik peranakan diyakini muncul pertama kali. Pasalnya, pada 5 September 1934, sang ayah, Gouw Tjin Liang, beroleh izin dari Sultan Sepuh Keraton Cirebon untuk membatik dengan pola batik keraton, seperti patran kangkung atau keris.

Legalitas itu dituangkan di atas kertas yang disimpan baik-baik oleh Indrawati hingga kini. Lembaran kertas buram yang menampakkan pula tanda tangan Sultan Sepuh Keraton Cirebon itu, bahkan dibingkai dan dipajang Indrawati untuk diperlihatkan kepada umum.

AYO BACA : Lipkhas Kampung Pecinan Cirebon: Pendaratan Cheng Ho dan Warisan Masa Blackout Atas Kecarubanan

Menurutnya, izin sultan sepuh itu dimungkinkan tak lepas dari sejarah keluarganya yang masih keturunan Keraton Cirebon. Konon, nenek buyut Indrawati berasal dari Keraton Kanoman Cirebon yang kemudian menikah dengan warga Tionghoa di Trusmi, Kabupaten Cirebon.

"Kakeu buyut saya itu berjualan obat batik di Trusmi. Ketemu nenek buyut saya yang rupanya bisa membatik. Kemudian mereka menjalankan usaha batik di Trusmi," beber wanita yang masih lincah usia senjanya ini.

Indrawati sendiri merupakan generasi keempat dari usaha batik peranakan yang ditekuni keluarganya turun temurun. Saat ini, setidaknya se-Wilayah Cirebon yang terdiri dari lima daerah yakni Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan, keluarga Indrawati kemungkinan besar menjadi satu-satunya pelaku batik peranakan.

Bila digambarkan sederhana, batik peranakan sendiri merupakan hasil kombinasi motif batik lokal dan Tionghoa. Khusus batik peranakan Cirebon, motif yang digunakan tentunya berupa motif-motif lokal Cirebon, seperti motif batik Trusmi hingga motif keratonan Cirebon, yang dikolaborasikan dengan cerita-cerita Tionghoa.

Batik peranakan yang dibuat Indrawati salah satunya, semisal kain batik bermotif mega mendung yang dikombinasikan sosok Laksamana Cheng Ho dan ekspedisi niaganya yang epik, maupun cap go meh. Atau, motif keratonan Cirebon yang diharmonisasi dengan gambar burung phoenix yang megah.

Motif batik semacam itu sendiri terkategori batik kuno yang dibuat dengan cara tulis (batik tulis). Saat ini, batik kuno menghadapi ancaman antusiasme konsumen.

"Batik-batik kuno sekarang jarang yang mau, terutama di kalangan anak muda. Mereka lebih milih batik cap atau printing yang warnanya lebih terang dan motifnya yang kekinian," ungkapnya.

Indrawati yang memiliki dua toko batik, masing-masing Lina's Batik dan Kanoman Batik di Jalan Kanoman, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, ini menyebut, tren penjualan batik tulis pun kini tak melebihi batik cap. Sejak sekitar 2009, batik cap mendominasi penjualan hingga 60%.

Popularisme batik kuno di kalangan konsumen sendiri terbatas, yakni pada usia 50 tahunan. Kebanyakan batik kuno berupa lembaran kain, lain halnya dengan batik cap yang dominan dalam bentuk pakaian jadi.

Tingginya minat kaum muda terhadap batik cap dimungkinkan karena harganya yang lebih murah dibanding batik tulis. Indrawati menyebutkan, harga batik tulis halus dimulai dari Rp2 juta, sedangkan batik tulis kasar berkisar Rp500.000 sampai Rp1 juta.

"Batik cap harganya memang lebih murah karena prosesnya pun tak serumit batik tulis. Rata-rata batik cap seharga Rp150.000-Rp250.000," ujarnya.

AYO BACA : Lipkhas Kampung Pecinan Cirebon : Cheng Ho dan Warisan Masa Blackout Terhadap Kecarubanan

Ketika ditemui Ayocirebon.com, Indrawati didampingi sang anak, Monic Adriani. Dari dua toko yang dimilikinya, Indrawati menyerahkan pengelolaan Kanoman Batik yang mengkhususkan pada batik cap kepada Monic.

Kanoman Batik diketahui memang menyasar anak muda, sebagaimana spesifikasi batik yang ditawarkannya. Sementara Indrawati memilih membantu sang adik, Gouw Yenny, mengelola Lina's Batik dengan spesifikasi batik tulis.

Tingginya tren batik cap, di sisi lain, mengkhawatirkan Indrawati. Dia cemas akan kemungkinan hilangnya batik sebagai budaya Indonesia yang kini telah diakui dunia.

Karena itu, dirinya menyiasati dengan tetap memasukkan motif-motif batik khas pada produk-produk pakaian batik cap yang dibuatnya. Dia bahkan memadupadankan motif nusantara lain, seperti lurik atau tenun, agar eksistensi motif nusantara tak tersapu zaman.

"Kami juga eksplorasi model pakaian batik cap untuk menyesuaikan tren fesyen kaum muda. Bukan soal bisnis, tapi bagaimana agar batik tidak hilang," tegasnya.

Indrawati mengingatkan, batik merupakan produk budaya nasional, termasuk batik peranakan sebagai hasil akulturasi budaya yang ada di Indonesia.

Tak hanya tantangan untuk memuaskan konsumen muda. Di sisi lain, batik peranakan pun menghadapi ancaman seragam seperti dunia batik pada umumnya.

Minimnya minat kaum muda untuk membatik telah menjadi momok tersendiri bagi para pelaku industri  kerajinan ini. Batik peranakan yang digeluti Indrawati mempekerjakan 15 orang pebatik berusia 40-60 tahun, yang bekerja di rumah masing-masing.

"Tidak ada pebatik yang muda. Ada sih pebatik yang usianya di bawah 40 tahun, tapi dia tidak mau menghabiskan waktu dengan membatik," tuturnya.

Untuk ini, Indrawati memiliki cara tersendiri agar pebatik muda berminat membatik. Melalui 'negosiasi', Indrawati biasanya memfasilitasi kebutuhan pebatik muda.

"Kalau dia (pebatik muda) ingin sekolah, saya fasilitasi biaya pendidikannya. Hanya dengan perjanjian, dia mau membatik. Nanti membatiknya pun terserah dia, saya bebaskan motifnya supaya dia bisa berekspresi seluasnya," paparnya.

Sejauh ini, dia mengaku, upaya meregenerasi pebatik itu terbilang efektif. Biasanya, pebatik muda yang dia fasilitasi merupakan anak-anak dari pebatik-pebatik yang bekerja kepadanya.

Indrawati berharap, kelak pebatik-pebatik muda itu akan tetap mengangkat batik ke permukaan. Dirinya tak menghendaki batik punah suatu hari nanti karena tergerus zaman.

"Jangan sampai batik punah," pesannya.

AYO BACA : Gedong Duwur, Kemegahan Sejarah yang Terpinggirkan di Indramayu


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar