Yamaha

Belajar Bercampur Debu, Ini Kisah Siswa SDN 2 Kalianyar Indramayu

  Senin, 09 September 2019   Erika Lia
Siswa SDN 2 Kalianyar belajar di tengah suasana yang tak nyaman karena kelas mereka rusak. (Erika Lia/Ayocirebon.com)

INDRAMAYU, AYOCIREBON.COM -- Ruang kelas berdebu menjadi hal lumrah beberapa waktu belakangan ini bagi para siswa kelas 3 SDN Kalianyar II, Desa Kalianyar, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu.

Debu yang diterbangkan angin dari areal persawahan yang mengering selama musim kemarau ini di samping sekolah itu, sebenarnya telah mengganggu para siswa. Debu-debu itu menyeruak masuk ke arah mata maupun hidung mereka.

Para siswa mengaku tak nyaman dengan kondisi itu. Debu yang dibawa angin menambah keparahan keadaan kelas.

Lantai yang sebagiannya terkelupas, bagian bawah dinding yang menampakkan bata merahnya yang lapuk dan retak-retak. Tak hanya itu, sebagian kaca jendela kelas pecah dan langit-langit ruangan tersebut pun berlubang.

Bukan saja ruang kelas yang secara keseluruhan memprihatinkan, sarana belajar para siswa juga tak lebih baik. Sebagian kursi memperdengarkan kereotan khas kayu, sedangkan permukaan beberapa meja tampak tak mulus.

Tak hanya ruang kelas 3, ruang kelas 4 di sekolah yang sama bahkan lebih parah. Pihak sekolah kemudian memutuskan tak lagi menggunakannya sebagai ruang belajar.

Siswa kelas 4 kini belajar di ruangan lain yang sebelumnya merupakan perpustakaan. Perpustakaan sendiri kini memanfaatkan ruang guru

Cerita berbeda dialami siswa kelas 2 yang harus masuk siang karena harus bergantian dengan siswa kelas 1. Seluruhnya karena ruang-ruang kelas mereka tak layak digunakan sebagai ruang belajar.

"Tidak enak kelasnya karena banyak debu," ungkap seorang siswa kelas 3 Agus.

Agus mengharapkan ruang belajarnya diperbaiki agar dia dan teman-temannya bisa belajar dengan nyaman.

Sementara, salah seorang guru yang mengajar mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan (PJOK) di SDN Kalianyar II, Vindy Ferdiansyah tak menampik, situasi itu tak menyamankan para siswa maupun tenaga pengajar.

"Tak cuma tidak nyaman, bisa mengganggu kesehatan anak-anak juga karena debu selama kemarau ini. Sementara kalau musim hujan, kelasnya bocor," tuturnya.

Dia tak dapat memastikan waktu mula kerusakan itu terjadi pada ruang-ruang kelas. Sejak dia mengajar ke sekolah yang dibangun pada 1983 itu pada lima tahun lalu, dia sudah melihat kerusakan ruang-ruang kelas tersebut.

Selama itulah, lanjutnya, belum ada renovasi pada SDN II Kalianyar. Sejauh ini, menurut Dinas Pendidikan (Disdik) setempat, perbaikan dijanjikan baru akan dilakukan pada 2020 nanti.

Diketahui, dari total 886 SD di Kabupaten Indramayu, 30% di antaranya membutuhkan perbaikan, salah satunya SDN Kalianyar II. Sayang, keterbatasan anggaran menjadi salah satu alasan perbaikan harus dilakukan bertahap

"Ada 886 SD di Indramayu yang rusak dan 30% di antaranya rusak," ungkap Kepala Bidang Pembinaan SD Disdik Kabupaten Indramayu, Malik Ibrahim pada Juli 2019.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar