Yamaha Mio S

Mengharap Berkah Air Siraman Panjang

  Senin, 04 November 2019   Erika Lia
Tradisi Siraman Panjang di Keraton Kasepuhan menjadi salah satu rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Cirebon. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

LEMAHWUNGKUK, AYOCIREBOM.COM -- Siraman Panjang menjadi salah satu tradisi menjelang Maulid Nabi Muhammad SAW (Muludan) di Cirebon. Dalam ritual yang berarti mencuci piring maupun benda pusaka lainnya ini, air bekas cucian kerapkali menjadi rebutan warga.

Tiga dari keraton di Cirebon setiap tahun menggelar prosesi siraman panjang menjelang Muludan. Siraman panjang menjadi salah satu rangkaian dalam peringatan ini, yang pada puncaknya nanti dihelatlah tradisi Panjang Jimat serupa pawai peringatan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Di Keraton Kasepuhan Cirebon khususnya, tradisi ini dilaksanakan setiap memasuki bulan Maulud atau Rabiul Awal dalam penanggalan Islam, tepatnya 5 Maulud. Tahun ini, Siraman Panjang jatuh pada Senin (4/11/2019).

AYO BACA: Wakare, Antara Tradisi dan Unjukrasa Kampung Wates

AYO BACA: Lais, Isu Gender, dan Keterlibatan Roh

Dalam tradisi ini, puluhan benda pusaka peninggalan para wali yang menyebarkan agama Islam yang disimpan di keraton, dibersihkan dengan cara dicuci menggunakan air.

Melalui suatu ritual yang disertai doa-doa dan pepakem keraton, puluhan pusaka itu dicuci dengan khidmat di Bangsal Pungkuran Keputren Keraton Kasepuhan.

Setidaknya terdapat sembilan piring berusia sekitar 700 tahun dan 40 piring bertulisan kaligrafi berusia sekitar 600 tahun yang dibersihkan.

Selain piring, dua buah guci berusia sekitar 700 tahun serta dua buah botol kristal berusia sekitar 500 tahun turut dicuci.

Prosesi siraman panjang dibuka dengan iring-iringan abdi dalem yang membawa benda pusaka. Setiap benda terbungkus kain putih, yang diambil dari tempat penyimpanannya di gudang pusaka, di bagian belakang Bangsal Pungkuran Keputren.

Di Bangsal Pungkuran Keputren, semua benda pusaka diletakkan di atas meja. Di tengah ruangan sendiri telah disiapkan sebuah bak kayu berisi air.

Dalam prosesi itu, keluarga dan kerabat keraton duduk mengelilinginya. Setiap pusaka dicuci dibarengi tawasul dan solawat, sebelum kemudian diakhiri doa bersama.

"Piring-piring yang dicuci dalam Siraman Panjang ini akan dijadikan tempat nasi jimat," terang Sultan Keraton Kasepuhan Cirebon, Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat seusai kegiatan.

Sementara, guci akan diisi air serbat atau air gula. Baik nasi jimat maupun air serbat itu selanjutnya dibagikan kepada masyarakat.

Prosesi siraman panjang sendiri beroleh atensi besar dari masyarakat. Sejak pagi sebelum kegiatan dilaksanakan, ratusan orang menanti di depan pintu Bangsal Pungkuran Keputren dan sekitarnya.

Tanpa keberatan mereka berdesakan. Seraya membawa botol kosong atau wadah air lain, seperti plastik, baskom, bahkan ember, mereka dengan sabar menanti prosesi rampung.

Penantian mereka baru berakhir ketika pintu bangsal terbuka. Berebutan, mereka mencoba memasuki bangsal dan menuju bak air.

Air bekas cucian pusaka itu yang mereka tuju. Dianggap mengandung keberkahan, salah satunya menyembuhkan penyakit, warga pun berlomba-lomba menampung air sebanyaknya dengan wadah yang telah mereka siapkan.

Tak sedikit di antara mereka yang membasuh wajah dengan air itu. Bahkan, sebagian lain menyiramkannya langsung ke sekujur tubuh.

siraman-panjang-kasepuhan2

Arief menyebut, sejak tradisi ini dilaksanakan, 'lomba' mengambil air bekas cucian itu menjadi salah satu kebiasaan pasca prosesi.

Meski tiada pembuktian ilmiah atas kandungan air tersebut, Arief mengatakan, keyakinan terhadap keberkahan yang dikandung air tersebut bisa jadi tak lepas dari nilai-nilai kebajikan pada benda-benda pusaka.

Dia menyebutkan, benda-benda yang dicuci itu dipakai para Wali Sanga (Sembilan Wali). Di permukaannya, tercetak tulisan kaligrafi berupa kalimat-kalimat baik, seperti syahadat maupun sholawat.

"Kalimat baik itu diyakini berimbas pada air yang digunakan untuk membasuh piring dan benda pusaka lain. Apalagi selama prosesi, seruan tawasul dan sholawat juga mengiringinya," paparnya.

Menurutnya, pada siraman panjang, air memiliki makna penting, terutama dalam ajaran Islam. Hampir semua makhluk hidup berunsur air atau setidaknya 80% tubuh manusia berupa cairan.

Selain itu, imbuhnya, Nabi Muhammad Saw selalu mendoakan orang sakit menggunakan media air.

AYO BACA: Kisah Pilu di Balik Tradisi Azan Pitu

"Berwudhu dengan air, mandi dengan air, dan meninggal juga dibersihkan dengan air," tegasnya.

Meski menilai pengambilan air oleh warga sebagai bagian tak terpisahkan dari tradisi tersebut, pihaknya berharap ketertiban dalam pelaksanaannya.

"Kalau tertib kan sebenarnya enak. Tapi, karena sudah tradisi, ya mau bagaimana lagi," tandasnya.

Sementara itu, salah seorang warga asal Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon, Caswan mengaku, sengaja datang ke keraton untuk mengambil air bekas cucian dengan beberapa botol plastik yang dibawanya.

"Katanya airnya punya berkah. Semoga tahun ini rezeki saya dan keluarga nambah," harapnya.

AYO BACA: Ratusan Warga Rebutan Uang Koin di Tradisi Tawurji

AYO BACA: Tari Topeng Simpan Filosofi Kehidupan Manusia


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar

-->