Yamaha NMax

Sejumlah Konflik SARA di Indonesia, Selain Wamena

  Jumat, 04 Oktober 2019   Istihanah Soejoethi
Ilustrasi konflik. (Antara)

JAKARTA, AYOCIREBON.COM -- Kerusuhan yang terjadi di Wamena, Papua, menyisakan trauma mendalam bagi para korban. Tercatat, kurang lebih sebanyak 11 ribu meninggalkan Wamena untuk kembali ke tanah asal.

Nah, selain di Wamena, beberapa daerah lain juga pernah terjadi kerusuhan dipicu isu Suku, Agama, dan Ras (SARA). Dilansir dari beberapa sumber, berikut 5 konflik karena isu SARA yang pernah terjadi di Indonesia.

Konflik Antar Suku di Sampit (2001)

Pada 2001 silam, terjadi konik antara suku di Sampit. Tragedi itu dapat dikatakan sebagai kerusuhan paling mengerikan yang pernah terjadi diĀ  Indonesia.

Penyebab konflik ini diduga akibat adanya warga Dayak yang dibantai oleh Warga Madura yang menetap di sana. Versi lain mengatakan jika kedua suku saling membakar rumah dan mengakibatkan Suku Dayak yang memenuhi hampir semua wilayah Kalimantan Tengah murka.

Karena tragedi ini 500 orang dikabarkan meninggal dunia, 100 di antaranya mengalami pemenggalan kepala oleh Suku Dayak. Pemenggalan ini dilakukan oleh Suku Dayak karena mereka ingin mempertahankan wilayah yang saat itu mulai dikuasai oleh Suku Madura.

Pihak Kepolisian setempat sebenarnya sudah menangkap orang-orang yang dianggap sebagai dalang dari kerusuhan. Namun setelah ditangkap, Kantor Polisi justru dikepung oleh Suku Dayak hingga Polisi tepaksa melepaskan kembali tahanan. Konflik yang terjadi di tahun 2001 ini akhirnya berakhir setelah setahun berlangsung.

Konflik antar agama di Ambon (1999)

Satu tahun pasca reformasi, Indonesia kembali menjadi perhatian. Hal ini dikarenakan adanya konflik agama yang terjadi di Ambon sekitar tahun 1999.

Konflik ini akhirnya meluas dan menjadi kerusuhan buruk antara agama Islam dan Kristen yang berakhir dengan banyaknya orang meninggal dunia. Orang-orang dari kelompok Islam dan Kristen saling serang dan berusaha menunjukkan kekuatannya.

Awalnya, konflik ini dianggap sebagai konflik biasa. Namun, muncul sebuah dugaan jika ada pihak yang sengaja merencanakan dengan memanfaatkan isu yang ada. Selain itu, TNI yang saat itu masih bernama ABRI juga tak bisa menangani dengan baik, bahkan diduga sengaja melakukannya agar konflik terus berlanjut dan mengalihkan isu-isu besar lainnya.

Kerusuhan yang terjadi di Ambon membuat kerukunan antar umat beragama di Indonesia jadi memanas hingga waktu yang cukup lama.

Konflik antar etnis (1998)

Di penghujung era orde baru terjadi kerusuhan yang menjadi konflik antar etnis di Indonesia. Hal ini awalnya dipicu oleh krisis moneter yang membuat banyak sektor di Indonesia runtuh.

Namun lambat laun kerusuhan menjadi semakin mengerikan hingga berujung pada konflik antara etnis pribumi dan etnis Tionghoa. Kerusuhan melebar dan menyebabkan banyak aset-aset miliki etnis Tionghoa dijarah dan juga dibakar karena kemarahan.

Selain menjarah dan membakar banyak hal penting dari etnis Tionghoa. Mereka juga melakukan tindak kekerasan kepada para wanita dari etnis ini. Kasus pelecehan seksual banyak dilaporkan hingga kasus pembunuhan pun tak bisa dihindari.

Konflik golongan agama (2000-an)

Pada tahun 2000-an terjadi konflik yang melibatkan golongan Agama, yaitu Ahmadiyah dan Syiah. Kerusuhan ini bermula saat, golongan Ahmadiyah mengalami banyak sekali tekanan dari kelompok mayoritas di wilayahnya.

Mereka dianggap menyimpang hingga akhirnya diusir, rumah ibadah dan warga dibakar hingga aksi kekerasan lainnya. Jemaah dari Ahmadiyah dipaksa kembali ke ajaran asli dan meninggalkan ajaran lamanya.

Selain Ahmadiyah, Syiah juga ditekan di Indonesia. Kelompok ini dianggap sesat dan harus diwaspadai dengan serius.

Namun, masyarakat terlalu ekstrem hingga banyak melakukan kekerasan pada kelompok ini mulai dai pembakaran rumah ibadah hingga pesantren. Hal ini dilakukan dengan dalih agar Islam di Indonesia tidak tercemar oleh ajaran pengikut Syiah.

Konflik Antar Golongan dan Pemerintah (GAM, RMS, dan OPM)

Konflik antara Gerakan Aceh Merdeka atau GAM dengan pemerintah sempat menjadi perhatian internasional. Konflik ini terjadi akibat banyak dari milisi GAM menginginkan lepas dari Indonesia.

Sayangnya pemerintah tak mau hingga adu kekuatan terjadi selama bertahun-tahun.

Konflik ini akhirnya selesai setelah muncul sebuah kesepakatan yang salah satunya adalah membuat Aceh menjadi daerah otonomi khusus.

Selain GAM adalah lagi RMS atau Republik Maluku Selatan dan Operasi Papua Merdeka atau OPM. Kelompok ini menginginkan merdeka dan lepas dari Indonesia. Untuk memenuhi hasrat ini tindakan-tindakan pemberontakan kerap terjadi dan membuat warga sekitar merasa sangat terganggu. Pasalnya gerakan separatis seperti ini hanya akan membuat situasi menjadi buruk.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar