Yamaha Mio S

Abrasi Gerus Pantai Indramayu, Nelayan Terdampak

  Sabtu, 07 September 2019   Erika Lia
Ilustrasi—Salah satu anggota keluarga yang masih bertahan, Pasijah (50), beraktivitas di rumahnya yang terletak di antara rumah-rumah yang ditinggalkan penghuninya karena abrasi di Dusun Rejosari Senik, Bedono, Sayung, Demak, Jawa Tengah, Kamis (22/8/2019). (ANTARA FOTO/Aji Styawan/hp)

INDRAMAYU, AYOCIREBON.COM—Puluhan kilometer garis pantai Kabupaten Indramayu tergerus abrasi. Untuk mengatasinya, diperlukan breakwater.

Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu Edi Umaedi menyebutkan, panjang garis pantai di Kabupaten Indramayu mencapai 147 kilometer. Pada 2017, sepanjang 42,60 km di antaranya mengalami abrasi.

"Dari 42,60 km pantai yang abrasi itu, sepanjang 18,28 km telah ditangani dengan dibuat breakwater," katanya.

Sementara itu, sisanya yang mencapai 24,32 km belum tertangani. Namun, pihaknya belum mengetahui data terbaru tahun ini karena Pemkab Indramayu tak lagi berwenang atas masalah itu.

Dia menerangkan, sebagaimana Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, garis pantai 0–12 mil laut merupakan kewenangan pemerintah provinsi. Sementara, 12 mil ke atas menjadi kewenangan pemerintah pusat.

Pihaknya, imbuh dia, sebatas menyarankan penanganan abrasi kepada pemerintah pusat maupun Pemprov Jawa Barat, melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung dan BBWS Citarum.

"Tahun ini kami mengusulkan pembuatan breakwater di titik-titik yang mengalami abrasi pantai," ujarnya.

Dia menyebutkan, titik-titik yang diusulkan itu di antaranya Tegalagung dan Krangkeng di Kecamatan Krangkeng, Desa Ujung Gebang, di Kecamatan Sukra, Desa Dadap di Kecamatan Juntinyuat, maupun Desa Eretan Wetan dan Eretan Kulon di Kecamatan Kandanghaur.

Dia meyakinkan, abrasi di Kabupaten Indramayu harus beroleh atensi besar. Garis pantai di Indramayu terhitung panjang sehingga akan berdampak pada permukiman maupun lahan tambak dan sawah warga.

Terlebih, peluang terjadinya abrasi semakin hari semakin tinggi, sebagai efek pemanasan global. Meningkatnya suhu udara mendorong makin tingginya penguapan air laut.

Dalam situasi itu, perbedaan kelembapan antara di darat dan laut semakin tinggi pula. Tak ubahnya dengan kecepatan angin yang semakin tinggi pula dan memperbesar risiko terjadinya abrasi.

Sementara itu, abrasi yang melanda pesisir Indramayu, salah satunya dikeluhkan para nelayan sebab telah membuat kehidupan mereka terganggu.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Indramayu Dedi Aryanto menuturkan, abrasi telah membuat nelayan yang bermukim di dekat pesisir pantai harus merasakan dampak rob. Rumah sebagian mereka bahkan tergerus abrasi.

"Butuh biaya besar untuk membangun rumah lagi, apalagi kalau lahannya juga sampai hilang tergerus abrasi," cetusnya.

Abrasi, imbuhnya, terjadi akibat ketiadaan tanaman atau objek di pesisir pantai. Kondisi itu juga menyebabkan benih-benih ikan berkurang akibat ikan tak punya tempat untuk berkembang biak.

Praktis, pendapatan para nelayan pun berkurang mengingat jumlah tangkapan menurun. Mereka harus melaut hingga ke wilayah lain untuk menangkap ikan agar jumlahnya lebih banyak.

Dia menyebutkan, abrasi di Indramayu telah terjadi sejak puluhan tahun lalu. Pihaknya berharap pemerintan mengatasi problem ini secepatnya.


  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar

-->