Yamaha NMax

Sebuah Rumah di Bandung Jadi Karya Arsitektur Bung Karno

  Kamis, 15 Agustus 2019   Nur Khansa Ranawati
Rumah buatan Bung Karno di Jalan Dewi Sartika No. 107, Kota Bandung. (Nur Khansa Ranawati/Ayobandung.com)

BANDUNG, AYOCIREBON.COM -- Mungkin tak semua orang mengetahui bahwa presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno alias Bung Karno juga merupakan seorang arsitek. Beliau sempat mengenyam pendidikan tinggi di Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB) dan lulus pada 1926. Jurusan yang diambil adalah teknik sipil.

Berdasarkan keterangan dalam buku Bung Karno Sang Arsitek : Kajian Artistik Karya Arsitektur, Tata Ruang Kota, Kria, Simbol, Mode Busana dan Teks Pidato 1926-1965 (2005), Bung Karno dikatakan sempat mendapat bimbingan dari Profesor CP Wolff Schoemaker--arsitek asal Belanda yang banyak merancang bangunan di Hindia-Belanda--dalam mata kuliah Menggambar Arsitektur. Bahkan, Bung Karno muda juga sempat magang pada biro arsitek milik sang profesor.

Pada masa magang tersebutlah, Bung Karno sempat diberi kesempatan untuk mengembangkan desain paviliun Hotel Preanger yang kala itu tengah direnovasi. Selain desain hotel, pada era 1926-1945, dirinya juga diketahui telah menorehkan rancangan desainnya untuk membangun sejumlah rumah tinggal, yang beberapa di antaranya terdapat di Kota Bandung.

Salah satu rumah rancangan Bung Karno di Bandung yang masih ditinggali hingga saat ini terletak di Jalan Dewi Sartika nomor 107, tepatnya di belakang Terminal Kebon Kalapa, tak jauh dari mal ITC. Bila dilihat sekilas dari luar, rumah tersebut memiliki gaya bangunan khas era kolonial.

Ayobandung.com menyempatkan diri menyambangi rumah tersebut, Rabu (14/8/2019) sore. Meski suasana di luar rumah nampak sepi dengan taman yang tak lagi ditumbuhi rerumputan, namun kesan asri masih terpancar dari rumah bercat putih gading dengan daun pintu dan kusen jendela berwarna krem pudar tersebut. Bendera merah putih sudah terpasang di tiang bendera.

"Rumah ini sudah hampir 100 tahun berdiri, benar dibuatnya oleh Soekarno," ungkap salah satu penghuni rumah, Oktri Argina. Kala itu, kami duduk di bagian depan rumah yang difungsikan sebagai ruang tamu. Bak masuk ke dalam mesin waktu, interior di dalam ruangan tersebut diakui belum diganti sejak awal rumah berdiri. Suasana vintage kental terasa di setiap sudut ruangan.

Sofa cokelat dengan rangka besi yang kami duduki, Oktri mengatakan, sudah ada di sana sejak awal rumah ini berdiri pada 1922-an. Begitu pula lampu berwarna hijau botol yang masih menggantung di langit-langit.

Lantai yang terpasang di sebagian besar bangunan rumah pun masih tersusun dari tegel 'jadul' berwarna merah bata dan kuning. Sama halnya dengan kulkas berwarna hijau pudar di seberang ruangan, yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu dan masih berfungsi hingga saat ini.

Sebagaimana halnya rumah-rumah bergaya kolonial Belanda lainnya, langit-langit rumah tersebut didesain tinggi sehingga suasana sejuk tercipta di setiap ruangan.

"Dulunya yang punya rumah ini, temannya Soekarno. Anak-anaknya ada 10 orang, sudah pada berkeluarga dan masing-masing pindah, enggak lagi tinggal di sini," ungkapnya.

AYO BACA : Sosok Pengibar Bendera Merah Putih Pertama di Kota Cirebon

Oktri yang masih merupakan kerabat dekat dari pemilik rumah sehari-hari tinggal bersama ibu, saudara dan anaknya. Rumah tersebut terbilang sangat luas untuk menampung satu keluarga kecil, mengingat di dalamnya terdapat total 7 kamar tidur dan 5 kamar mandi. Meski demikian, saat ini tidak seluruhnya berfungsi.

Dirinya bercerita tentang awal keluarganya tinggal menghuni rumah tersebut beberapa tahun lalu. Rumah ini sempat ditinggal kosong selama kurang lebih 5 tahun setelah sang pemilik rumah--yakni ibu dari 10 anak tersebut--meninggal dunia.

Karena lama tak dirawat, rumput dan ilalang tumbuh tak beraturan di halaman rumah. Cat rumah pun nampak mengelupas di beberapa bagian. Tak jarang, warga sekitar merasa ketakutan ketika berjalan melewati rumah tersebut.

"Dulu mah katanya tetangga di sini, kalau lewat depan rumah suka lari-lari. Ketakutan. Sekarang sudah ada yang ninggalin jadi lebih hangat," ungkapnya.

