bank bjb
  
Yamaha

Harga Garam Terperosok, Petani Diminta Hasilkan Garam Kualitas Satu

  Jumat, 02 Agustus 2019   Erika Lia
Harga Garam Terperosok, Petani Diminta Hasilkan Garam Kualitas Satu
Pekerja menyelesaikan pembuatan garam tradisional di Kampung Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (12/4/2019). (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)

INDRAMAYU, AYOCIREBON.COM -- Memasuki Agustus, harga garam di tingkat petambak di Cirebon dan Indramayu semakin terperosok. Petani garam didesak meningkatkan kualitasnya.

Saat ini, harga garam di tingkat petani rata-rata Rp250/kg. Untuk garam kualitas satu, harganya berkisar Rp300-Rp350 per kilogram.

"Itu kalau laku, nyatanya sekarang masih banyak yang menumpuk di gudang akibat tak laku," ungkap Ketua Asosiasi Petani Garam (Apgasi) Jawa Barat, M Taufik, Jumat (2/8/2019).

Menghadapi situasi yang dinilai semakin tak menguntungkan para petani garam, 6 Agustus mendatang rencananya akan dibuat MoU antara petani garam dengan Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI) di Kemenperin RI, Jakarta. AIPGI rencananya langsung menyerap garam para petani.

Hanya, imbuhnya, garam yang akan diserap hanya berkualitas satu. Langkah ini dipandang dapat meningkatkan harga jual garam di tingkat petani.

"Harapan kami, harga garam kualitas satu di tingkat petani minimal Rp1.000/kg. Petani garam yang tidak mau berubah dan tetap mempertahankan produksi garam kualitas tiga, ya memang akan ketinggalan," tegasnya.

Karena itu, dia berharap para petambak bersedia mengubah pola produksi untuk meningkatkan mutu produksi garam menjadi kualitas satu. Untuk ini, petani garam diingatkan menerapkan teknologi geo membran yang akan meningkatkan hasilnya, baik kualitas maupun kuantitas.

Di antara Cirebon dan Indramayu, ungkapnya, sejauh ini petani garam yang menghasilkan garam kualitas satu lebih banyak ditemukan di Kabupaten Indramayu. Sementara di Kabupaten Cirebon, petani yang menghasilkan garam kualitas satu baru sekitar 40% dari luas lahan sedikitnya 1.800 hektar.

Terpisah, Kepala Bidang Perikanan Budaya Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Indramayu, Edi Umaedi mengaku, selama ini terus menyalurkan bantuan kepada petani garam demi meningkatkan kualitasnya. Tak heran, kuantitas dan kualitas garam petani di Indramayu meningkat signifikan.

"Beberapa tahun lalu, untuk sekali masa produksi hanya menghasilkan sekitar 60 ton/hektar. Tapi sekarang bisa  117 ton/hektar," ujarnya.

Dia meyakinkan, kualitas garam yang diproduksi sejumlah petani di Indramayu pun sudah dapat menyaingi garam impor. Tak heran, garam-garam itu bisa diserap untuk keperluan industri.

Para petani garam pun diminta tetap menjaga kualitas garam produksinya. Koperasi garam juga diingatkan untuk bersatu agar harga garam tetap baik, minimal Rp1.000/kg.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar