Yamaha Aerox

Harmonisasi Cirebon dan Amerika Kembalikan Kesenian yang Nyaris Punah

  Kamis, 15 Agustus 2019   Erika Lia
Dalang cilik asal Kota Cirebon, Galih Wisnu Permadi mempertontonkan keahliannya memainkan wayang kulit dalam pagelaran seni bertema Memayu Agung Budaya Ingsun di Keraton Kacirebonan, Rabu (14/8/2019) malam. (Erika Lia/Ayocirebon.com)

PEKALIPAN, AYOCIREBON.COM -- Lima dalang wayang kulit Gagrak Cirebon dihadirkan dalam pagelaran seni bertema Memayu Agung Budaya Ingsun di Keraton Kacirebonan. Sebuah upaya menghidupkan kesenian yang nyaris punah yang dilakoni pelaku seni asal Cirebon dan Amerika.

Dari kelima dalang, seorang di antaranya masih duduk di bangku kelas 3 SD, yakni Galih Wisnu Permadi. Selain Galih, empat dalang lain dalam pagelaran yang berlangsung Rabu (14/8/2019) malam itu, masing-masing P.H. Tomi Iplaludin, P. Iyan Ariffudin, E. Agung Wijaya Karsa, dan Ki Dalang Pulana.

Mereka memainkan lakon Kumbakarna Gugur, Sumantri Ngenger, Prabu Kangsa Jaya, dan Sukrasana Gugur. Selain wayang kulit, dipertunjukkan pula Tari Jembar Agung dari Sanggar Seni Klapa Jajar, Keraton Kanoman Cirebon.

AYO BACA : Sebuah Rumah di Bandung Jadi Karya Arsitektur Bung Karno

Ketua Griya Budaya Keraton Kacirebonan, P.H Tomi Iplaludin menyebutkan, pagelaran tersebut merupakan tanda persahabatan antara Keraton Kacirebonan dengan sebuah sanggar asal Santa Barbara, California, Amerika Serikat.

"Kami hadirkan tiga kesenian Cirebon yang hampir punah," katanya.

Ketiganya kesenian itu masing-masing tarian, Gong Renteng, dan pagelaran Wayang Kulit Gagrak Cirebon. Griya Budaya yang mendapat dukungan penuh Keraton Kacirebonan sendiri dalam hal ini memiliki program pelestarian dan apresiasi seni tradisi.

AYO BACA : Sosok Pengibar Bendera Merah Putih Pertama di Kota Cirebon

Berkaitan dengan itu, pihaknya mengajak pemerintah daerah bersinergi menguatkan ekosistem kesenian lokal. Dia mengingatkan, kesenian menjadi salah satu aspek penting dalam kehidupan yang kerap dipandang sebelah mata.

"Kami berusaha memicu kesadaran masyarakat akan pentingnya pengetahuan kesenian itu sendiri," tambahnya.

Sementara itu, Direktur Sanggar Sinar Surya Santa Barbara, Richard Eric North atau akrab disapa Mama Eric mengaku, telah jatuh cinta pada kesenian Cirebon pada kedatangan dan perkenalannya dengan budaya kota ini menjelang akhir 1970an. Namun, dia mengaku prihatin mengamati perkembangan sejumlah kesenian khas Cirebon telah nyaris punah.

"Saya kecewa beberapa kesenian tradisional Cirebon nyaris punah, seperti Gong Renteng, Gong Sekati, Degung dari sembilan lagu menjadi satu lagu," ungkap pria bergelar profesor di Amerika ini.

Mama Eric yang awalnya sekedar menyukai gamelan ini kemudian termotivasi mengembalikan kejayaan kesenian Cirebon yang pernah dijumpainya dulu untuk generasi muda. Melalui pagelaran kali ini, ia menghendaki kesenian khas Cirebon seperti wayang kulit maupun gong renteng menjadi menarik dan tak punah.

AYO BACA : Representasi Heroisme dari Bendera Merah Putih Tertua di Cirebon


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar