Yamaha Aerox

Menjangkau Asa di Lemahwungkuk (2): Mengayun Angklung Melantun Gaung Rasa

  Selasa, 13 Agustus 2019   Erika Lia
Sejumlah warga dan pegawai tengah berlatih angklung di pendopo Kantor Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, sebagai program pemberdayaan masyarakat jelang penetapan kampung batik RW 17 Kriyan Barat sebagai tujuan wisata. (Erika Lia/Ayocirebon.com)

LEMAHWUNGKUK, AYOCIREBON.COM--Sektor pariwisata tengah naik pamor di Kota Cirebon. Menjadi salah satu dari lima kecamatan di Kota Udang, Lemahwungkuk yang memiliki potensi wisata alam maupun kesenian menggairahkan diri mengiringi geliat itu.

Dengan luas 6,53 km2, Kecamatan Lemahwungkuk terdiri dari empat kelurahan, masing-masing Pegambiran, Panjunan, Kesepuhan, dan Lemahwungkuk. Dari jumlah lima kecamatan se-Kota Cirebon, Kantor Kecamatan Lemahwungkuk menjadi satu-satunya yang memiliki pendopo di bagian depan yang telah ada sejak sekitar 1994.

Bersamaan dengan trendingnya isu pariwisata di kota ini, pendopo itu belakangan diramaikan dengan alunan musik angklung. Dimainkan sejumlah warga maupun pegawai kecamatan, latihan angklung itu merupakan persiapan diri Kecamatan Lemahwungkuk menjadi kantong wisata.

Setidaknya satu kampung di Kecamatan Lemahwungkuk, yakni RW 17 Kriyan Barat di Kelurahan Pegambiran, diproyeksikan sebagai kampung wisata. Dengan keunikannya, praktis proyeksi itu harus beroleh atensi pemangku kebijakan maupun masyarakat setempat.

\"(Latihan angklung) sebagai dukungan atas rencana Pemkot Cirebon menjadikan RW 17 Kriyan Barat sebagai kampung wisata,\" jelas Camat Lemahwungkuk, Ma'ruf Nuryasa kepada Ayocirebom.com.

Minggu ini menjadi pekan kedua latihan angklung digelar. Rutin dilaksanakan pada Senin dan Kamis, satu kelompok angklung berisi delapan orang. Siapapun dipersilakan mengikutinya dengan cukup datang ke kantor kecamatan setempat.

Rencananya, tak hanya latihan angklung, pihaknya juga akan membuka kelas bahasa Inggris gratis. Kelas tersebut akan memfokuskan pada latihan percakapan (conversation) dalam bahasa Inggris.

\"Latihan bahasa Inggris ini juga tidak lepas karena ada dua keraton di Kecamatan Lemahwungkuk, masing-masing Keraton Kanoman dan Keraton Kasepuhan. Selama ini kedua keraton banyak dikunjungi wisatawan asing,\" ucapnya.

Selain kedua keraton dan potensi wisata religi maupun sejarah berupa situs-situs, Kecamatan Lemahwungkuk diperkaya potensi wisata alam, salah satunya dengan keberadaan Pantai Kejawanan. Secara keseluruhan, dari tujuh kilometer total panjang garis pantai pesisir Kota Cirebon, 60% di antaranya merupakan wilayah kecamatan ini.

AYO BACA : Menjangkau Asa di Lemahwungkuk: Balita Itu Bernama Batik Kriyan

Ma'ruf mengakui, menyambut rencana pembentukan kampung wisata dibutuhkan beragam upaya, salah satunya pemberdayaan masyarakat setempat. Pihaknya tengah menyiapkan masyarakat agar memiliki skill yang mendukung sektor pariwisata ini, termasuk mengembangkan sadar wisata dalam diri masyarakat.

 Dukungan infrastruktur pun diperlukan agar orang mau datang. Pihaknya bahkan mengagendakan paket pariwisata.

\"Kalau mau dikunjungi orang, wilayah ini harus dibikin nyaman dulu,\" cetusnya.

Di RW 17 Kriyan Barat sendiri, sebagaimana diketahui terdapat kerajinan Batik Kriyan yang tengah digiatkan warga sekitar. Keberadaan kerajinan yang dibuat dengan pewarna alam inilah yang menyematkan status kampung batik pada Kriyan Barat.

Selain batik, RW 17 Kriyan Barat juga rupanya ditetapkan sebagai Kampung KB oleh Wali Kota Cirebon, Nashrudin Azis pada 2017. Kampung ini juga memiliki bank sampah hingga pojok baca untuk meningkatkan budaya literasi masyarakat sekitar, termasuk anak-anak.

\"Di Kriyan Barat itu sebelumnya banyak persoalan sosial, seperti angka penganggurannya tinggi,\" ungkap Sekretaris Camat Lemahwungkuk, Masduri yang turut mendampingi Ma'ruf.

Dia melanjutkan, perubahan ke arah lebih baik pun dikehendaki masyarakat sekitar. Sayangnya, mereka ketika itu belum menemukan kreasi yang menonjol, yang bisa mengubah kondisi sosial di sana.

Sampai kemudian, datanglah perwakilan Korea Art & Culture Education Service (KACES), sebuah badan publik di bawah Kementerian Kebudayaan Olahraga dan Pariwisata Korea Selatan, yang menyasar program pemberdayaan masyarakat. Dari nol, warga Kriyan Barat pun difasilitasi membatik.

Hingga kini, Batik Kriyan yang oleh KACES disebut Batik Story, telah dipasarkan hingga keluar negeri, meski dalam jumlah terbatas. Dengan motif ikonik berupa kembang kersem/kersen, Batik Kriyan 'rajin' diikutsertakan dalam pameran-pameran.

\"Total penjualan memang belum banyak, belum begitu signifikan memengaruhi perekonomian masyarakat. Tapi, (batik) ini baru tumbuh dan kami optimis,\" tandasnya.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar

-->