Disinggung mengenai pengalaman 'mistis' di rumah tersebut, Oktri mengatakan dirinya dan keluarga tak pernah mengalaminya sama sekali.

"Ah cuek aja enggak pernah ada apa-apa, anak-anaknya sih kadang suka takut kalau tinggal di sini sendirian, makannya suka menginap pas Lebaran rame-rame. Alhamdulillah enggak pernah ada yang ganggu," jelasnya seraya tertawa.

Semi-Outdoor

Saat diajak berkeliling rumah, Ayobandung.com mendapati rumah tersebut terbagi ke dalam empat bagian besar; ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan dan kamar, serta taman dan kamar. Setelah melewati ruang tamu, terdapat ruang keluarga yang sehari-harinya difungsikan untuk berkumpul sembari menonton televisi. Sekat menuju ruang makan dipisah oleh pintu yang masih mengadopsi warna krem pudar.

Area ruang makan tersebut terbilang cukup unik dan berbeda bila dibandingkan denga rata-rata rumah tinggal saat ini. Pasalnya, meja makan dan dapur berada di area semi-outdoor dan menyatu dengan area taman samping rumah. Dua buah kamar dengan kusen pintu yang sama dan aksen ventilasi kaca patri menambah suasana 'jadul' rumah tersebut. Aksen kaca patri juga ditemui di beberapa bagian pintu rumah.

Sekilas, rumah tersebut berakhir di ruang makan. Namun, sang penghuni kemudian membuka pintu salah satu ruangan yang ternyata merupakan lorong penghubung ke area taman. Area tersebut terbilang luas, dengan deretan kamar di sisi kiri dan area taman dengan kolam di sisi kanan. Sayangnya, taman tersebut tidak difungsikan sehari-hari karena kondisinya yang cukup membahayakan dan belum dapat direnovasi.

AYO BACA : Representasi Heroisme dari Bendera Merah Putih Tertua di Cirebon

"Ada pohon yang tumbuh di salah satu dinding kamar saking lembabnya dan dindingnya roboh. Saya sih takutnya sama yang roboh begitu," ungkapnya.

Meski sekilas nampak asri, namun bagian dalam rumah tersebut membutuhkan renovasi di banyak bagian, terutama bagian dinding dan langit-langit.

Bagian Cagar Budaya Kota Bandung

Oktri mengakui, dirinya sempat mengikuti rapat sosialisasi cagar budaya dari Dinas Parwisata dan Kebudayaan Kota Bandung mengenai cagar budaya. Rumah tersebut memiliki semacam surat keterangan yang menerangkan bahwa bangunannya termasuk ke dalam kategori cagar budaya beberapa bulan lalu.

Bila merujuk pada RTRW Kota Bandung 2003-2013, Bandung memiliki enam kawasan cagar budaya yang terdiri dari Kawasan Pusat Kota Bersejarah, Kawasan Pecinan, Kawasan Etnik Sunda, Kawasan Perumahan Villa, Kawasan Industri dan Kawasan Pertahan dan Keamanan. Jalan Dewi Sartika tergolong ke dalam kawasan cagar Budaya Etnik Sunda.

Selain itu, rumah ini juga telah memenuhi aspek nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan serta telah berumur sekurang-kurangnya 50 tahun (UU No.5 tahun 1992 tentang Cagar Budaya). Oleh karena itu, Oktri mengatakan, rumah tersebut sebisa mungkin harus tetap dipertahankan bentuk aslinya.

"Enggak boleh dipugar depannya, dibiarkan begini saja. Kalau belakangnya sih boleh," jelasnya.

Meski tergolong sebagai bagian dari Cagar Budaya Kota Bandung, dirinya mengakui bahwa pihaknya belum mendapat potongan Pajak Bumi dan Bangunan dan pemerintah kota.

Tim Pelestarian Cagar Budaya Kota Bandung, Harastoeti Dibyo Hartono mengatakan, pemilik bagunan pribadi yang masuk ke dalam Cagar Budaya saat ini dapat membuat ajuan ke Disparbud kota untuk dicatatkan ke dalam dokumentasi cagar budaya, serta bisa mendapatkan kompensasi berupa pemotongan PBB sebagai kompensasi kewajiban pemeliharaan.

"Saat ini baru ada penetapan potongan PBB 35% untuk cagar budaya kategori A, 30% untuk kategori B, dan 25% untuk kategori C. Kalau Peraturan Daerah baru sudah terbit, pemotongannya akan sebesar 70%, 60% dan 50%," ungkapnya pada ayobandung.com beberapa waktu lalu.

Meski demikian, dirinya mengakui saat ini belum banyak pemilik bangunan cagar budaya yang memahami bahwa bangunan yang ditempatinya termasuk ke dalam bagunan bersejarah dan oleh karenanya sosialisasi lebih lanjut harus terus digencarkan.

AYO BACA : Lais, Isu Gender, dan Keterlibatan Roh


  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar