Yamaha NMax

Fingerprint Nyi Mas Pakungwati, Tanda Eksistensi Karuhun dan Upaya Pencariannya

  Senin, 16 September 2019   Erika Lia
Situs Pasanggrahan Nyi Mas Pakungwati di Desa Cikeduk, Kecamatan Depok, Kabupaten Cirebon, yang diyakini sebagai salah satu persinggahan saat dalam pelarian. (Erika Lia/Ayocirebon.com)

DEPOK, AYOCIREBON.COM -- Nama Nyi Mas Pakungwati dikenal sebagai istri Sunan Gunung Jati. Sebuah batu yang diyakini sebagai jejak tapaknya kala berkontemplasi dipelihara sebagai penghormatan atas eksistensi karuhun.

Di salah satu bagian dari Makam Asem di Desa Cikeduk, Kecamatan Depok, Kabupaten Cirebon, sebuah batu kali (andesit) memperlihatkan jejak jari tangan (fingerprint) yang dipercaya sebagai milik Nyi Mas Pakungwati.

"Itu jejak jari telunjuk dan jari tengah dari tangan kanan Nyi Mas Pakungwati," kata salah seorang candrik dari Kelompok Sadar Kebuyutan binaan Keraton Kasepuhan Cirebon, Ade Irfan kepada ayocirebon.com, Senin (16/9/2019).

Keberadaan batu kali seukuran satu genggaman tangan orang dewasa itu menjadikan salah satu bagian Makam Asem sebagai Situs Pasanggrahan Nyi Mas Pakungwati.

Batu fingerprint Nyi Mas Pakungwati, menurut Ade, telah ditemukan setidaknya lima generasi ke belakang sebelum dirinya. Sebelum 2017, batu itu dikenal masyarakat sekitar hanya sekedar sebagai batu buyut, sebutan untuk batu bersejarah yang diyakini sebagai tapak jejak karuhun.

"Kemudian, pada 2017 oleh tim Kelompok Sadar Kebuyutan Keraton Kasepuhan, batu itu diteliti," ujarnya.

Penelitian yang dimaksud Ade meliputi pencarian data dalam naskah-naskah kuno hingga melibatkan ilmu metafisika dalam tim tersebut.

Sebagai anggota tim candrik, Ade bertugas untuk melakukan survei dan mencari tanda-tanda di sekitar lokasi yang diduga sebagai situs. Selain memotret dan mendata, dia harus mengamati tanda-tanda yang di antaranya meliputi keberadaan pohon, sungai, balong/kolam, maupun sumur, di sekitar lokasi.

"Yang saya temukan, di sekitar situs fingerprint Nyi Mas Pakungwati itu di antaranya terdapat tiga pohon kamboja, di sekitarnya juga banyak tumbuhan bambu, dan makam-makam tanpa ahli waris," cetusnya.

Setelah mengumpulkan data, dia pun melaporkan hasilnya kepada tim lain yang secara struktur kelompok berada di atasnya. Biasanya, setelah pendataan oleh candrik, anggota tim lain yang mendalami ilmu metafisika mendatangi lokasi.

Tak hanya metafisika, anggota tim lain yang mempelajari naskah-naskah kuno juga turut turun ke lapangan sebagai pemilik data primer. Hasil keseluruhan proses itulah yang kemudian menentukan sebuah benda situs atau bukan.

"Waktu itu, anggota tim metafisika menemukan jejak yang diduga Nyi Mas Pakungwati. Sementara, dari tim naskah menemukan tanda-tanda yang disebutkan dalam naskah kuno," bebernya.

Dia menerangkan, tanda-tanda yang ditemukan tim naskah itu berasal dari naskah yang mengisahkan perjalanan bertapa Nyi Mas Pakungwati ke sejumlah daerah di Cirebon. Secara garis besar, naskah itu menceritakan pelarian Nyi Mas Pakungwati yang meninggalkan Keraton Cirebon karena merasa tersakiti dengan pernikahan kembali Sunan Gunung Jati dengan Ong Tien, seorang putri dari Tiongkok.

Di dalam naskah itu disebutkan tiga saka tatal atau penyangga dari setiap pasanggrahan yang disinggahi Nyi Mas Pakungwati. Dalam kasus ini, menurut Ade, kelompoknya menemukan tiga pohon kamboja di sekitar batu fingerprint.

Ketiga pohon kamboja itu pun dinilai sebagai penegas, batu kali tersebut merupakan sebuah situs peninggalan Nyi Mas Pakungwati. Batu fingerprint itu sampai kini dilestarikan sebagai situs yang mengingatkan akan keberadaan karuhun.

Selain batu fingerprint, di sekitar situs itu terdapat pula punden berundak atau teras berundak yang menyerupai makam. Makam-makam ini, sebut Ade yang hampir turun temurun tinggal di Desa Cikeduk, terindikasi kuat tanpa ahli waris.

Berbeda dengan makam lain yang berada di area Makam Asem, sepengamatannya tak ada sesiapapun yang menziarahi makam-makam di sekitar situs pasanggrahan Nyi Mas Pakungwati. Makam-makam di sekitar situs itu kuat diduga merupakan makam prajurit-prajurit yang menyertai perjalanan Nyi Mas Pakungwati.

"Karena tata letaknya teratur rapi, beda dengan makam umum lainnya yang tersebar sembarang," cetusnya.

Di antara makam-makam yang diduga makam prajurit itu, imbuh Ade, disinyalir pula terdapat sebuah makom. Berbeda dengan makam yang berisi jenazah manusia, makom berisi benda-benda, di antaranya senjata perang.

"Di situ juga ada makom yang kata kakek buyut saya isinya senjata perang milik prajurit Nyi Mas Pakungwati dan peralatan makan minum. Cuma ya tidak tahu, Wallahualam bissawab (Allah Swt yang Maha Tahu sesungguhnya)," tuturnya.

Selain di Desa Cikeduk, Nyi Mas Pakungwati juga singgah di sejumlah desa se-Kabupaten Cirebon, khususnya di bagian selatan-barat. Hal ini pula diketahui dari benda-benda yang ditinggalkannya.

Belum diketahui pasti pula kelanjutan pelarian Nyi Mas Pakungwati. Menurut Ade, kisah Nyi Mas Pakungwati termasuk dalam sejarah peteng, yang oleh warga Cirebon dikenal sebagai sejarah yang masih 'gelap' (peteng = gelap).

Namun begitu, sejauh ini disebut-sebut Nyi Mas Pakungwati hidup hingga sekitar 100 tahun. Tak ada anak sebagai hasil pernikahannya dengan Sunan Gunung Jati.

Wanita ini sendiri merupakan putri dari Pangeran Cakrabuana dari Kerajaan Pajajaran dan istrinya, Nyi Endang Geulis dari Galuh. Dengan kata lain, Nyi Mas Pakungwati merupakan cucu dari penguasa Pajajaran kala itu, Prabu Siliwangi yang merupakan ayah dari Pangeran Cakrabuana, seorang pangeran yang membuka lahan (babad alas) Cirebon.

Bagi Ade, merupakan sebuah kepuasan bisa melibatkan diri dalam pencarian jejak-jejak karuhun atau yang disebutnya kebuyutan. Kepuasannya itu berhubungan dengan keinginannya mengenali leluhur bangsa.

"Kalau bukan kita yang menjaga sejarah, siapa lagi," tegasnya.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar